Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Redlight District, Kawasan Erotis nan Elit Amsterdam yang Kini Sedikit Insyaf

Sabrianoor • Jumat, 8 November 2024 | 19:52 WIB
DUNIA MALAM: Suasana malam di Redlight District Amsterdam.
DUNIA MALAM: Suasana malam di Redlight District Amsterdam.

Radarsampit.jawapos.com – Uang dan Seks tak dipungkiri memiliki relevansi meski diselimuti tabir ketabuan sosial.

Di mana seseorang yang berhubungan seks dengan seseorang lainnya untuk uang atau dikenal dengan prostitusi.

Pada perkembangannya, prostitusi sendiri telah berkembang menjadi ladang bisnis yang beresiko dan muncul di sebagian besar belahan dunia.

NamunM ketika beralih ke Amsterdam, Belanda, telah ditemukan bisnis prostitusi berabad-abad lamanya yang dikemas sedemikian rupa. Dikenal dengan Redlight District.

Dalam eksploitasi dan kerahasiaan di Redlight ada pemeriksaan ketat dan pengawasan untuk meminimalkan potensi pelanggaran, tujuan utamanya adalah pencegahan prostitusi paksa.

Dalam sebuah etalase kaca pengunjung distrik ini dapat melihat pelacur sebagai pria dan wanita kuat yang berkembang dalam profesi mereka.

Mereka memancarkan kebanggaan, baik dalam tubuh mereka dan pekerjaan mereka.

Hanya dengan menekan sebuah tombol, pengunjung gila seks dapat mengajukan permintaan untuk berhubungan seks.

Para pekerja seks komersial dengan berpakaian minim nan menggoda akan membuka pintu ketika menyetujuinya.

Tidak hanya pekerja seks perempuan namun juga ada laki-laki hingga orientasi seks yang tidak biasa seperti lesbian, gay, hingga threesome.

Ketika ada kekerasan dengan menekan tombol, akan berbunyi alarm dan petugas segera menghampiri.

 

Prostitusi Tertua

Redlight District atau 'De Wallen' seperti daerah ini dikenal penduduk setempat, adalah distrik tertua di Amsterdam.

Sejak dibangun sekitar tahun 1385, ia terkenal dan terkenal bagi para wanita yang menghuni jalan-jalannya.

Sejak awal sejarah modern, Amsterdam telah menjadi kota perdagangan dengan pelabuhan besar.

Pada awal pelaut abad keempat belas dan kelima belas, yang menunggu kapal mereka berangkat, menjelajahi De Wallen.

Ketika mencari kesenangan, distrik ini adalah lingkungan yang memberi mereka semua yang mereka butuhkan, baik bir maupun wanita sudah tersedia di bar dan penginapan yang tak terhitung jumlahnya.

Amsterdam sendiri sudah lama dikenal dengan sebutan sin city alias kota dosa yang memang tempat 'bersenang-senang' bagi seks bahkan penggila obat-obatan terlarang.

Ganja atau marijuana dijual bebas di Belanda, bahkan ada permen yang terbuat dari ganja.

 

Kontroversi

Kekristenan cukup mendominasi di Eropa sekitar abad 18-19, prostitusi di Belanda tak sedikit mendapat kecaman.

Pada akhir abad kesembilan belas, perwakilan agama keluar pada malam hari dalam upaya untuk mengubah sikap kedua klien dan pelacur, melambaikan teks-teks Alkitab di depan mereka dan menyanyikan lagu-lagu saleh.

Moral baru, prostitusi yang sangat menentang, menyebabkan larangan pada rumah bordil yang dikeluarkan oleh dewan kota pada tahun 1897 dan 1902.

Namun, ketika pemikiran hak asasi tumbuh, prostitusi masih bisa mempertahankan eksistensinya hingga berkembang menjadi kawasan erotis nan elit serta menawarkan kenikmatan tubuh manusia dari berbagai ras hingga Pemerintah Belanda melegalkannya pada tahun 2020.

Kontroversi kembali terjadi saat pandemi Covid 19. Sekitar tahun 2020-2021.

Menurut laporan Het Parool, selain penutupan klub-klub seks di DeWallen, pemerintah Belanda juga memutuskan untuk meliburkan semua restoran, kafe dan sekolah sampai 6 April. 

Penutupan yang diberlakukan pada pukul 18.00 (17.00 GMT) Minggu 15 Maret lalu menyebabkan terjadinya antrean panjang di kedai-kedai kopi dan ganja.

Lingkungan De Wallen terkenal  mampu menarik jutaan pengunjung daya tarik sensualnya.

Karena mampu menartik jutaan orang maka berpotensi besar terjadi penularan covid-19. 

Beberapa klub terkenal seperti Casa Rosso, Peepshow, Banana Bar, dan Erotic Museum yang berdiri sepanjang kanal tua De Wallen menutup tempatnya sebagai  dukungan terhadap pemerintah.

Kini, seusai pandemi mereda, Redlight mulai beroperasi kembali, namun dengan pembatasan jam operasional.

Hal ini dilakukan Pemerintah Belanda dalam upaya rebranding Amsterdam.

Selain pembatasan jam dan rencana  relokasi Red Light District, pemerintah juga  memperketat penjualan alkohol, obat-obatan, bahkan aktivitas merokok di jalan. (sbn/ign)

Referensi. Redlightsecrets, amsterdamtour, CNN

Editor : Gunawan.
#belanda #amsterdam #prostitusi