Visibility Bandara H. Asan Sampit 3 Kilometer, Helikopter Belum Bisa Terbang


SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Seranau masih memengaruhi jarak pandang penerbangan di Bandara H Asan Sampit. Meski hujan sempat mengguyur wilayah Kotawaringin Timur (Kotim) dalam beberapa hari terakhir, jarak pandang saat ini tercatat sekitar tiga kilometer.
Kepala BMKG Kabupaten Kotim Mulyono Leo Nardo mengatakan, kondisi tersebut masih memungkinkan bagi pesawat komersial untuk melakukan penerbangan. Namun, jarak pandang tersebutbbelum memenuhi kebutuhan operasional helikopter yang digunakan dalam penanganan karhutla.
“Sekarang posisinya tiga kilometer, karena yang di Seranau itu masih ada asap. Jadi mengganggu visibility,” ujarnya.
Menurut Mulyono, pesawat komersial masih dapat beroperasi dengan jarak pandang tersebut. Sementara helikopter membutuhkan jarak pandang lebih panjang, treutama karena membawa peralatan berupa bucket untuk pemadaman karhutla.
“Masih bisa, pesawat bisa. Tiga kilo, tiga kilo bisa, komersil bisa. Yang helikopter saja yang enggak bisa. Karena helikopter itu minimal 4,5 kilo baru bisa terbang,” jelasnya.
Ia menerangkan, kebutuhan jarak pandang helikopter lebih tinggi karena membawa bucket yang digunakan untuk mengangkut air. Kondisi tersebut membutuhkan kehati-hatian dalam penerbangan, terutama ketika melintas di sekitar bnangunan, rumah, menara, maupun pepohonan.
“Membawa bucket harus hati-hati, bisa terkena rumah, bisa terkena tower, bisa terkena bangunan atau pohon. Nah, itu makanya visibility-nya lebih panjang,” ungkapnya.
Mulyono menjelaskan, jarak pandang menjadi salah satu faktor penting dalam keselamatannpenerbangan, khususnya saat pesawat akamn mendarat. Penerbang membutuhkan jarak visual yang cukup untuk melihat landasan dan menentukan proses pendaratan.
“Karena itu jarak visual apa, penerbang untuk melihat landasan, untuk turun pesawat,” katanya.
Selain jarak pandang, kondisi cuaca seperti suhu udara dan tekanan juga menjadi faktor yang diperhitungkan dalam operasional penerbangan. Suhu udara dapat memengaruhi daya angkat pesawat, sehingga perhiljtungan tenaga mesin perlu disesuaikan dengan kondisi cuaca.
Mulyono berharap karhutla di wilayah Seranau segera tertangani sehingga asap tidak lagi mengganggu aktivitas penerbangan di Sampit. Sebab, asap dari kawasan tersebut masih terbawa menuju bandara dan memengaruhi jarak pandang.
“Mudah-mudahan karhutla-nya sudah selesai, yang di seberang (Seranau). Kalau itu sudah tertangani, jadi visibility kita tidak terganggu. Karena dari Seranau itu asapnya ke bandara,” pungkasnya. (yn)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




