
PANGKALAN BUN, radarsampit.jawpaos.com - Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) untuk membantu menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sedang menghadapi masalah yang cukup mendasar: awannya tidak banyak.
Penyemaian awan untuk memicu hujan belum bisa dilakukan secara maksimal karena ketersediaan awan potensial di wilayah udara Kobar terbatas. Tutupan awan juga cenderung tipis, sehingga pesawat tidak punya banyak “bahan” untuk disemai.
BMKG Kobar mencatat kondisi atmosfer dalam beberapa hari terakhir memang kurang mendukung pembentukan awan hujan atau cumulus. Akibatnya, frekuensi penerbangan untuk menyemai garam atau NaCl ke dalam awan menjadi sangat terbatas.
“Keberhasilan OMC sangat bergantung pada ketersediaan awan yang berpotensi menghasilkan hujan serta kondisi atmosfer saat operasi berlangsung. Selama OMC berjalan, frekuensi penyemaian tidak banyak dilakukan karena ketersediaan awan potensial memang terbatas,” ujar Forecaster on Duty BMKG Kobar, Maulidianto, Sabtu (24/10/2026).
Maulidianto menjelaskan, teknologi modifikasi cuaca pada dasarnya bukan menciptakan awan dari ruang kosong. Teknologi tersebut bekerja dengan merekayasa dan menstimulasi awan yang sudah ada agar segera menurunkan hujan.
Masalahnya, kalau awannya terlalu tipis atau awan potensial tidak terbentuk akibat kelembapan udara yang rendah, teknologi OMC juga tidak bisa menjamin hujan tiba-tiba turun.
Dengan kata lain, pesawat bisa saja siap terbang dan bahan penyemaian tersedia. Tetapi kalau awan yang hendak disemai tidak memenuhi syarat, ya mau diapakan?
“Akibat terbatasnya potensi awan tersebut, aktivitas di posko OMC Pangkalan Bun saat ini tidak beroperasi sementara waktu sembari menunggu dinamika atmosfer dan pertumbuhan awan kembali kondusif,” bebernya.
Di tengah OMC yang sementara tidak beroperasi, BMKG mencatat adanya tren penurunan jumlah titik panas (hotspot) harian di Kobar.
Namun, penurunan tersebut tidak serta-merta bisa diklaim sebagai hasil OMC. BMKG menilai kondisi itu merupakan kombinasi penanganan darat terpadu oleh satuan tugas karhutla dan dinamika cuaca lokal.
Artinya, ketika jumlah hotspot turun, faktor yang bekerja bukan hanya hujan hasil modifikasi cuaca. Tim di darat juga tetap punya peran penting dalam mengendalikan kebakaran.
Sementara itu, kondisi cuaca yang berpotensi memperparah karhutla masih mengintai Kobar. Suhu udara tinggi, kelembapan rendah, dan hembusan angin kencang membuat vegetasi serta lahan gambut rentan terbakar.
Kondisi tersebut juga dapat membuat api lebih cepat menjalar ketika kebakaran terjadi.
Harapan kini ikut diarahkan pada pergantian musim. BMKG memprakirakan awal musim hujan di Kobar mulai turun secara bertahap dari wilayah utara pada akhir Oktober hingga memasuki November 2026.
Namun, sambil menunggu hujan benar-benar datang dan tidak sekadar menjadi kabar baik di prakiraan cuaca, upaya pemadaman tetap harus berjalan.
Sebab, karhutla tidak akan menunggu sampai awan cukup tebal untuk kemudian memutuskan berhenti membakar.
“Sembari menunggu tutupan awan menebal dan musim hujan merata, BMKG mengimbau agar upaya pemadaman darat dan pencegahan dini terus digencarkan secara bersinergi,” pungkasnya. (tyo/sla)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





