
PALANGKA RAYA – ‘Perang’ melawan ganasnya Karhutla yang masih berangsung di Kalimantan Tengah (Kalteng), membuat berbagai upaya pemadaman dilakukan. Selain berbagai peralatan dikerahkan, amunisi baru berupa Powder Pemutus Api juga mulai dikerahkan.
Bahan itu semacam serbuk kimia kering yang berfungsi memutus reaksi kimia pada segitiga api dan menutup area terbakar dari oksigen. Sehingga, setelah dilakukan uji coba dengan dicampur air, mampu mempersempit gerak rambatan karhutla.
Bahan itu telah dicoba personel Satbrimob Polda Kalteng, khususnya untuk penanganan Karhutla di Kota Palangka Raya, baru-baru tadi.
Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan melalui Dansatbrimob Polda Kalteng Kombes Pol Dieno mengapresiasi penggunaan inovasi tersebut.
“Penanganan Karhutla harus cepat, tepat, dan inovatif. Uji coba powder ini bentuk keseriusan Polri melindungi masyarakat dan lingkungan Kalteng. Kita Pantang Pulang Sebelum Padam,”ungkap Dieno, Jumat (28/8).
Ditambahkan, Komandan Kompi 2 Satbrimob Polda Kalteng Iptu Yanirahman mengatakan, personel terus disebar berdasarkan kebutuhan di lapangan. Setiap tim terdiri atas 10 hingga 12 anggota yang diploting setiap hari untuk menyasar wilayah yang membutuhkan penanganan. Hasilnya api tidak terlalu menjalar. Ini efektif sebagai penyekat,”tukas Dieno.
Baca Juga: Medan Sulit Tak Halangi Pemadaman, Helikopter Water Bombing Hantam Titik Api di Kobar
Sementara itu penanganan karhutla di Kotim, yang menjadi wilayah terbanyak titik api Se Kalteng, Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam mengungkapkan, sejak 17 Agustus terjadi peningkatan kejadian karhutla secara harian.
“Sejak tanggal 17, memang ada peningkatan kejadian harian. Ada yang dapat kami tangani, ada juga yang tidak bisa,” ungkapnya.
Menurut dia, kondisi armada menjadi salah satu kendala utama. Selain jumlahnya terbatas, usia dan teknologi unit yang digunakan juga beragam. Bahkan, setiap hari BPBD harus melakukan perbaikan cepat terhadap sekitar empat hingga lima unit yang mengalami kerusakan, agar dapat kembali digunakan dalam waktu dua hingga tiga jam. Kecepatan angin dari pagi hingga malam hari juga membuat api bergerak cepat.
“Kami minta maaf kepada masyarakat karena situasi kebakaran dengan kecepatan angin yang cukup tinggi membuat proses terjadinya kebakaran di wilayah gambut sangat cepat sekali,” paparnya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





