Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ilmuwan Australia Temukan Lebah 'Setan' di Balik Bunga Langka

Slamet Harmoko
Penulis: Slamet Harmoko❯
Spesies lebah yang diberi nama Megachile (Hackeriapis) lucifer, ditemukan di negara bagian Australia Barat, kata Universitas Curtin. (Sekolah Ilmu Molekuler dan Kehidupan Universitas Curtin)
Spesies lebah yang diberi nama Megachile (Hackeriapis) lucifer, ditemukan di negara bagian Australia Barat, kata Universitas Curtin. (Sekolah Ilmu Molekuler dan Kehidupan Universitas Curtin)

Radarsampit.jawapos.com - Australia kembali membuat dunia sains terkejut dengan penemuan makhluk yang sangat unik. Kali ini, para peneliti berhasil mengidentifikasi spesies lebah baru yang memiliki penampilan yang tidak biasa, lengkap dengan tanduk di wajahnya yang mengingatkan pada karakter setan.


Advertisement

Lebah yang misterius ini diberi nama Megachile (Hackeriapis) lucifer, atau lebih dikenal dengan sebutan lebah "Lucifer". Spesies ini ditemukan di tengah area bunga liar yang terancam punah di wilayah Australia Barat.

Penemuan ini, yang dipublikasikan oleh Universitas Curtin, langsung memicu diskusi yang hangat di kalangan ilmuwan. Selain bentuk fisiknya yang eksentrik, lebah ini ditemukan di habitat yang sangat terisolasi dan rentan terhadap ancaman lingkungan.

Dikutip dari CBS News, sosok yang berada di balik penemuan ini adalah Kit Prendergast, seorang peneliti dari Sekolah Ilmu Molekuler dan Kehidupan Universitas Curtin. Ia pertama kali menemukan serangga ini pada tahun 2019 ketika melakukan survei di lapangan.

Advertisement

Prendergast menyadari bahwa lebah betina yang ia temukan memiliki anatomi wajah yang aneh dan tidak ditemukan pada spesies lebah lainnya.

"Betina itu memiliki tanduk-tanduk kecil yang luar biasa di wajahnya," ungkap Prendergast.

Karena penampilannya yang mencolok dan sedikit menyeramkan, ia memilih nama "Lucifer". Inspirasi untuk nama ini muncul karena Prendergast merupakan penggemar serial Netflix yang memiliki judul sama, yang ia rasa sangat cocok dengan karakter fisik lebah tersebut.

Advertisement

Untuk membuktikan temuannya, tim peneliti melaksanakan pengujian pengkodean DNA yang mendalam.

Hasilnya menunjukkan bahwa DNA lebah "Lucifer" tidak cocok dengan data genetik global atau koleksi museum manapun.

Ini merupakan pencapaian yang signifikan dalam dunia entomologi, yaitu ilmu yang mempelajari serangga. Prendergast menyatakan bahwa ini adalah penemuan langka yang terjadi dalam dua dekade terakhir.

"Ini adalah anggota baru pertama dari kelompok lebah ini yang dideskripsikan dalam lebih dari 20 tahun, yang benar-benar menunjukkan betapa banyak kehidupan yang masih harus kita temukan," kata Prendergast.

Namun, meskipun penemuan ini merupakan kabar baik bagi dunia sains, hal ini juga membawa peringatan yang serius. Lebah "Lucifer" hidup di wilayah yang terancam oleh aktivitas pertambangan dan perubahan iklim yang ekstrem.

Banyak spesies serangga penyerbuk diprediksi akan punah bahkan sebelum sempat diidentifikasi oleh manusia, akibat dari pembukaan lahan yang masif.

"Banyak perusahaan pertambangan masih belum melakukan survei terhadap lebah asli, sehingga kita mungkin kehilangan spesies yang belum dideskripsikan, termasuk spesies yang memainkan peran penting dalam mendukung tanaman dan ekosistem yang terancam punah," ungkap Prendergast.

Kehilangan lebah berarti ancaman bagi ketahanan pangan. Tanpa penyerbuk liar seperti lebah "Lucifer", banyak tanaman berbunga tidak akan bisa bertahan hidup, yang pada akhirnya dapat merusak rantai makanan global. (jpg)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SampitIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

MotoGP dan Moto3 Australia Digelar Pekan Ini, Jadwal Balapan Sudah Keluar

MotoGP dan Moto3 Australia Digelar Pekan Ini, Jadwal Balapan Sudah Keluar

MotoGP dan Moto3 Australia 2026 digelar pekan ini 23-25 Oktober 2026 di Sirkuit Phillip Island, Australia, mulai hari Jumat sampai Minggu

Joanna Wietrzyk, Atlet  HYROX Asal Australia Juara di Beijing dalam Kondisi Diare saat Bertanding

Joanna Wietrzyk, Atlet HYROX Asal Australia Juara di Beijing dalam Kondisi Diare saat Bertanding

Atlet asal australia, Joanna Wietrzyk menjadi sorotan setelah mengalami insiden diare saat mengikuti HYROX Beijing 2026, dan menjadi juara

Timnas Indonesia U-20 Bungkam Australia 2-0. Juara Group dan Lolos ke Putaran Final Piala Asia U-20

Timnas Indonesia U-20 Bungkam Australia 2-0. Juara Group dan Lolos ke Putaran Final Piala Asia U-20

Timnas Indonesia U-20 berhasil melaju ke putaran final Piala Asia U-2027. Setelah Garuda Muda mengalahkan timnas Australia dengan skor 2-0

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement

Populer