Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Biaya Operasional Nelayan di Kumai Melonjak, Ini Penyababnya

Koko Sulistyo
Penulis: Koko Sulistyo❯

 


Advertisement

 

PERIKANAN: Salah seorang nelayan saat mencari ikan di Sungai Jelai, Sukamara menggunakan perahu mesin.  FOTO: FAUZIANNUR/RADAR SAMPIT
PERIKANAN: Salah seorang nelayan saat mencari ikan di Sungai Jelai, Sukamara menggunakan perahu mesin. FOTO: FAUZIANNUR/RADAR SAMPIT

PANGKALAN BUN – Nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kumai, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), mengeluhkan terhentinya distribusi BBM bersubsidi jenis solar selama dua bulan terakhir. Kondisi ini memaksa nelayan membeli solar eceran dengan harga hampir dua kali lipat dari harga subsidi.

Terhentinya pasokan tersebut disebabkan Koperasi LEPP-M3 Swamitra Kumai, pemegang izin kerja sama dengan PT Pertamina dan pengelola SPBU-N 68741003, tidak mampu melakukan drop order (DO) atau pembelian BBM akibat permasalahan keuangan.

Advertisement

Perwakilan nelayan Kumai, Lehan, mengatakan sejak koperasi tidak lagi melakukan pembelian, nelayan kecil kehilangan akses terhadap solar bersubsidi. Akibatnya, mereka harus membeli solar eceran dengan harga mencapai Rp13.500 per liter, jauh di atas harga solar subsidi yang ditetapkan sebesar Rp6.800 per liter.

“Sudah dua bulan tidak ada pasokan BBM subsidi di koperasi. Nelayan terpaksa membeli solar di luar dengan harga tinggi,” kata Lehan, Selasa (23/12).

Ia menjelaskan, nelayan kecil rata-rata membutuhkan 10 hingga 20 liter solar per hari untuk melaut dan biasanya hanya libur satu hari dalam sepekan. Selisih harga BBM tersebut membuat biaya operasional meningkat signifikan. 

Advertisement

“Dengan harga eceran Rp13.500 per liter, modal yang dikeluarkan sangat besar. Sementara kondisi cuaca ekstrem membuat hasil tangkapan tidak menentu,” ujarnya.

Menurut Lehan, persoalan ini sebenarnya telah disampaikan kepada pihak Pertamina. Namun, kendala utama berada pada internal koperasi yang tidak mampu melakukan pembelian BBM.

“Pertamina siap menyalurkan BBM jika ada pembelian dari koperasi. Selama dua bulan ini tidak ada DO, sehingga pasokan tidak bisa disalurkan,” jelasnya.

Ia berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera turun tangan untuk mencari solusi agar distribusi BBM subsidi bagi nelayan dapat kembali normal. Pasokan BBM subsidi dinilai sangat penting untuk menekan biaya operasional nelayan kecil.

Keluhan serupa disampaikan nelayan lainnya, Usman. Ia mengaku tetap membeli solar eceran demi bisa melaut dan memenuhi kebutuhan hidup.

“Mau tidak mau kami beli solar eceran. Kalau tidak melaut, tidak ada penghasilan sama sekali,” ujarnya. (tyo/yit)

Advertisement
Editor : Heru Prayitno
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SampitIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Jumlah Penumpang Kapal DLU Naik 30 Persen saat Penerbangan Lumpuh

Jumlah Penumpang Kapal DLU Naik 30 Persen saat Penerbangan Lumpuh

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengganggu penerbangan di Kotawaringin Barat berdampak pada pelayaran

Pecah Ban, Truk Tangki Hantam Terios di Kumai hingga Ringsek

Pecah Ban, Truk Tangki Hantam Terios di Kumai hingga Ringsek

Kondisi Toyota Terios setelah bertabrakan dengan truk tangki di Jalan Ahmad Yani Kilometer 20, Desa Bumi Harjo, Kecamatan Kumai

Fraksi NasDem Dorong Peningkatan Tiga Ruas Jalan di Kumai

Fraksi NasDem Dorong Peningkatan Tiga Ruas Jalan di Kumai

Fraksi Partai NasDem DPRD Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) mendorong pemerintah daerah meningkatkan infrastruktur tiga ruas jalan

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement

Populer