Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Minat Warga Sampit Yang Merayakan Imlek 2577/2026.Penggunaan Aksesori Berkurang, Pemesanan Kue Keranjang Stabil

Yuni Pratiwi Iskandar • Selasa, 10 Februari 2026 | 22:15 WIB
Aneka pernak-pernik atau aksesori Imlek yang dijual di Toko Dupa Maju Jaya di Jalan D.I Panjaitan Sampit, Selasa (10/2).
Aneka pernak-pernik atau aksesori Imlek yang dijual di Toko Dupa Maju Jaya di Jalan D.I Panjaitan Sampit, Selasa (10/2).

 

SAMPITradarsampitjawapos.com-Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang jatuh pada Selasa, 17 Februari 2026 atau Tahun Kuda Api, penjualan pernak-pernik aksesoris Imlek di Kota Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terpantau menurun. Kondisi ini dirasakan langsung oleh Gustiana, pemilik Toko Dupa Maju Jaya di Jalan D.I Panjaitan Sampit.

Gustiana mengatakan, pada tahun-tahun sebelumnya, suasana toko biasanya mulai ramai sekitar 15 hari sebelum Imlek hingga sehari menjelang perayaan. Namun, kondisi tersebut tidak terjadi pada tahun ini.

“Kalau biasanya di tanggal segini sudah ramai, tahun ini sepi-sepi saja. Bahkan sehari sebelum Imlek biasanya sudah ramai, tapi tahun ini agak berkurang banyak,” ujarnya, Selasa (10/2).

Gustiana mengungkapkan, dibandingkan tahun lalu, penjualan pernak-pernik Imlek mengalami penurunan sekitar 30 persen. Penurunan tersebut juga berdampak pada jumlah stok barang yang didatangkan.

“Barang yang kami datangkan juga dikurangi. Apalagi sempat ada imbauan agar perayaan dilakukan secara sederhana dan tidak trelalu meriah, karena adanya bencana di beberapa wilayah Sumatera. Jadi kami menyesuaikan,” terangnya.

Warga yang berminat dengan pernak pernik imlek, mulai terlihat sejak awal Februari lalu, meski belum seramai tahun-tahun sebelumnya. Barang yang dijual di tokonya itu terdiri dari stok lama dan produk baru, termasuk hiasan bertema kuda yang disesuaikan dengan shio tahun ini.

Gustiana menilai, kondisi ekonomi menjadi salah satu faktor menurunnya daya beli masyarakat. Selain adanya imbauan perayaan sederhana, jarak waktu Imlek yang berdekatan dengan bulan Ramadan dan Idulfitri menurutnya sedikit memengaruhi pola belanja.

“Katanya tahun Kuda Api itu lebih panas. Ditambah Imlek, puasa, dan Lebaran berdekatan, ekonomi terasa agak sulit, apalagi masih ada bencana,”imbuhnya.

Pernak pernik Angpao dan bunga hias masih menjadi produk yang paling diminati, termasuk juga gantungan dan tempelan. Harga angpao berkisar antara Rp3.000 hingga Rp15.000 per pack, sementara lampion berkualitas baik dijual sekitar Rp300 ribu. Harga pernak-pernik Imlek di toko tersebut berkisar antara Rp5.000 hingga Rp300.000, bahkan lebih untuk kualitas tertentu.

“Kami tidak berani stock terlalu banyak. Kalau barang tertahan, akan sulit untuk tahun berikutnya,” ucapnya.

Pembeli pernak-pernik Imlek di toko itu berasal dari berbagai kalangan, mulai dari perorangan hingga instansi seperti kantor dan hotel. “Yang beli imbang saja, ada yang pribadi, ada perkantoran, dan hotel juga ada,” imbuhnya.

Ia menambahkan, kondisi sepinya penjualan tidak hanya terjadi di Sampit. Berdasarkan informasi dari anaknya di Jakarta, situasi yang sama juga dirasakan di daerah lain. Meski demikian terselip harapan Gustiana di Tahun Kuda Api ini. 

“Harapan saya di Tahun Kuda Apiini yang paling utama adalah kesehatan. Kalau sehat, yang lain bisa mengikuti,” ucapnya. 

Secara tradisi, masyarakat Tionghoa mulai melakukan persiapan Imlek pada tanggal 24 bulan 12 penanggalan Imlek, yang jatuh pada 10 Februari. Pada momen tersebut, biasanya dilakukan kegiatan bersih-bersih rumah dan tempat ibadah.

“Mulai hari ini (kemarin) biasanya sudah bersih-bersih, ganti semua hiasan rumah, tempat ibadah juga dibersihkan, alat-alat altar dan perlengkapannya,” jelas Gustiana.

Selain menjual aneka pernak-pernik Imlek dan perlengkapan sembahyang, tokonya juga menjual dan menerima pesanan kue keranjang. Di tengah penurunan penjualan pernak-pernik, Gustiana mencatat pesanan kue keranjang relatif stabil. Hingga saat ini, produksi kue keranjang telah menggunakan sekitar 120 kilogram tepung, dengan harga jual Rp20 ribu per bungkus.

“Kalau kue keranjang, pesananya masih bagus. Setiap tahun stabil, dan kalau ambil banyak ada diskon,” ungkapnya.

Menurut Gustiana, cara masyarakat merayakan Imlek pun beragam. Ada yang merayakan lebih meriah jika shionya sama dengan shio tahun berjalan, namun ada pula yang memilih tidak merayakan karena sedang berduka atau menyesuaikan dengan kondisi ekonomi masing-masing.

“Kalau yang berduka, biasanya setahun tidak merayakan Imlek,” tuturnya. 

Sejalan dengan kondisi tersebut, pemerintah pusat pada awal 2026 juga mengimbau masyarakat agar mewerayakan Imlek 2577 Kongzili secara sederhana dan penuh solidaritas. Imbauan tersebut disamoaikan sebagai bentuk keprihatinan atas bencana yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, sekaligus ajakan untuk mengedepankan empati sosial. (yn/gus) 

Editor : Agus Jaka Purnama
#pernak pernik #aksesori #sampit #merayakan imlek #Imlek 2577 Kongzili #kue keranjang