Sebaran Hotspot di Kotim Cenderung ke Wilayah Utara


SAMPIT,radarsampitjawapos.com- Memasuki musim kemarau tahun 2026, potensi kemunculan titik panas (hotspot) di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) perlu diwaspadai. Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit Mulyono Leo Nardo mengingatkan bahwa pola sebaran hotspot tahun ini menunjukkan kecenderungan berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Ia menjelaskan, berdasarkan evaluasi historis, pada tahun 2015 wilayah selatan Kotim seperti Kecamatan Teluk Sampit, Pulau Hanaut, Seranau, Mentaya Hilir Utara, dan Mentaya Hilir Selatan menjadi penyumbang hotspot terbanyak. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap jarak pandang di Kota Sampit.
“Hotspot di wilayah selatan sangat mempengaruhi visibility di Sampit, karena arah angin dominan dari selatan dan tenggara menuju ke Sampit hingga ke Palangka Raya,” ujarnya.
Namun, untuk tahun 2026 hingga pembaruan data per 31 Maret, pola tersebar mengalami pergeseran. BMKG mencatat, hotspot justru lebih banyak muncul di wilayah utara Kotim. Kecamatan Antang Kalang menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 45 titik, disusul Mentaya Hulu 21 titik, Telaga Antang 16 titik, serta Cempaga dan Bukit Santuai masing masing 12 titik.
“Artinya, ada kecenderungan peningkatan hotspot di wilayah utara dibandingkan selatan,” tambahnya.
Terkait fenomena iklim global, Mulyono menegaskan bahwa istilah El Nino Godzilla bukanlah terminologi resmi dalam meteorologi, melainkan istilah populer untuk menggambadkan El Nino yang sangat kuat.
Baca Juga: Ratusan Hotspot, Lebih 77 Hektar Lahan Terbakar di Kotim sejak Awal 2026
Sementara itu, BMKG memprediksi kondisi ENSO (El Nino Southern Oscillation) akan berada dalam fase netral hingga pertengahan 2026, kemudian bertransisi menjadi El Nino lemah pada semester kedua.
Selain itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) juga diperkirakan tetap netral hingga pertengahan tahun. Saat ini, monitoring hari tanpa hujan (HTH) di Kotim masih tergolong sangat rendah, berkisar 1 hingga 5 hari.
BMKG memperkirakan awal musim kemarau di Kotim akan dimulai pada Juni 2026, dengan sebagian wilayah mengalami percepatan hingga dua sampai tiga dasarian. Durasi musim kemarau diprediksi berlangsung selama 10 hingga 12 dasarian atau 120 hari, dengan puncaknya terjadi pada Agustus.
Dari sisi curah hujan, tren penurunan diperkirakan terjadi secara bertahap. Pada April curah hujan masih berada di kategori menengah, yakni 200–300 mm, kemudian menurun pada Mei menjadi 50–200 mm. Memasuki Juni hingga Juli, curah hujan semalin rendah, hingga mencapai i titik terendah pada Agustus dan September di kisaran 0–50 mm.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




