Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Pria Dua Kali Lebih Berisiko Meninggal Akibat Broken Heart Syndrome

Usay Nor Rahmad • Minggu, 20 Juli 2025 | 06:20 WIB
Ilustrasi (Akal Imitasi)
Ilustrasi (Akal Imitasi)

Radarsampit.jawapos.com – Pernah dengar istilah “broken heart syndrome”? Secara medis dikenal sebagai takotsubo cardiomyopathy, kondisi ini terjadi ketika hati mendadak melemah akibat stres emosional atau fisik ekstrem dan bisa memicu kematian, terutama pada pria.

Sebuah studi besar yang diterbitkan Journal of the American Heart Association menganalisis data hampir 200.000 pasien dewasa di AS antara 2016–2020.

Hasilnya mencengangkan: pria yang terdiagnosis kondisi ini memiliki angka kematian hingga 11,2%, lebih dari dua kali lipat dibanding wanita (5,5%) dilansir dari sfchronicle.com.

Angka kematian total mencapai sekitar 6,5%, tanpa penurunan signifikan selama lima tahun pemantauan neurosciencenews.com.

Dampak Stres: Mengapa Pria Bisa Lebih Parah?

Pria umumnya mengalami broken heart syndrome akibat stres fisik seperti operasi, infeksi berat, atau stroke. Sementara pada wanita, stres emosional seperti kehilangan pasangan lebih sering menjadi pemicu.

Dari nbclosangeles.com, stres biologis ini diperkirakan menghasilkan lonjakan hormon seperti adrenalin dalam jumlah besar, yang dapat memperparah kondisi jantung.

Selain itu, pria sering menunda mencari bantuan medis saat muncul gejala seperti nyeri dada atau sesak napas.

Perilaku ini dapat memperparah prognosis karena terlambat didiagnosis dan ditangani ScienceAlert.

Komplikasi Serius yang Menyertai

Dikutip dari sfchronicle.com, Sebagian pasien mengalami komplikasi berat, antara lain gagal jantung kongestif (35,9%), fibrilasi atrium (20,7%), syok kardiogenik (6,6%), stroke (5,3%), dan henti jantung (3,4%.

Meskipun sebagian besar kasus bersifat sementara, komplikasi ini tetap memicu risiko fatal bagi sebagian pasien.

Gejala dan Cara Penanganan Awal

Takotsubo cardiomyopathy sering disalahartikan sebagai serangan jantung karena gejala yang mirip, seperti nyeri dada tiba-tiba, sesak napas, dan palpitasi.

Namun, tidak ditemukan penyumbatan arteri seperti pada kasus jantung koroner biasa.

Penanganannya bersifat suportif: istirahat, pemantauan ketat di rumah sakit, serta obat beta-blocker atau ACE inhibitor jika diperlukan.

Recovery umumnya terjadi dalam beberapa minggu, namun deteksi dini dan dukungan sosial sangat berperan penting.

Apa Saran Pentingnya?

1. Jangan Abaikan Gejala
Saat merasakan nyeri dada, sesak, atau lemas setelah peristiwa stres emosional atau fisik, segera periksakan ke dokter.

2. Buka Diri Bercerita atau Cari Dukungan
Pria cenderung kurang mencari bantuan sosial padahal dukungan emosional dapat meningkatkan peluang pulih dengan baik.

3. Kelola Stres Secara Sehat
Tidur cukup (7-9 jam), rutin olahraga ringan, dan teknik relaksasi terbukti membantu menjaga kondisi jantung tetap stabil.

4. Awasi Kondisi Penyerta
Tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, atau penyakit jantung sebelumnya bisa meningkatkan risiko. Monitor kesehatan secara rutin dan ikuti anjuran medis.

Walau lebih sering menyerang wanita, broken heart syndrome justru lebih mematikan bagi pria. Pria yang mengalaminya memiliki kemungkinan dua kali lebih besar meninggal dibanding wanita.

Kunci utama? Deteksi dini, respons cepat, dan dukungan sehat dapat menjadi penentu hidup atau mati. (*)

Editor : Slamet Harmoko
#broken heart syndrome #serangan jantung #laki-laki