Ibu Hetty Noviani Emosi hingga Pingsan Saat Rekonstruksi Kasus Pembunuhan
Ria Mekar Anggreany• Senin, 23 Februari 2026 | 14:52 WIB
REKONSTRUKSI: Tersangka pembunuh Hetty Noviani saat memeragakan sejumlah adegan. (Ria Mekar/Radar Sampit)
NANGA BULIK, radarsampit.jawapos.com – Siang itu, udara di Jalan Maskaya Pangaruh, Gang Bakti III, Kelurahan Nanga Bulik, terasa lebih berat dari biasanya.
Garis polisi masih membentang di sekitar lokasi, sementara warga berkerumun menyaksikan jalannya rekonstruksi kasus pembunuhan yang merenggut nyawa Hetty Noviani (29).
Namun bukan hanya adegan demi adegan yang membuat suasana menegang. Tangis dan jeritan seorang ibu yang kehilangan putri semata wayangnya menjadi potret paling memilukan dalam proses hukum tersebut.
Rekonstruksi digelar pada Senin (23/2/2026), dipimpin langsung oleh Kasatreskrim Polres Lamandau, AKP Jhon Digul Manra. Belasan adegan diperagakan oleh tersangka Arif Prasetyo (30) untuk mencocokkan keterangannya dengan fakta di lapangan.
Ketika adegan kekerasan diperagakan, suasana berubah drastis. Ibu kandung korban yang sejak awal menyaksikan dengan mata sembab tak lagi mampu menahan emosinya. Tangis histeris pecah.
Ia berteriak, berusaha mendekat ke arah tersangka. Sejumlah petugas sigap menghalangi dan menenangkan keluarga agar proses rekonstruksi tetap berjalan.
Usai rangkaian adegan selesai, emosi sang ibu kembali memuncak. Ia sempat berusaha menghampiri tersangka sebelum akhirnya dilerai aparat.
Tak lama kemudian, ia jatuh pingsan dan langsung mendapat pertolongan dari keluarga serta petugas yang berada di lokasi.
Rangkaian Kejadian
Dalam keterangannya, AKP Jhon Digul Manra menjelaskan bahwa peristiwa pembunuhan terjadi pada Jumat, 23 Januari 2026, sekitar pukul 16.00 WIB. Motif sementara diduga dipicu cekcok terkait janji tersangka kepada korban.
Adegan awal dimulai dari pertemuan keduanya di Stadion Hinang Golloa. Korban disebut menagih janji tersangka yang sebelumnya berkomunikasi melalui WhatsApp.
Meski tersangka sempat beralasan kendaraannya bermasalah, korban tetap datang menemui di depan stadion.
Dari sana, keduanya bergerak menuju kawasan Bundaran Rusa sebelum akhirnya ke Gang Bakti III—lokasi yang relatif sepi.
Di tempat itulah perselisihan memuncak. Polisi menggambarkan terjadi kontak fisik antara keduanya yang berujung pada tindakan kekerasan fatal.
Setelah kejadian, tersangka disebut berupaya menyembunyikan tubuh korban di sekitar lokasi untuk menghilangkan jejak. Dua hari kemudian, pada Minggu (25/1/2026), warga menemukan jasad korban di dalam parit yang tertutup rumput ilalang.
Duka yang Belum Usai
Bagi keluarga, rekonstruksi bukan sekadar proses hukum. Ia adalah pengulangan luka. Setiap adegan yang diperagakan menjadi bayangan nyata detik-detik terakhir kehidupan Hetty.
Warga Nanga Bulik yang hadir pun tak sedikit yang menundukkan kepala. Kasus ini tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga mengguncang rasa aman masyarakat setempat.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa rekonstruksi dilakukan untuk memperjelas rangkaian peristiwa sebelum berkas perkara dilimpahkan ke tahap berikutnya. Proses hukum pun masih terus berjalan.
Sementara itu, di tengah hiruk-pikuk proses penyidikan, seorang ibu masih harus berjuang menerima kenyataan bahwa putrinya tak akan pernah kembali. (mex/sla)