Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kondisi Usaha Konveksi di Pasar Indra Kencana yang Terancam Gulung Tikar

Koko Sulistyo
Penulis: Koko Sulistyo❯

Suasana pasar konveksi di Indra Kencana, Kelurahan Raja, Kecamatan Arut Selatan, Pangkalan Bun nampak sepi dari aktivitas jual beli, Senin (17/11).
Suasana pasar konveksi di Indra Kencana, Kelurahan Raja, Kecamatan Arut Selatan, Pangkalan Bun nampak sepi dari aktivitas jual beli, Senin (17/11).
Digempur Toko Online dan Murahnya Produk Impor


Advertisement

Bisnis dan perdagangan konveksi di Pasar Indra Kencana, Pangkalan Bun, Kelurahan Raja, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), bagai diujung tanduk. Kondisi itu pun meruntuhkan harapan para pengusaha dan pekerja di sektor informal itu. Mereka terancam Gulung Tikar.

Koko Sulistyo, Pangkalan Bun

"Masyarakat saat ini lebih memilih kemudahan akses dan variasi produk yang ditawarkan platform digital, dari pada harus berusaha payah datang ke pasar dan berdesak-desakan," keluh salah satu pedagang pasar Indra Kencana, Ilham, Senin (17/11).

Advertisement

Diakui oleh para pedagang, pada saat pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu,  menjadi titik perubahan belanja konsumen yang beralih dari toko fisik (offline) ke toko daring (online).

Ilham menilai, pedagang dengan sistem konvensional telah kalah bersaing dengan pedagang di media sosial. Seperti tiktok shop dan Instagram yang menawarkan harga lebih kompetitif.

Selain itu menurutnya, gempuran produk konveksi murah juga sangat mempengaruhi bisnis mereka. Terutama produk pakaian impor dengan harga yang sangat murah, sehingga membuat produk lokal sulit bersaing di pasar, baik secara offline maupun online.

Advertisement

"Kondisi tersebut diperparah dengan menurunnya daya beli masyarakat. Bagaimana kami tidak gulung tikar. Sering kami seharian tidak mendapatkan pembeli, sementara kami harus menggaji karyawan," keluh Ilham.

Pedagang lainnya  Dessy mengaku bahwa penurunan omset mereka hingga mencapai 90 persen dibandingkan sebelum pandemi Covid-19 lalu.

Ia mengaku, sepinya kunjungan membuat mereka menutup tokonya lebih awal. Dahulu bisa sampai jam 21.30 WIB. Sementara saat ini pukul 17.00 WIB - 19.30 WIB sudah mereka tutup.

"Sudah omset turun, pengunjung juga turun hamper 85 persen. Saat ini banyak toko yang sudah merumahkan karyawan dan bosnya yang memilih menjaga toko setiap hari," beber Dessy.

Dari tiga lantai pasar konveksi (pakaian) terbesar di Kota Pangkalan Bun itu. Praktis hanya tersisa satu lantai dasar. Itupun tidak semua toko terisi penuh. Sebagian memilih tutup dan merumahkan karyawannya.

Informasi dihimpun, runtuhnya kejayaan pasar konveksi itu disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor utama, terutama persaingan ketat dari penjualan daring (online shop) dan masuknya produk import murah (pakaian bekas ball-ball an). Hal itu menyebabkan omzet pedagang anjlok hingga 90 persen. (*/gus)

 

 

 

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SampitIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Penjual dan Pembeli Miras Diangkut Satpol PP

Penjual dan Pembeli Miras Diangkut Satpol PP

Personel Satpol PP Kotawaringin Barat saat membawa barang bukti minuman keras dari sebuah rumah di Jalan HM Rafii, RT 22, Kelurahan Madurejo

Harga Bawang Putih Melonjak, Cabai dan Telur Justru Turun di Pangkalan Bun

Harga Bawang Putih Melonjak, Cabai dan Telur Justru Turun di Pangkalan Bun

Perkembangan harga di Minggu ke tiga bulan Juli 2026 di sejumlah pasar tradisional di Kota Pangkalan Bun menunjukkan tren kenaikan harga

Pemkab Kotawaringin Barat Tata PKL di Jalan Diponegoro

Pemkab Kotawaringin Barat Tata PKL di Jalan Diponegoro

Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat melalui tim gabungan melaksanakan survei lapangan dan sosialisasi rencana relokasi

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement

Populer