SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Rabu siang (25/3/2026).
Peristiwa ini memperkuat peringatan dini dari BMKG terkait tingginya potensi kebakaran di wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam mengungkapkan, pihaknya menerima laporan kebakaran lahan di Jalan Ir Soekarno, Kecamatan Baamang, sekitar siang hari.
“Pukul 15.23 api sudah bisa diblokir,” ujarnya.
Meski api berhasil dikendalikan, kejadian ini menambah daftar titik panas (hotspot) yang sebelumnya terdeteksi di wilayah Kotim.
Berdasarkan data BMKG, dalam 24 jam terakhir memang terpantau sejumlah hotspot yang tersebar di beberapa kecamatan, termasuk wilayah sekitar Baamang.
Tak hanya itu, BPBD juga menerima laporan kebakaran lahan di lokasi lain. Kali ini berada di Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.
“Selain di Ir Soekarno, kami juga menerima laporan kebakaran di Desa Eka Bahurui. Kami masih melacak titik koordinatnya,” kata Multazam.
Kejadian beruntun ini sejalan dengan analisis BMKG yang menyebut sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah saat ini berada dalam kategori sangat mudah terbakar.
Kondisi tersebut dipicu oleh cuaca kering, suhu panas, serta minimnya curah hujan dalam beberapa hari terakhir.
Meski terdapat potensi pertumbuhan awan hujan dengan kategori sedang, kondisi itu dinilai belum cukup untuk menekan risiko kebakaran secara signifikan. Bahkan, prakiraan cuaca menunjukkan sebagian wilayah Kotim masih didominasi kondisi berawan hingga kering.
Situasi ini menjadi alarm serius. Kemunculan hotspot yang berujung pada kejadian kebakaran riil di lapangan menunjukkan bahwa potensi yang diprediksi BMKG mulai terjadi.
BPBD Kotim pun mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Selain berbahaya, tindakan tersebut juga berpotensi memicu kebakaran meluas, terutama di lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan.
Dengan meningkatnya kejadian kebakaran di dua titik berbeda dalam satu hari, kewaspadaan semua pihak kembali diuji.
Jika tidak dikendalikan sejak dini, bukan tidak mungkin kasus karhutla di Kotim akan kembali meluas seperti tahun-tahun sebelumnya.(oes)
Editor : Slamet Harmoko