Radarsampit.jawapos.com – Bagi sebagian orang, sepeda hanyalah alat olahraga atau kendaraan alternatif saat akhir pekan.
Tapi di banyak belahan dunia, sepeda bukan sekadar itu. Ia menjadi harapan, penyelamat, bahkan simbol kebebasan.
Di kota besar, sepeda memang sedang naik daun sebagai gaya hidup. Tapi di daerah terpencil di Afrika, Asia, hingga pelosok Indonesia, sepeda punya arti yang jauh lebih dalam.
Sepeda bisa mengantar anak-anak ke sekolah, petugas medis menjangkau pasien, hingga membuka peluang ekonomi keluarga.
Sebuah riset dari organisasi World Bicycle Relief mencatat, kehadiran sepeda di wilayah pedesaan Zambia mampu menurunkan angka ketidakhadiran siswa hingga nol persen.
Sementara itu, petugas kesehatan yang mendapat sepeda bisa mengunjungi lebih banyak rumah, bahkan naik hingga 60 persen.
Sepeda memperpendek jarak, mempercepat waktu, dan menyambungkan pelayanan dasar ke tempat yang sebelumnya sulit dijangkau.
Tak hanya itu, sepeda juga membawa pesan kesetaraan. Sejak era Susan B. Anthony di abad ke-19, sepeda sudah dianggap sebagai simbol pembebasan perempuan.
Kini, komunitas seperti Black Girls Do Bike di Amerika Serikat mengangkat semangat yang sama mendorong perempuan kulit hitam untuk mengambil ruang, percaya diri, dan berdaya melalui sepeda.
Dari sisi lingkungan, sepeda jelas jadi solusi. Tanpa emisi, tanpa polusi. Saat dunia menghadapi krisis iklim, sepeda bisa jadi jawaban sederhana tapi berdampak besar.
Kota-kota di Eropa sudah lama mengandalkan sepeda sebagai moda utama.
Copenhagen, misalnya, bahkan punya program Cycling Without Age relawan bersepeda membawa lansia berkeliling, menyambungkan generasi muda dan tua lewat kayuhan yang hangat.
Tak kalah penting, sepeda juga menyehatkan. Cukup satu jam bersepeda dalam seminggu, risiko penyakit sendi bisa ditekan.
Bersepeda juga meningkatkan kebugaran dan memperpanjang usia. Bonusnya, pikiran lebih rileks, tubuh lebih bugar.
Di Indonesia, sepeda sempat booming saat pandemi. Jalanan ramai dengan pesepeda, dari anak-anak sampai orang tua.
Tapi di luar tren itu, sepeda tetap jadi andalan banyak warga desa. Mengantar hasil panen ke pasar, membawa anak ke sekolah, atau sekadar menempuh perjalanan jauh tanpa harus mengeluarkan ongkos.
Sepeda memang sederhana. Tapi di balik dua rodanya, ia membawa dampak besar. Ia murah, tak butuh bahan bakar, dan bisa dimiliki siapa saja.
Ia bebas, tak terikat aturan macet atau bensin. Dan ya, ia menyelamatkan baik bagi manusia, maupun bumi tempat kita tinggal. (*)
Editor : Slamet Harmoko