Radarsampit.jawapos.com – Musim kemarau belum lengkap tanpa melihat layangan melayang tinggi di langit.
Bagi sebagian orang, ini sekadar permainan. Tapi siapa sangka, di balik benang dan kerangka bambu itu tersimpan sejarah panjang bahkan ribuan tahun lamanya.
Ya, layangan bukan sekadar hiburan. Ia adalah warisan budaya yang hidup dan terus terbang lintas zaman.
Ternyata Bukan dari Tiongkok Saja
Selama ini banyak yang percaya layangan berasal dari Tiongkok. Memang, catatan tertua di negeri tirai bambu menyebutkan layangan sudah dimainkan sejak 2.500 tahun lalu, saat Dinasti Han berkuasa.
Tapi, catatan sejarah justru menunjukkan bahwa Indonesia juga punya bukti awal budaya layang-layang, bahkan lebih tua dari itu.
Di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, para arkeolog menemukan lukisan gua purba yang menggambarkan sosok mirip layangan.
Bentuknya sederhana, dibuat dari daun dan diikat tali, diyakini sudah ada sejak zaman Mesolitikum.
“Ini adalah salah satu bukti bahwa nenek moyang kita telah mengenal konsep aerodinamika sederhana jauh sebelum teknologi modern berkembang,” tulis Pusat Arkeologi Nasional dalam riset tahun 2019.
Layangan di Setiap Sudut Nusantara
Beragam daerah di Indonesia memiliki versi layangan masing-masing, lengkap dengan fungsi dan filosofi yang berbeda.
Bali – Layangan bukan cuma permainan, tapi juga media persembahan. Festival Layang-Layang Bali rutin digelar tiap musim kemarau. Bentuknya bisa seperti naga, ikan, hingga burung mitologis.
Jawa Tengah dan Yogyakarta – Permainan adu layangan jadi hiburan rakyat sejak zaman kolonial. Teknik benang gelasan (dilapisi pecahan kaca halus) pun berkembang dari sini.
Kalimantan Selatan – Anak-anak Dayak memainkan halap, layangan tradisional berbentuk lonjong. Permainannya sering dihubungkan dengan keberanian dan kecerdikan.
Sumatera Barat – Ada layangan unik bernama layang-layang itik yang bersuara saat terbang, karena dilengkapi alat dari pelepah yang menghasilkan siulan angin.
Baca Juga: Benang Layangan Kembali Makan Korban, Pengendara Motor Luka Parah di Kepala
Dari Tradisi ke Seni
Seiring waktu, layangan tidak hanya jadi permainan, tapi juga media seni. Bentuknya kian beragam: dari karakter kartun, tokoh budaya, hingga desain modern berteknologi tinggi seperti layangan LED, kamera udara, dan akrobatik (stunt kite).
Bahkan di Jakarta, berdiri Museum Layang-Layang Indonesia, tempat menyimpan ratusan koleksi layangan tradisional dan kontemporer dari berbagai daerah dan negara.
Layangan Bisa Jadi Masalah
Meski menyenangkan, permainan ini juga punya sisi kelam. Penggunaan benang gelasan kerap menyebabkan kecelakaan. Di Jakarta dan Surabaya, polisi mencatat sejumlah kasus luka hingga meninggal akibat benang layangan yang melukai pengendara motor.
Pemerintah pun mengimbau masyarakat untuk lebih bijak. “Main layangan itu boleh, tapi jangan sampai membahayakan orang lain,” kata Dinas Perhubungan DKI Jakarta dalam kampanye keselamatan jalan.
Simbol Harapan yang Tak Pernah Padam
Meski zaman berubah, semangat menerbangkan layangan tetap hidup. Ia menjadi simbol kreativitas, kebebasan, dan harapan. Dari langit sawah di desa hingga langit kota besar, layangan terus terbang—menjaga hubungan antara manusia, budaya, dan alam. (*)
Editor : Slamet Harmoko