
Radarsampit.jawapos.com - Kemudahan layanan keuangan digital seperti mobile banking, internet banking, dompet digital, hingga pembayaran berbasis QR telah mengubah cara masyarakat bertransaksi.
Namun, di balik kemudahan tersebut, ancaman kejahatan siber terus berkembang dengan berbagai modus yang semakin canggih dan sulit dikenali.
Pendiri Lembaga Riset Siber Independen Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) Pratama Persadha mengatakan pelaku kejahatan kini lebih banyak memanfaatkan kelemahan manusia dibandingkan menyerang sistem teknologi secara langsung.
"Ancaman kejahatan siber juga terus berkembang dengan pola yang semakin kompleks dan sulit dikenali," ujarnya kepada Jawapos.com, pekan lalu.
Menurut Pratama, saat ini terdapat sejumlah modus penipuan digital yang paling sering menargetkan nasabah perbankan. Di antaranya phishing, smishing, vishing, impersonation, hingga penyebaran aplikasi berbahaya.
"Pelaku kejahatan tidak lagi hanya menyerang sistem teknologi, tetapi lebih banyak memanfaatkan kelemahan manusia melalui berbagai teknik manipulasi psikologis atau social engineering," katanya.
Ia menjelaskan, phishing dilakukan melalui tautan palsu yang menyerupai situs resmi bank atau lembaga tertentu untuk mencuri data pengguna. Sementara smishing memanfaatkan pesan singkat yang berisi tautan berbahaya, dan vishing dilakukan melalui panggilan telepon yang mengatasnamakan petugas bank, aparat penegak hukum, maupun instansi pemerintah.
Selain itu, marak pula modus penipuan yang menggunakan aplikasi APK berbahaya yang dikirim melalui aplikasi pesan instan. Ketika aplikasi tersebut dipasang oleh korban, pelaku dapat memperoleh akses ke perangkat, pesan singkat, hingga kode OTP yang digunakan untuk mengotorisasi transaksi keuangan.
Pratama menilai keberhasilan penipuan digital umumnya bukan disebabkan oleh lemahnya teknologi perbankan, melainkan kesalahan pengguna yang dimanfaatkan oleh pelaku.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





