Kelas Menengah RI Makin Tertekan, Tren Downgrade Lifestyle Merebak


Radarsampit.jawapos.com - Belakangan ini, media sosial diramaikan dengan fenomena downgrade lifestyle atau penurunan standar gaya hidup yang dilakukan oleh masyarakat kelas menengah.
Banyak warganet membagikan kisah mereka yang terpaksa berhemat, mulai dari mengganti merek kebutuhan sehari-hari dengan yang lebih murah, beralih dari mobil pribadi ke transportasi umum, hingga memangkas pengeluaran hiburan dan langganan gym.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: apakah ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja, atau ini sekadar tren adaptasi sosial?
Dari kacamata ekonomi, tren ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Ekonom sekaligus Direktur Next Policy, Yusuf Wibisono, menilai fenomena ini merupakan cerminan nyata dari pelemahan daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah.
Menurut data yang dikutipnya, jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia mengalami penyusutan dari 60,8 juta orang (23% populasi) pada 2018 menjadi 46,7 juta orang (16,6%) pada 2025. Sebaliknya, kelompok rentan miskin justru meningkat.
"Jatuhnya daya beli kelas menengah ini harus mendapat perhatian serius karena berbahaya untuk pencapaian Indonesia Emas 2045," tegas Yusuf.
Hal senada diungkapkan Ekonom UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, yang menyebut lambatnya pertumbuhan upah dibandingkan kenaikan biaya hidup membuat ruang ekonomi keluarga semakin menyempit.
Meski begitu, downgrade lifestyle tidak serta-merta mengindikasikan seseorang jatuh miskin. Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, menjelaskan bahwa secara sosiologis, langkah ini adalah bentuk rasionalisasi dan "renegosiasi identitas sosial".
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




