SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Hujan yang terus mengguyur Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam beberapa pekan terakhir berdampak pada terganggunya habitat satwa liar. Salah satunya, ular yang kini kerap ditemukan masuk ke rumah-rumah warga untuk mencari tempat berlindung dari genangan air.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim Ahmad Taufiq, menyebutkan hujan berkepanjangan menjadi faktor utama meningkatnya laporan evakuasi ular di permukiman warga.
“Setiap hujan berlangsung lama, laporan ular masuk rumah biasanya meningkat. Ular mencari tempat yang lebih kering dan hangat,” ujar Taufiq, Sabtu (7/2/2026).
Menurutnya, ular sering ditemukan di area rumah yang lembap dan jarang terpantau, seperti dapur, kamar mandi, hingga plafon.
Kondisi lingkungan sekitar rumah yang berdekatan dengan rawa, semak belukar, atau saluran air juga memperbesar risiko kemunculan ular.
“Ular bisa masuk lewat celah-celah kecil, saluran air, atau tumpukan barang. Karena itu, lingkungan rumah perlu benar-benar diperhatikan,” katanya.
Jenis ular yang dievakuasi pun beragam, mulai dari ular sawa hingga ular berbisa. Taufiq menegaskan, masyarakat tidak disarankan menangani sendiri jika menemukan ular di dalam rumah.
“Jangan panik dan jangan mencoba menangkap sendiri, apalagi jika berbisa. Hubungi petugas agar penanganannya aman,” tegasnya.
Ia juga mengimbau warga untuk melakukan langkah pencegahan sederhana, seperti menjaga kebersihan lingkungan, memangkas rumput, membersihkan tumpukan barang, serta menutup celah rumah yang berpotensi menjadi akses masuk ular.
Disdamkarmat Kotim memastikan kesiapsiagaan petugas selama musim hujan berlangsung. Layanan evakuasi hewan berbahaya tetap disiagakan selama 24 jam.
“Kami siaga 24 jam untuk menerima laporan warga. Jangan ragu menghubungi petugas jika menemukan ular atau potensi bahaya lainnya,” ujarnya.
Taufiq berharap masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama pada malam hari dan saat hujan lebat, karena pada kondisi tersebut ular cenderung lebih aktif keluar dari habitatnya. (oes)
Editor : Slamet Harmoko