
Oleh: Sani Lake* | Editor: Andriani SJ Kusni
Sore itu, di sebuah kampung di pedalaman Kalimantan Tengah, seorang perempuan tua (tambi) duduk di tepi ladang sehabis kerja. Tangannya menggenggam benih padi lokal yang diwariskan dari leluhurnya. Dia tidak pernah membaca Plato, tidak mengenal Immanuel Kant apalagi berdiskusi tentang Michel Foucault, tetapi dari caranya memperlakukan tanah, kita belajar sesuatu yang sering hilang dari filsafat modern yakni hidup yang bukan sekadar soal berpikir, melainkan tentang menjaga dan merawat.
Di tempat lain, ribuan tahun sebelumnya, Socrates berdiri di tengah Kota Athena, mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang mengguncang dunia hingga saat ini: apa itu kebenaran? apa itu keadilan? Ia percaya bahwa “hidup yang tidak diperiksa atau dipertanyakan adalah hidup yang tidak layak dijalani” (Plato, Apology). Dari pertanyaan seperti itu lalu filsafat Barat kemudian tumbuh sebagai tradisi refleksi kritis yang tak pernah selesai.
Namun, perjalanan panjang itu tidak selalu lurus. Dari Plato yang membedakan dunia ide dan dunia nyata (Republic) hingga René Descartes yang menjadikan kesadaran sebagai fondasi (“cogito ergo sum”, Meditations on First Philosophy), filsafat lalu secara perlahan menggeser pusat realitas ke dalam pikiran manusia sehingga dunia menjadi sesuatu yang dipahami, bukan lagi sesuatu yang dihidupi.
Di tangan Immanuel Kant, usaha sintesis muncul dimana pengetahuan lahir dari pertemuan antara pengalaman dan struktur rasio (Critique of Pure Reason). Namun tetap saja, manusia ditempatkan sebagai subjek utama yang menilai dunia.
Modernitas kemudian membawa konsekuensi lebih jauh. Alam tidak lagi dilihat sebagai rumah bersama, melainkan sebagai objek eksploitasi. Kritik terhadap situasi ini datang dari berbagai arah. Karl Marx menunjukkan bagaimana sistem ekonomi kapitalistik mengasingkan manusia dari kerja dan kehidupannya sendiri (Economic and Philosophic Manuscripts, 1844). Friedrich Nietzsche kemudian muncul mengguncang fondasi moral dengan menyatakan bahwa nilai-nilai adalah konstruksi historis (Genealogy of Morals).
Sementara itu, Michel Foucault datang mengingatkan bahwa kebenaran selalu terkait dengan relasi kuasa. Kebenaran tidak pernah netral (Power/Knowledge, 1980). Apa yang dianggap “benar” sering kali adalah hasil pikir dan kemasan dari siapa yang berkuasa untuk mendefinisikannya.
Namun di tengah kritik yang tajam ini, ada satu pertanyaan sering terlewatkan, yaitu bagaimana manusia hidup bersama alam?
Di sinilah perlu berhenti sejenak dan melihat ke arah yang selama ini dianggap pinggiran. Dalam banyak komunitas Dayak, tanah tidak pernah benar-benar dimiliki, tapi justru dijaga. Hutan bukan sekadar sumber daya, melainkan ruang relasi yang menghubungkan manusia dengan leluhur dan generasi mendatang. Pengetahuan tidak selalu ditulis, tetapi diwariskan melalui praktik hidup.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




