KUALA PEMBUANG,radarsampit.jawapos.com-Kenaikan harga sejumlah bahan pokok di Kabupaten Seruyan, khususnya cabai dan bawang, dipicu oleh terganggunya jalur distribusi barang dari daerah pemasok, Senin (22/6).
Kondisi tersebut diperparah dengan terbatasnya armada kapal yang melayani pengiriman ke wilayah Seruyan.
Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Seruyan Adhian Noor mengatakan, saat ini sebagian besar pasokan kebutuhan pokok masuk melalui Sampit.
Jalur tersebut membuat biaya distribusi menjadi lebih mahal karena harus melalui proses bongkar muat menggunakan peti kemas sebelum diteruskan ke Seruyan.
“Dulu kapal yang masuk ke Seruyan relatif rutin setiap minggu. Sekarang kondisinya berbeda, bahkan dalam sebulan belum tentu ada kapal yang bersandar. Akibatnya biaya distribusi meningkat dan berpengaruh terhadap harga barang di pasaran,” ujarnya.
Baca Juga: Diskoperindag Seruyan Telusuri Penyebab Kelangkaan LPG 3 Kg
Menurut Adhian, kenaikan harga tidak hanya terjadi di Seruyan, tetapi juga menjadi fenomena nasional. Namun daerah yang bergantung pada pasokan dari luar wilayah merasakan dampak yang lebih besar, terutama untuk komoditas yang tidak bisa disimpan dalam waktu lama seperti cabai, bawang, dan ayam.
“Kalau stok dibeli banyak, risiko busuk dan penyusutan tinggi. Tetapi kalau membeli sedikit, ongkos angkut menjadi mahal. Ini yang menjadi dilema bagi pedagang maupun distributor,” katanya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) tengah menyiapkan skema subsidi biaya distribusi.
“Saat ini data kebutuhan dan biaya transportasi berbagai komoditas telah diminta sebagai bahan penyusunan kebijakan,” ungkapnya.
Adhian menjelaskan, melalui subsidi tersebut diharapkan pelaku usaha tidak lagi membebankan seluruh biaya angkut ke harga jual barang sehingga harga kebutuhan pokok dapat lebih terkendali.
“Rencananya biaya transportasi yang akan dibantu pemerintah. Dengan begitu komponen ongkos distribusi tidak terlalu membebani harga jual di tingkat konsumen,” jelasnya.
Ia menambahkan, upaya memenuhi kebutuhan cabai dan bawang dari produksi lokal juga masih menghadapi kendala. Kondisi tanah di sejumlah wilayah Seruyan dinilai kurang cocok untuk pengembangan komoditas tersebut.
“Beberapa kali sudah dicoba menanam bawang, bahkan melalui lahan binaan. Tanamannya tumbuh baik di awal, tetapi menjelang berbuah justru layu. Salah satu penyebabnya karena tingkat keasaman tanah cukup tinggi,” pungkasnya. (rdw/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama