Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rusaknya Ekosistem dan Rantai Makanan Akibat Dampak Karhula Bakal Dirasakan Manusia

Yuni Pratiwi Iskandar
Seekor ular pemangsa tikus yang turun mati terpanggang di areal kebakaran lahan, dan sudah sering ditemukan oleh petugas pemadaman.(istimewa/modifikasi AI)
Seekor ular pemangsa tikus yang turun mati terpanggang di areal kebakaran lahan, dan sudah sering ditemukan oleh petugas pemadaman.(istimewa/modifikasi AI)

Advertisement

Serangga Penyerbuk Berkurang, Tikus Berpotensi Mengganas

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menjalar, selain merugikan semua pihak, diprediksi juga bakal memunculkan dampak kerusakan ekosistem. Banyak satwa kehilangan habitat, rantai makanan terganggu, hingga ancaman ledakan populasi tikus yang berpotensi menghantam tanaman pertanian dan perkebunan.

-------------------

Advertisement

Ular menjadi salah satu satwa liar yang paling terdampak ketika habitatnya terbakar. Padahal, keberadaan ular memiliki peran penting sebagai predator alami tikus.

“Ular itu predator alami tikus. Setelah kebakaran ini, perkiraan kami tikus akan menjadi masalah besar bagi petani karena bisa menyerang tanaman, baik sawit, buah-buahan maupun sayur-mayur,” kata Muriansyah, Komandan BKSDA Resor Sampit.

Ketika populasi ular menyusut, keseimbangan rantai makanan ikut terganggu. Predator berkurang, sementara tikus memiliki peluang berkembang lebih banyak. Pada akhirnya, persoalan ekologis itu dapat berbalik menjadi persoalan ekonomi bagi petani.

Advertisement

Bukan hanya ular yang menjadi korban. Serangga penyerbuk juga ikut terdampak. Api dan kepulan asap dapat mematikan berbagai jenis serangga yang berperan dalam membantu proses pembungaan dan pembuahan tanaman.

“Serangga penyerbuk juga banyak yang mati, baik karena api maupun asap kebakaran. Ini juga menjadi masalah setelah kebakaran karena tanaman buah-buahan akan sedikit berbunga dan berbuah,” papar Muriansyah.

Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat. Namun lanjutnya, ketika musim buah tiba, efeknya bisa terasa. Tanaman yang seharusnya berbunga dan menghasilkan buah justru mengalami penurunan produktivitas akibat terganggunya proses penyerbukan.

Muriansyah menegaskan, kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Pengalaman karhutla besar di Kotim pada 2015 dan 2019 menjadi gambaran bahwa kerusakan ekosistem dapat meninggalkan dampak panjang terhadap sektor perkebunan.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SampitIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Derita Novita dan Bara, Dua Orangutan yang Nyaris Kehilangan Nyawa saat Terjebak Karhutla

Derita Novita dan Bara, Dua Orangutan yang Nyaris Kehilangan Nyawa saat Terjebak Karhutla

Derita Novita dan Bara, Dua Orangutan yang Nyaris Kehilangan Nyawa saat Terjebak Karhutla. Kondisinya terluka parah di tangan dan kaki

Sungai Mentaya Tak Lagi Ramah di Tengah Kemarau dan Krisis Air, Petang dan Malam Buaya Mengintai

Sungai Mentaya Tak Lagi Ramah di Tengah Kemarau dan Krisis Air, Petang dan Malam Buaya Mengintai

Sungai Mentaya Tak Lagi Ramah di Tengah Kemarau dan Krisis Air, memasuki hari Petang dan Malam Buaya Mengintai, terutama bagi pemancing

Terjebak di Tengah Karhutla, Sindi Terpaksa Dibius untuk Dievakuasi Tim BKSDA

Terjebak di Tengah Karhutla, Sindi Terpaksa Dibius untuk Dievakuasi Tim BKSDA

Satu individu orangutan betina ditemukan berada di tengah kawasan yang masih terbakar di Hutan Tanaman Rakyat (HTR) Ramban, Dusun Ramban

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement

Populer