Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mudik, Jadi Pengobat Lelah Pekerja Perantau

Dodi Abdul Qadir
Penulis: Dodi Abdul Qadir❯

Keramaian penumpang mudik di ruang tunggu penumpang Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya, yang sebagian besar berasal dari perantauan, Senin (16/3).
Keramaian penumpang mudik di ruang tunggu penumpang Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya, yang sebagian besar berasal dari perantauan, Senin (16/3).


Advertisement

PALANGKA RAYA,radarsampitjawapos.com- Mudik Lebaran. Sebuah momen kembali ke kampung halaman untuk berkumpul keluarga menjadi harapan besar bagi banyak masyarakat Indonesia setiap tahunnya. Terutama  bagi para perantau yang bekerja di Kalimantan Tengah (Kalteng).

Salah satunya adalah Ronny (37), seorang pekerja yang merantau di Kabupaten Kuala Kurun, Kabupaten Gunung Mas. Tahun ini, ia akhirnya bisa kembali mudik ke kampung halamannya di Tuban, Jawa Timur.

Kisah Ronny hanyalah satu dari sekian banyak cerita para pemudik dari Kalteng. Di balik koper pakaian yang dia bawa, tersimpan cerita perjuangan, pengorbanan, serta kerinduan yang akhirnya terobati ketika tiba di kampung halaman.

Advertisement

Perjalanan mudiknya terbilang tak mudah. Dari tempatnya bekerja di pedalaman, pria rambut gondrong ini harus menempuh perjalanan darat selama sekitar lima jam menuju Palangka Raya. Dari sana, ia melanjutkan perjalanan menggunakan pesawat melalui Bandara Tjilik Riwut menuju Pulau Jawa, dan dilanjutkan lagi ke kampung halamannya di Tuban.

Di ruang tunggu bandara, di wajahnya terpancar rasa lelah setelah perjalanan panjang. Namun senyum tak pernah lepas karena sebentar lagi ia akan bertemu keluarga tercinta.

“Ini perjuangan pemudik menuju kampung halaman. Saya harus menempuh lima jam perjalanan dari tempat bekerja di Kuala Kurun. Rindu sekali untuk bisa bertemu orang tua,” ungkap Ronny saat ditemui di Bandara Tjilik Riwut, Senin (16/3).

Advertisement

Bagi Ronny, perjalanan panjang itu bukanlah halangan. Kerinduan kepada orang tua menjadi alasan terbesar yang membuatnya tetap bersemangat pulang ke kampung halaman setiap tahun.

Ia mengaku harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk bisa mudik. Harga tiket pesawat yang meningkat menjelang Lebaran sering kali membuat para perantau harus mempersiapkan dana lebih jauh-jauh hari.

Namun bagi Ronny, biaya tersebut bukanlah persoalan besar. Baginya, kebahagiaan bertemu keluarga jauh lebih berharga dibandingkan segala pengorbanan yang harus dilakukan.“Memang harus mengocek dana lebih untuk bisa pulang kampung. Tapi tidak masalah, karena bertemu orang tua adalah kebahagiaan terbesar,” ujarnya.

Setiap tahun, Ronny berusaha menyempatkan diri untuk pulang kampung meski waktunya terbatas. Ia menyadari kesempatan berkumpul dengan keluarga tidak selalu mudah didapat, terlebih dengan jarak yang memisahkan antara tempat kerja dan kampung halaman.

“Alhamdulillah bisa satu tahun sekali mudik. Mungkin nanti kembali lagi setelah dua minggu, supaya tiketnya bisa lebih murah,” katanya sambil tersenyum.(daq/gus)

 

 

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SampitIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Cegah Perampokan dan Pencurian, Polisi Perketat Patroli di Bank dan ATM Palangka Raya

Cegah Perampokan dan Pencurian, Polisi Perketat Patroli di Bank dan ATM Palangka Raya

Polresta Palangka Raya terus meningkatkan pengamanan di sejumlah objek perbankan guna mengantisipasi tindak kriminalitas

Produksi Tuak di Palangka Raya Disorot, Tujuh Instansi Turun Tangan

Produksi Tuak di Palangka Raya Disorot, Tujuh Instansi Turun Tangan

Polresta Palangka Raya melakukan penertiban terhadap lokasi produksi minuman beralkohol tradisional jenis tuak

Polisi Sisir Titik Rawan Karhutla, Pastikan Palangka Raya Bebas Api

Polisi Sisir Titik Rawan Karhutla, Pastikan Palangka Raya Bebas Api

Polresta Palangka Raya mengerahkan dua regu personel untuk menyisir sejumlah titik rawan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla)

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement

Populer