Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

AWAS JEMURAN!!! Potensi Hujan Masih Tinggi di Kotim

Administrator • Minggu, 15 Agustus 2021 | 12:20 WIB
SAMPIT – Meski masih masuk musim kemarau, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Bandara Haji Asan Sampit memprediksi intensitas curah hujan akan meningkat sepekan ke depan.

Pantauan Radar Sampit, selama lima hari terakhir wilayah Kota Sampit dan sekitarnya diguyur hujan ringan hingga deras disertai petir.Hujan terpantau terjadi pada siang hingga sore hari dan terkadang terjadi di malam hari seperti, Sabtu (14/8) kemarin, hujan terjadi mulai Magrib.

Kepala BMKG Kotim Musuhanaya  memaparkan,  prakiraan curah hujan dari tanggal 14 Agustus 2021 pukul 07.00 WIB hingga tanggal 15 Agustus 2021 pukul 07.00 WIB berdasarkan model Weather Research Forecasting (WRF) adalah hujan ringan hingga sedang.

”Diprediksi hujan ringan hingga sedang sampai 15 Agustus pukul 07.00 WIB," ucapnya, kemarin.

Sementara itu untuk prakiraan tinggi gelombang pada 15 Agustus pukul 13.00 WIB antara 1,5 m - 3,0 m. Sedangkan prakiraan ketinggian gelombang pukul 19.00 WIB antara 1,0 m - 2,5 m.

Lebih lanjut, prakirawan cuaca Rahmat Wahidin Abdi mengatakan,  hujan diprediksi merata di 17 kecamatan Se Kotim.

Prakiraan cuaca selama sepekan kedepan masih berpotensi terjadi hujan ringan hingga lebat disertai guntur disetiap kecamatan,"ujarnya, Sabtu (14/8).

Rahmat menguraikan, berdasarkan data BMKG, volume curah hujan mengalami fluktuatif selama sepekan terakhir. Volume curah hujan yang dihasilkan berfluktuatif. Di tanggal 12 Agustus tercatat sebesar 101,3 mm per hari, kemudian kemarin terjadi penurunan 66 mm per hari.

”Sepekan kedepan masih diprediksi hujan," tukasnya.

Namun tegasnya, saat ini cuaca masih mengalami musim kemarau sejak Juli dasarian II hingga Agustus dasarian II.

”Perlu kami edukasi bahwa di saat musim kemarau belum tentu tidak terjadi hujan, tetap ada kemungkinan terjadi hujan namun intensitasnya kurang dari bulan-bulan pada musim hujan," terangnya.

Menurutnya, musim kemarau terjadi apabila hujan yang terdiri dalam 10 hari terakhir terukur kurang 50 milimeter dan diikuti  10 hari berikutnya.

”Dari data grafik garis trend nya (warna hijau) menunjukkan ada potensi meningkat," katanya.

Kendati demikian, Rahmat mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih berpotensi terjadi hingga Oktober 2021. "Agustus ini diprediksi mengalami puncak musim kemarau. Jadi, jumlah titik panas berpotensi meningkat," tambahnya.

Lebih lanjut diuraikan, berdasarkan data grafik BMKG menunjukkan, jumlah hotspot di Januari sebanyak 8 titik, Februari 20 titik, Maret 12 titik, April 29 titik, Mei 18 titik, Juni 10 titik, Juli 41 titik, Agustus 6 titik panas.

"Dilihat dari data grafik BMKG, peningkatan hotspot terjadi pada April dan Juli, ketika itu intensitas curah hujan menurun. Jadi, semakin tinggi curah hujan maka semkin sedikit jumlah hotspot yang terdeteksi," jelasnya.

Rahmat menambahkan,  intensitas curah hujan yang terjadi pada Agustus tidak berpotensi mengakibatkan banjir.

”Belum ada potensi banjir, karena dilihat dari curah hujan yang terjadi rata-rata masih normal. Namun, ini tergantung durasi hujannya, diharapkan hujan ini tidak sampai menimbulkan banjir, tetapi membantu mencegah potensi karhutla," pungkasnya.

Sementara itu per hari kemarin, titik panas atau hotspot di Kotim nihil. Hal ini berdasarkan peta sebaran titik panas Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandara H. Asan Sampit 14 Agustus 2021.

Disampaikannya menurut peta sebaran tersebut BMKG hanya mendeteksi titik panas di Kabupaten Seruyan, sebanyak satu titik panas. (yn/hgn/gus) Editor : Administrator
#cuaca #kemarau #hujan