
PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melumpuhkan aktivitas penerbangan di Bandara Iskandar Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat. Kondisi ini memicu lonjakan penumpang kapal laut karena masyarakat beralih ke jalur laut untuk bepergian ke luar pulau.
Sejumlah maskapai yang melayani rute Pangkalan Bun–Semarang, Surabaya, dan Jakarta menghentikan sementara operasional penerbangan akibat jarak pandang yang membahayakan keselamatan penerbangan.
Maskapai NAM Air membatalkan seluruh jadwal penerbangan dari Pangkalan Bun setidaknya hingga 25 Oktober 2026. Sementara itu, Batik Air menghentikan operasional penerbangannya dalam dua pekan terakhir hingga 23 Oktober 2026.
Terhentinya penerbangan membuat calon penumpang harus mencari alternatif transportasi. Dampaknya, jumlah penumpang di Pelabuhan Panglima Utar, Kumai, meningkat seiring banyaknya masyarakat yang beralih menggunakan kapal laut.
Lonjakan penumpang juga dialami rombongan 45 calon jemaah umrah dari PT Alkamila Pangkalan Bun. Mereka semula dijadwalkan terbang menuju Jakarta pada 17 Oktober 2026, tetapi harus mengubah rencana perjalanan akibat penghentian sementara penerbangan.
Untuk mengejar jadwal keberangkatan ke Tanah Suci, rombongan tersebut memajukan perjalanan dengan menumpangi kapal laut menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, pada 16 Oktober 2026.
Pimpinan Cabang PT Pelni Pangkalan Bun, Andry Yudha Prawira, membenarkan adanya lonjakan penumpang yang dipicu kabut asap.
Menurut Andry, pada keberangkatan 16 Oktober 2026, sebanyak 1.300 penumpang diberangkatkan menuju Surabaya dan sejumlah kota tujuan lain di wilayah Indonesia Timur.
“Penumpang dominan berasal dari pekerja sektor perkebunan kelapa sawit hingga masyarakat umum,” ujarnya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





