PALANGKA RAYA - Menjelang waktu berbuka puasa, deretan lapak di Pasar Ramadan di Jalan Adonis Samad, Kota Palangka Raya, dipadati pembeli yang berburu takjil. Di antara banyaknya penjual makanan, lapak milik Hamisah tampak berbeda.
Bukan sekadar menjajakan kue yang sudah siap santap, perempuan ini justru memasak kue Bingka langsung di depan pembeli.
Lapak yang diberi nama Bingka si Kembar itu menampilkan pemandangan yang jarang ditemui di tempat lain. Di atas meja berukuran sekitar 1x3 meter, berderet loyang berisi Bingka panas yang baru matang. Di belakangnya terlihat oven gas dan pemanggang sederhana yang dibuat dari potongan drum.
Dari tempat inilah Hamisah meracik sekaligus memasak kue khas Banjar tersebut. Ia menawarkan berbagai varian rasa, mulai dari kentang, tapai, nangka, durian hingga kelapa muda.
Bagi Hamisah, membuat Bingka yang lezat tidak hanya bergantung pada bahan. Proses memasak hingga cara penyajian juga memiliki peran penting.
“Kalau bahan-bahannya sebenarnya sama saja dengan Bingka di tempat lain, paling takarannya saja yang berbeda. Yang saya bikin beda itu cara penyajiannya, karena saya masak langsung di depan pembeli,” ujarnya.
Proses pembuatan dimulai dengan menuangkan adonan ke dalam loyang, kemudian dipanggang di oven gas hingga setengah matang. Setelah itu, kue dipindahkan ke pemanggang bara untuk memberikan aroma asap yang lembut sekaligus menghasilkan tekstur yang lebih lembut.
Sambil melayani pembeli, Hamisah sesekali membuka oven dan mengipasi bara api agar panasnya merata. Menurutnya, besar kecilnya api harus diperhatikan agar kue matang sempurna dan tetap menjaga kualitas rasa, tekstur, serta bentuk.
Ia juga tidak sembarangan memilih bahan bakar untuk pemanggang. Sabut atau tempurung kelapa menjadi pilihan karena menghasilkan panas tinggi dengan asap yang tidak terlalu banyak.
“Bingka itu identik lembek tapi tidak mudah hancur. Bentuk seperti itu tidak cuma dari kekentalan adonan, tapi dari proses masaknya juga,” jelasnya.
Keterampilan membuat Bingka didapat Hamisah secara otodidak. Ketertarikannya muncul setelah beberapa tahun membantu seorang pengusaha Bingka.
“Dulu sempat ikut orang jualan. Waktu itu bukan cuma menunggu dagangan, tapi juga ikut membuat kuenya. Dari situ saya belajar,” katanya.
Metode memasak langsung di tempat memang membuat prosesnya lebih lama, apalagi dilakukan setelah ada pesanan dari pembeli. Namun bagi Hamisah, waktu yang lebih panjang itu sepadan dengan rasa yang dihasilkan.
“Kalau dimakan saat masih hangat rasanya berbeda, lebih gurih. Apalagi untuk makanan pembuka saat berbuka puasa. Karena itu saya memilih memasaknya di tempat,” tuturnya.
Selain menjaga kualitas rasa, cara ini juga menjadi daya tarik tersendiri. Aroma harum Bingka yang dipanggang sering membuat orang yang lewat berhenti dan mendekat.
“Biasanya orang singgah karena mencium aromanya. Setelah lihat cara masaknya, mereka jadi tertarik membeli,” ucapnya.
Di luar bulan Ramadan, Hamisah lebih sering menerima pesanan dengan jumlah yang tidak menentu. Dalam sepekan, terkadang ia hanya membuat beberapa loyang saja.
Namun suasana berbeda dirasakannya selama Ramadan. Kehadiran Pasar Ramadan yang difasilitasi pemerintah membuka peluang lebih besar untuk menjual dagangannya.
Dalam sehari, belasan loyang Bingka bisa habis terjual. Meski harus bekerja lebih ekstra karena memasak langsung di depan pembeli, Hamisah mengaku senang melihat usahanya mulai menunjukkan hasil.
“Di Pasar Ramadan bisa laku belasan loyang sehari. Jadi rasa lelah memasak langsung rasanya terbayar dengan keuntungan,” pungkasnya. (yit)
Editor : Heru Prayitno