Hari gini, ketika mata dan pikiran tertuju dan terkonsentrasi pada upaya memerangi virus korona, dan bagi umat Islam sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan, memikirkan puisi?. Siapa peduli?. Hidup adalah sebuah perjalanan yang beraneka warna. Ada suka ada duka, ada gembira ada nestapa. Menghadapinya pun hendaknya tidak dengan cara yang tegang. Ada sisi human interest, yang dengan itu kepekaan nurani terasah. Sisi ini, yang secara ekonomis memang tidak menghasilkan materi, tetapi secara psikologis melonggarkan syaraf dan menyadarkan diri terhadap keberadaan nilai nurani yang tak hanya dipenuhi dengan materi yang tak ada ujungnya.
Satu karya yang berhubungan dengan human interest ini, kendatipun bisa saja dibahas, dijuluki sebagai karya sastra. Keagungan karya sastra sampai kepada karya sastra kelas dunia menginspirasi perilaku dan perjalanan hidup manusia. Satu diantara karya sastra di tanah air yang kemudian dikenang sepanjang masa adalah puisi. Untuk mengenangnya inilah, kemudian ditetapkan satu hari sebagai bentuk apresiasi, dan itu dikenal sebagai hari puisi nasional, diperingati setiap tanggal 28 April.
Sang Tokoh Puisi Nasional
Penetapan hari ini erat kaitannya dengan penyair Tanah Air, Chairil Anwar. Ada puisi karyanya yang monumental, berjudul “Cerita Buat Dien Tamaela”. Judul puisi yang melambangkan patriotism dan nasionalisme lewat ungkapan cinta itu melegenda. Karya lain yang begitu heroik dan senantiasa dipelajari ketika mengupas sastra Indonesia berjudul “Aku”.
Chairil Anwar adalah seorang penyair kebanggaan Indonesia. Dia lahir di Medan, Sumatera Utara, pada 26 Juli 1922 dari pasangan Toeloes dan Saleha. Di usianya yang masih 15 tahun, Chairil Anwar sudah bertekad untuk menjadi seorang penyair. Perjalanan pendidikannya dimulai pada Hollandsch-Inlandsche School (HIS), yang merupakan Sekolah Dasar (SD) bagi orang-orang pribumi pada masa penjajahan. Ketika usianya 18 tahun, dia tidak lagi bersekolah. Setahun kemudian, pria yang mahir berbagai bahasa seperti Inggris, Belanda sampai Jerman itu memutuskan ikut sang ibunda pindah ke Batavia (Jakarta) setelah perceraian kedua orangtuanya. Kepindahannya ke Batavia, menjadi pembuka perkenalannya dengan dunia sastra.
Pada 1942, namanya mulai melejit saat tulisan pertamanya dipublikasikan Majalah Nisan, ketika usianya sekitar 20 tahun. Sepanjang hayatnya, dia telah menghasilkan 94 karya, termasuk 70 puisi. Namun di usianya yang masih muda, Chairil Anwar harus tutup usia. Menjelang usia 27 tahun, ayah satu putri itu terserang sejumlah penyakit. Dia meninggal di Rumah Sakit CBZ atau yang sekarang dikenal dengan Rumah Sakit Cipto Mangungkusumo (RSCM) pada 28 April 1949, tigaperempat abad yang lalu. Hari meninggalnya dikenang dan diperingati sebagai Hari Puisi Nasional.
Para analis menilai bahwa hampir semua puisi yang dia tulis merujuk pada kematian. Dalam perjalanan hidupnya, ia pernah menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta. Saat itu ia jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945. Semua tulisannya yang asli, modifikasi, atau yang diduga dijiplak dikompilasi dalam tiga buku : Deru Campur Debu (1949); Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949); dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).
Kekuatan puisi Chairil Anwar adalah menginspirasi dan mengapresiasi upaya manusia meraih kemerdekaan, termasuk perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan. Hal ini, antara lain tercermin dari sajaknya bertajuk: “Krawang-Bekasi”, yang disadurnya dari sajak “The Young Dead Soldiers”, karya Archibald MacLeish (1948). Dia juga menulis sajak “Persetujuan dengan Bung Karno”, yang merefleksikan dukungannya pada Bung Karno untuk terus mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945.
Bahkan sajaknya yang berjudul “Aku” dan “Diponegoro” juga banyak diapresiasi orang sebagai sajak perjuangan. Kata Aku binatang jalang dalam sajak Aku, diapresiasi sebagai dorongan kata hati rakyat Indonesia untuk bebas merdeka.
Chairil Anwar yang dikenal sebagai “Si Binatang Jalang” (dalam karyanya berjudul Aku) adalah pelopor Angkatan ’45 yang menciptakan trend baru pemakaian kata dalam berpuisi yang terkesan sangat lugas, solid dan kuat. Dia bersama Asrul Sani dan Rivai Apin memelopori puisi modern Indonesia.
Chairil menekuni pendidikan HIS dan MULO, walau pendidikan MULO-nya tidak tamat. Puisi-puisinya digemari hingga saat ini. Salah satu puisinya yang paling terkenal sering dideklamasikan berjudul Aku ( “Aku mau hidup Seribu Tahun lagi!”).
Akhir Perjalanan Chairil Anwar
Vitalitas puitis Chairil Anwar tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya, yang bertambah lemah akibat gaya hidupnya yang semrawut. Sebelum dia bisa menginjak usia dua puluh tujuh tahun, dia sudah kena sejumlah penyakit. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda karena penyakit TBC Dia dikuburkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari zaman ke zaman. Hari meninggalnya selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.
Jejak pikiran berupa kumpulan puisinya antara lain terangkum dalam kompilasi bertajuk: Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus (1949); Deru Campur Debu (1949); Tiga Menguak Takdir (1950 bersama Asrul Sani dan Rivai Apin); Aku Ini Binatang Jalang (1986); Koleksi sajak 1942-1949″, diedit oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986); Derai-derai Cemara (1998). Buku kumpulan puisinya diterbitkan Gramedia berjudul Aku ini Binatang Jalang (1986).
Tercatat karya-karya terjemahannya adalah: Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948, Andre Gide); Kena Gempur (1951, John Steinbeck). Sementara karya-karyanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol adalah: “Sharp gravel, Indonesian poems”, oleh Donna M. Dickinson (Berkeley, California, 1960); “Cuatro poemas indonesios, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati” (Madrid: Palma de Mallorca, 1962); Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963); “Only Dust: Three Modern Indonesian Poets”, oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969).
Berikutnya ada The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970); The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan HB Jassin (Singapore: University Education Press, 1974); Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978); The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993).
Belajar dari itu semua, ranah nurani manusia ibarat sebuah tanaman di gurun. Harus senantiasa disiram sehingga kepekaan nurani tetap hidup dan terjaga kejernihannya. Puisi adalah satu diantara jenis siraman, yang dengan itu nurani menjadi lebih tajam menyikapi bebagai peistiwa. Ada kesejukan dalam perjalanan hidup dan mencegah kekusaman dan hanya memandang hidup sebagai rutinitas yang senantiasa berupaya menggapai materi dan berujung kematian.*