Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pelajar Mulai Jenuh Ikuti PJJ

Ria Mekar Anggreany
Ilustrasi pelajar di Lamandau sedang mengikuti pembelajaran jarak jauh mulai 7 September akibat kabut asap.
Ilustrasi pelajar di Lamandau sedang mengikuti pembelajaran jarak jauh mulai 7 September akibat kabut asap.

Advertisement

 

NANGA BULIK, radarsampit.jawapos.com – Sejumlah pelajar di Kabupaten Lamandau mulai jenuh mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti wilayah tersebut. Selain menurunkan motivasi belajar, pembelajaran daring juga menghadapi kendala pendampingan orang tua, biaya kuota internet, dan jaringan yang tidak stabil.

Kebijakan PJJ diterapkan untuk menjaga keselamatan siswa dari paparan asap yang berdampak pada kualitas udara. Namun, pelaksanaan pembelajaran dari rumah yang terus berlanjut mulai dikeluhkan orang tua murid maupun tenaga pendidik.

Advertisement

Salah seorang orang tua murid di Nanga Bulik, Lia, mengatakan anak-anaknya mulai bosan karena harus terus belajar dari rumah tanpa berinteraksi langsung dengan teman-teman sekolah. Menurutnya, konsentrasi dan motivasi belajar anak juga menurun sejak PJJ kembali diterapkan.

“Anak-anak sudah mulai bosan di rumah terus. Kalau belajar daring begini, konsentrasi mereka gampang terpecah dan lebih banyak mainnya daripada belajarnya. Belum lagi kami sebagai orang tua juga punya kesibukan lain, jadi cukup kewalahan harus membagi waktu untuk terus mendampingi mereka,” ujar Lia.

Selain kejenuhan, orang tua murid mengeluhkan meningkatnya pengeluaran untuk membeli kuota internet. Jaringan internet yang terkadang tidak stabil di sejumlah titik di Nanga Bulik juga menghambat pengiriman tugas sekolah.

Advertisement

Keluhan serupa disampaikan tenaga pendidik. Meski siswa belajar dari rumah, para guru tetap datang ke sekolah. Mereka mengaku kesulitan memantau aktivitas dan kedisiplinan siswa selama pembelajaran berlangsung.

“Karena tidak bisa langsung bertatap muka, kami juga mengalami kendala dalam mengawasi anak secara langsung saat jam pembelajaran. Ada juga yang mengabaikan tugas dengan alasan sinyal dan lain-lain. Bahkan, saat penilaian tengah semester (PTS), ada beberapa anak yang tidak mengikuti ulangan hingga harus dilakukan ulangan susulan sampai tiga kali,” ujar salah seorang guru.

Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam pelaksanaan PJJ di tengah kabut asap karhutla. Di satu sisi, pembelajaran dari rumah dilakukan untuk melindungi siswa dari paparan asap, tetapi di sisi lain, kejenuhan dan kendala teknis turut memengaruhi proses belajar mengajar. (mex/yit)

 

Advertisement
Editor : Heru Prayitno
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SampitIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Dampak Karhutla di Kalteng Belum Ada Tanda Mereda, Ratusan Sekolah masih Terapkan PJJ

Dampak Karhutla di Kalteng Belum Ada Tanda Mereda, Ratusan Sekolah masih Terapkan PJJ

Dampak Karhutla di Kalteng berupa paparan kabut asap Belum Ada Tanda Mereda, Sektor Pendidikan Paling Terdampak, serta transportasi udara

Baru 90 Menit Belajar, Siswa di Nanga Bulik Kembali PJJ

Baru 90 Menit Belajar, Siswa di Nanga Bulik Kembali PJJ

Ilustrasi pelajar di Kota Nanga Bulik, Kabupaten Lamandau, kembali menjalani Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) setelah kualitas udara memburuk

PJJ di Sukamara Diperpanjang hingga 24 Oktober

PJJ di Sukamara Diperpanjang hingga 24 Oktober

Pemerintah Kabupaten Sukamara kembali memperpanjang pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi satuan pendidikan hingga 24 Oktober 2026.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement

Populer