Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Korban TPPO ke Kamboja Telah Dijemput dan Diamankan di KBRI Phnom Penh

Slamet Harmoko
Penulis: Slamet Harmoko❯
Rizki Nur Fadilah akhirnya muncul dan memberikan klarifikasi terkait isu yang menyebut dirinya menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Kamboja. (Istimewa)
Rizki Nur Fadilah akhirnya muncul dan memberikan klarifikasi terkait isu yang menyebut dirinya menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Kamboja. (Istimewa)

Radarsampit.jawapos.com - Korban dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) Rizki Nur Fadhilah, dilaporkan kini telah berada dalam kondisi aman di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Phnom Penh. Hal itu diungkap pihak kepolisian.


Advertisement

"Hari ini tadi pagi kami memperoleh informasi dari KBRI Kamboja yang ada di Phnom Penh bahwa korban saudara Rizki saat ini sudah berada di KBRI Phnom Penh yang mana masih dilakukan pemeriksaan," ujar Kasat Reskrim Polresta Bandung Kompol Luthfi Olot Gigantara dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu (19/11).

Saat ini, pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan untuk menggali fakta-fakta hukum yang terjadi ketika Rizki berangkat ke Kamboja.

"Kami juga tetap berkoordinasi dibantu oleh BP3MI dan Direktorat Siber dan Direkturat Kriminal Umum untuk melakukan koordinasi ke KBRI Kamboja terkait dengan proses pemulangan saudara Rizki ke Indonesia," pungkas Luthfi.

Advertisement

Sebelumnya, Rizki Nur Fadhilah, pemain bola asal Bandung yang sempat viral disebut menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Kamboja, akhirnya memberikan klarifikasi.

Ia membantah keras bahwa dirinya disiksa atau dipaksa bekerja. Namun, ia mengungkap bahwa perusahaan tempatnya bekerja meminta uang tebusan Rp 42 juta jika ia ingin pulang.

Dalam video klarifikasinya yang diunggah melalui akun TikTok @rizki.nur.fadilla6, Rizki menjelaskan bahwa dirinya tidak mengalami kekerasan seperti yang diberitakan.

Advertisement

Ia menegaskan kondisi dirinya baik-baik saja, tetapi ingin pulang karena merasa tidak betah bekerja di Kamboja.

“Saya ingin meluruskan masalah yang terkait viral di Indonesia, saya sebenarnya nggak disiksa dan nggak diapain. Cuma saya pengin pulang aja karena nggak betah,” ujar Rizki dalam video tersebut, dikutip Rabu (18/11).

Lebih jauh, Rizki menjelaskan alasan biaya tebusan yang diminta perusahaan mencapai Rp 42 juta. Menurut dia, uang itu digunakan untuk menutupi berbagai biaya yang sebelumnya dikeluarkan perusahaan.

“Perusahaan saya meminta uang tebusan 42 juta untuk tiket pulang, ongkos taksi, makan, dan lain-lain. Sisanya untuk bayar keberangkatan saya dari Indonesia ke Kamboja, visa, paspor, dan biaya agency VIP line juga,” jelasnya.

Selain itu, ia menegaskan bahwa perusahaan sama sekali tidak meminta uang pribadi darinya, melainkan hanya menagih biaya yang dianggap sebagai pengganti pengeluaran selama proses perekrutan dan keberangkatan.

“Pihak perusahaan tidak meminta uang sedikitpun. Terima kasih,” katanya menutup klarifikasinya.

Namun, klarifikasi itu justru memancing reaksi beragam dari warganet. Banyak yang mengaku tidak yakin dengan penjelasan Rizki, terutama karena gestur tubuhnya dinilai kaku dan terlihat seperti sedang membaca atau menghafal teks.

Beberapa kali matanya juga melihat ke arah seseorang. Beberapa pengguna media sosial juga menyoroti tangannya yang tidak terlihat sepanjang video karena di belakang.

Komentar yang mempertanyakan keaslian pernyataan itu langsung membanjiri media sosial. Tak sedikit yang menduga video tersebut dibuat di bawah tekanan, meski hingga kini belum ada bukti yang menunjukkan hal tersebut. (jpg)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SampitIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Orangutan bernama Sari dan Anaknya Berhasil Diselamatkan dari Karhutla di Kotawaringin Barat

Orangutan bernama Sari dan Anaknya Berhasil Diselamatkan dari Karhutla di Kotawaringin Barat

Seekor induk Orangutan yang diberi nama Sari saat proses evakuasi bersama anaknya, dari lokasi kebakaran lahan di Desa Medang Sari, Kobar

22 Kasus Kekerasan Perempuan Tercatat di Kotim, DP3AP2KB Perkuat Pencegahan

22 Kasus Kekerasan Perempuan Tercatat di Kotim, DP3AP2KB Perkuat Pencegahan

Upaya mencegah kekerasan terhadap perempuan dan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) terus diperkuat Pemerintah Kabupaten Kotim

Alarm dari Gunung Es yang Mulai Pecah: Menatap Noda Kekerasan Perempuan di Balik Gemerlapnya Kota Sampit

Alarm dari Gunung Es yang Mulai Pecah: Menatap Noda Kekerasan Perempuan di Balik Gemerlapnya Kota Sampit

Sepanjang tahun 2025 kemarin, tercatat ada 22 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement

Populer