Jalan Sungai Mitak Runtuh, Penyebabnya Jadi Perdebatan Warga

M. Rifani Dewantara • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 10:56 WIB
Kondisi jalan semenisasi di Desa Sungai Mitak Bawah yang ambruk, Rabu (7/10).  (Dandi/Radar Sampit)
Kondisi jalan semenisasi di Desa Sungai Mitak Bawah yang ambruk, Rabu (7/10).  (Dandi/Radar Sampit) 

 

KUALA PEMBUANG, radarsampit.jawapos.com – Jalan semenisasi di Desa Sungai Mitak Bawah ambruk pada Selasa (6/10) sekitar pukul 19.00 WIB. Kerusakan tersebut mengganggu aktivitas dan akses warga di sekitar lokasi.

Ketua RT 04 Desa Persil Raya, Aliyum, mengatakan ambruknya jalan terjadi pada malam hari dan langsung berdampak terhadap aktivitas masyarakat.

“Berdasarkan informasi dari masyarakat, jalan ambruk sekitar pukul 19.00 WIB. Akibatnya banyak warga yang terdampak dan kesulitan beraktivitas,” kata Aliyum, Rabu (7/10).

Menurutnya, penyebab utama ambruknya jalan belum dapat dipastikan. Namun, warga menduga derasnya arus sungai yang menghantam bahu jalan turut mempercepat tergerusnya tanah di sekitar badan jalan.

Selain arus sungai, sebagian warga menduga aktivitas penyedotan air sungai oleh PDAM Tirta Seruyan turut menjadi salah satu pemicu. Namun, dugaan tersebut masih menjadi perdebatan di tengah masyarakat.

“Sebagian warga menduga aktivitas penyedotan air oleh PDAM menjadi salah satu pemicu tergerusnya tanah di sekitar lokasi. Namun, dugaan tersebut juga diragukan oleh warga lainnya,” ujarnya.

Aliyum menjelaskan, kondisi arus sungai di sekitar lokasi juga menjadi perhatian. Hantaman aliran air dari arah murung atau endapan/gundukan tanah di seberang sungai disebut mengubah arah aliran secara drastis.

Aliran air kemudian menghantam bagian siring dan badan jalan yang berada di kawasan permukiman warga. Kondisi tersebut dinilai membuat pondasi jalan semakin rentan, terlebih pengerjaan pengerukan atau pemotongan murung sebelumnya dinilai belum maksimal.

“Awal pengerjaan jalan, murung yang berfungsi menahan derasnya air sungai seharusnya disesuaikan dengan kondisi jalan. Minimal sekitar lima sampai enam meter,” jelasnya.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Seruyan bersama instansi teknis segera melakukan pengecekan di lapangan. Penanganan, menurutnya, perlu dilakukan berdasarkan kajian teknis agar kerusakan tidak semakin meluas dan akses masyarakat tetap terjaga.

Aliyum menegaskan, penanganan tidak cukup hanya dengan memperbaiki badan jalan yang ambruk. Kondisi aliran sungai dan penyebab tergerusnya pondasi juga perlu diperhatikan agar kerusakan serupa tidak kembali terjadi. (rdw/yit)

 

Editor : Heru Prayitno
jalan runtuh seruyan