Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Truk Amblas di Jalan Darurat Sei Lenggana Picu Kemacetan

Heny Pusnita • Selasa, 28 Oktober 2025 | 21:43 WIB
TETAP MELINTAS: Truk yang mengangkut TBS kelapa sawit saat melintas di jembatan darurat Sei Lenggana, Rabu (6/8) lalu.
TETAP MELINTAS: Truk yang mengangkut TBS kelapa sawit saat melintas di jembatan darurat Sei Lenggana, Rabu (6/8) lalu.

SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com - Kejadian kendaraan truk amblas di jalur menuju jembatan alternatif darurat di Sei Lenggana Jalan Jenderal Sudirman KM 21-22, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali terjadi, Selasa (28/10/2025).

Truk yang belum diketahui bermuatan apa dan arah tujuannya tersebut dikabarkan amblas hingga menimbulkan kemacetan panjang.

"Ada truk amblas di jalan darurat, tetapi bukan di jembatannya. Sedang kami evakuasi," kata Marhara Tua, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.3 Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Kalimantan Tengah saat dikonfirmasi Radar Sampit, Selasa (28/10/2025).

Persoalan kemacetan kendaraan sudah sering kali terjadi setelah uji coba jalur lintasan jalan jembatan darurat difungsikan Kamis (24/7) lalu. Kendala jembatan ambruk juga sudah beberapa kali terjadi akibat kerap dilindas beban kendaraan yang melebihi muatan 8 ton.

Jalan alternatif darurat dibuka, sejak Senin (28/7) lalu. Sejak saat itu lah, Jembatan Sei Lenggana mulai ditutup total dikarenakan adanya peningkatan pembangunan Jembatan Sei Lenggana.

"Jembatan darurat itu panjangnya 30 meter dengan lebar 4,7 meter. Beberapa kali ada kejadian ban amblas dan as truk patah. Banyak faktor yang menyebabkan itu terjadi, bisa jadi karena kendaraan tidak dalam kondisi maksimal, membawa muatan berlebih dan pijakan ban yang kurang pas," ujar William Leowanto, Site Manager PT Persada Nusantara Prima selaku Penyedia Jasa.

Jembatan darurat alternatif yang disediakan tepat di samping Jembatan Sei Lenggana lama, hanya mampu menopang beban terbatas dengan muatan kendaraan tak melebihi 8 ton. Kondisi inilah yang mengharuskan sistem buka tutup diterapkan.

"Ini yang sulit dikendalikan. Masih banyak kendaraan bermuatan berat melebihi 8 ton memaksa melewati jembatan darurat. Memang sudah ada yang sadar mengurangi muatannya, tapi tidak sedikit juga yang memaksa membawa muatan melebihi 8 ton bahkan belasan ton, inilah yang perlu menjadi perhatian bersama," ujarnya.

William mengingatkan kepada pengendara selain mengurangi beban muatan, pengendara juga harus berhati-hati mengurangi laju kendaraannya.

"Kami membuat jalan alternatif dengan menimbun urukan tanah di atas tanah gambut sepanjang 75 meter dari tikungan kanan menuju jembatan darurat, setelah itu dilanjutkan 116 meter jalan darurat," ujarnya.

Dengan kondisi jalan tanah alternatif ditambah debu yang bertebaran setiap kendaraan melintas, tidak memungkinkan pengendara melaju cepat apalagi mengantuk saat berkendara.

"Memasuki jalan alternatif darurat ini memang perlu kehati-hatian. Kami tidak memungkinkan melebarkan jalan atau mengaspal jalan, karena jalan ini hanya bersifat sementara sampai Jembatan Sei Lenggana selesai dibangun," ujarnya.

Selain itu, antrean panjang juga masih terus terjadi. Kepadatan maksimal dimulai dari jam 14.00-18.00 WIB sepanjang lebih dari 4-5 kilometer.

"Dengan sistem satu jalur ini, setiap 10-15 menit bergerak bergantian. Namun, kami juga mempertimbangkan kondisi di lapangan apabila kendaraan darurat melintas seperti ambulance atau pemadam itu tetap diprioritaskan," ujarnya.

Peningkatan pembangunan Jembatan Sei Lenggana sepanjang 35 x 9 meter ini merupakan proyek Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Wilayah I Kalimantan Tengah yang telah dimulai dikerjakan 7 Mei 2025 dan ditenggat selesai 3 Desember 2025. Proyek ini didanai menggunakan APBN Murni senilai Rp 20.533.451.000. (hgn/fm)

Editor : Farid Mahliyannor
#macet #jembatan #Sei Lenggana #jalan darurat