Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Anak Rentan DBD, Dokter Tekankan Pentingnya Deteksi Dini

M
Penulis: M. Akbar❯
Dokter Anak RSUD dr Murjani Sampit, dr Made Samitha Wijaya
Dokter Anak RSUD dr Murjani Sampit, dr Made Samitha Wijaya

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Anak-anak menjadi kelompok rentan terserang Demam Berdarah Dengue (DBD). Dokter Anak RSUD dr Murjani Sampit, dr Made Samitha Wijaya, menekankan pentingnya deteksi dini agar penyakit tersebut tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih berat dan membahayakan jiwa.


Advertisement

Menurut dr Made, DBD dapat menyerang semua kelompok usia, namun anak di bawah 12 tahun lebih berisiko karena sistem kekebalan tubuh yang belum berkembang optimal. Karena itu, orang tua diminta tidak mengabaikan gejala awal yang muncul pada anak.

Peringatan tersebut sejalan dengan data Dinas Kesehatan Kotim yang mencatat tujuh warga sempat menjalani perawatan akibat demam dengan gejala mengarah ke DBD.

Dari jumlah tersebut, tiga pasien telah dipulangkan, satu orang dinyatakan positif DBD, sementara empat lainnya masih menjalani perawatan.

Advertisement

dr Made menjelaskan, gejala awal DBD pada anak biasanya berupa demam tinggi mendadak hingga mencapai suhu 39–40 derajat Celsius.

Demam umumnya berlangsung tinggi selama dua hingga tiga hari pertama, kemudian menurun pada hari ketiga hingga ketujuh yang dikenal sebagai fase kritis DBD.

“Selain demam, anak juga bisa mengalami nyeri otot dan sendi, sakit kepala atau nyeri di belakang mata, mual, muntah, nyeri perut, serta ruam kemerahan pada kulit,” jelasnya, Minggu (1/2/2026).

Advertisement

Ia mengingatkan orang tua untuk mewaspadai tanda bahaya atau warning sign DBD yang biasanya muncul pada hari ke-3 hingga ke-7.

Tanda-tanda tersebut antara lain mimisan, gusi berdarah, bintik perdarahan pada kulit, tubuh lemah, gelisah, tangan dan kaki terasa dingin, nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, hingga sesak napas.

“Jika tanda bahaya ini muncul, anak harus segera dibawa ke rumah sakit. Deteksi dan penanganan sejak dini sangat menentukan keberhasilan pengobatan,” tegas dr Made.

Selain deteksi dini, upaya pencegahan juga menjadi hal penting. Orang tua disarankan melindungi anak dari gigitan nyamuk Aedes aegypti dengan memasang kelambu, menggunakan losion antinyamuk yang aman untuk anak, serta mengenakan pakaian tertutup saat beraktivitas di luar rumah.

Pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M, pemasangan kasa nyamuk pada ventilasi dan jendela, serta penggunaan larvasida atau abate pada tempat penampungan air yang sulit dikuras juga dianjurkan. Pasalnya, nyamuk Aedes aegypti aktif menggigit pada pagi hari pukul 09.00–11.00 dan sore hari pukul 15.00–17.00.

Di akhir keterangannya, dr Made menekankan pentingnya menjaga kondisi gizi anak. Asupan gizi seimbang dinilai dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh anak dalam melawan infeksi DBD.

“Anak dengan gizi buruk berisiko mengalami DBD yang lebih berat, sementara anak dengan obesitas juga perlu pemantauan khusus. Karena itu, pastikan anak mendapatkan makanan bergizi seimbang,” pungkasnya. (ktr-2)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SampitIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

13 Paket Sabu Seberat 22,60 Gram Disita, Pemuda 22 Tahun Dibekuk di Parenggean

13 Paket Sabu Seberat 22,60 Gram Disita, Pemuda 22 Tahun Dibekuk di Parenggean

Peredaran narkotika jenis sabu di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali terbongkar oleh jajaran Polsek Parenggean

Sekolah Rakyat Kotim Perluas Penjaringan, Anak Putus Sekolah di 17 Kecamatan Jadi Sasaran

Sekolah Rakyat Kotim Perluas Penjaringan, Anak Putus Sekolah di 17 Kecamatan Jadi Sasaran

Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 01 Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim),, mengajak masyarakat berperan aktif menjaring anak putus sekolah

Tak Bisa Hanya Andalkan Pemerintah, Forum PUSPA Kotim Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak

Tak Bisa Hanya Andalkan Pemerintah, Forum PUSPA Kotim Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak

Pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah perlu keterlibatan semua pihak

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement

Populer