Alasan Mengapa “Like” di Media Sosial Terasa Lebih Berdampak Bagi Orang Depresi

Agus Jaka Purnama • Dipublikasikan Jumat, 16 Oktober 2026 | 20:46 WIB
ilustrasi ketika melihat medsos di ponsel (net)
ilustrasi ketika melihat medsos di ponsel (net)

Pernahkah Anda mengunggah sesuatu di media sosial, lalu tanpa sadar terus memeriksa aplikasi untuk melihat berapa banyak orang yang menyukai postingan Anda?

Bagi sebagian orang, jumlah likes hanyalah angka kecil yang tidak terlalu berarti. Namun, ketika seseorang sedang mengalami depresi, angka tersebut bisa terasa jauh lebih personal dan emosional karena memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri, memproses informasi sosial, dan merespons penghargaan.

Dilansir dari Psychology Today, berikut adalah enam alasan psikologis mengapa jumlah likes di media sosial terasa sangat krusial saat kondisi mental sedang rapuh:

1. Pengganti Validasi Diri

Depresi sering kali memicu evaluasi diri yang negatif. Seseorang mungkin merasa tidak cukup baik, tidak menarik, atau tidak berharga.

• Makna Likes: Otak tidak lagi membaca angka secara objektif, melainkan menerjemahkannya sebagai bukti penerimaan: "Berarti aku masih diterima."

• Dampaknya: Ketika harga diri sedang rapuh, likes menjadi indikator semu untuk mengukur nilai diri. Akibatnya, kondisi emosional menjadi tidak stabil karena ikut naik-turun mengikuti angka di layar.

Baca Juga: Tertawa Adalah Obat untuk Segala Hal, Mulai dari Fisik, Psikologis, hingga Sosial

2. Otak Lebih Peka Terhadap Penolakan (Kecenderungan Kognitif Negatif)

Depresi membuat pikiran seseorang lebih mudah mengambil interpretasi negatif dari informasi yang ambigu.

• Distorsi Pikiran: Ketika seseorang tidak memberikan like, pikiran bawah sadar langsung mengambil kesimpulan sepihak: "Dia tidak suka aku," yang kemudian berkembang menjadi "Tidak ada yang menghargaiku."

• Fakta vs Pikiran: Tidak mendapatkan likes bisa terjadi karena masalah algoritma atau garis waktu (timeline), bukan berarti sebuah penolakan nyata.

3. Memberikan "Hadiah Instan" di Saat Hidup Terasa Hambar (Anhedonia)

Salah satu gejala utama depresi adalah anhedonia, yaitu berkurangnya kemampuan merasakan kesenangan dari aktivitas sehari-hari (seperti hobi atau bertemu teman).

• Penghargaan Cepat: Notifikasi likes memberikan umpan balik sosial yang sangat instan tanpa perlu usaha besar.

• Siklus Candu: Kondisi ini menciptakan lingkaran setan: Posting \(\rightarrow \) menunggu likes \(\rightarrow \) merasa sedikit lebih baik \(\rightarrow \) ingin mengulanginya lagi untuk melepaskan penat.

4. Memicu Perbandingan Sosial yang Tidak Sehat

Media sosial menyediakan panggung terbuka untuk melakukan upward social comparison—membandingkan diri dengan orang lain yang terlihat lebih unggul.

• Ilusi Angka: Angka likes membuat perbandingan terasa sangat nyata dan objektif (misalnya, membandingkan 15 likes milik sendiri dengan 1.500 likes milik orang lain).

• Dampak Mental: Penelitian menunjukkan bahwa durasi bermain media sosial tidak lebih berbahaya dibanding perilaku terus-menerus menilai diri sendiri berdasarkan kehidupan orang lain.

5. Siklus Validasi yang Sulit Dihentikan

Ada perbedaan besar antara menikmati validasi dan membutuhkannya sebagai satu-satunya penopang harga diri.

• Konsep Reinforcement: Otak manusia belajar dari konsekuensi. Ketidakpastian jumlah likes (kadang banyak, kadang sedikit) justru membuat seseorang makin terobsesi untuk terus memeriksa ponselnya.

• Kecemasan Meningkat: Kebiasaan ini perlahan mengubah aktivitas iseng menjadi dorongan kompulsif yang memicu kecemasan baru.

6. Jembatan Semu untuk Terhubung dengan Dunia Luar

Saat depresi, berinteraksi langsung secara fisik terasa sangat melelahkan. Media sosial sering kali menjadi alternatif paling aman dan minim energi.

• Sisi Positif: Satu like atau komentar kecil memang bisa menjadi bentuk dukungan sosial yang menurunkan rasa kesepian.

• Sisi Negatif: Menjadi berbahaya jika interaksi digital ini dijadikan ukuran utama untuk menilai apakah kita layak dipedulikan atau tidak.

Apakah Terlalu Peduli pada Likes Berarti Depresi?

Jawabannya adalah tidak. Merasa senang saat mendapat banyak likes atau kecewa saat postingan sepi adalah hal yang normal. Hubungan antara media sosial dan kesehatan mental sangat kompleks.

Anda perlu mulai waspada jika muncul pola dan intensitas berikut secara konsisten:

• Suasana hati seharian penuh rusak hanya karena postingan sepi.

• Menghapus postingan karena jumlah likes tidak sesuai harapan.

• Merasa tidak berharga bahkan setelah mendapatkan banyak respons positif.

Cara Mengurangi Ketergantungan Emosional pada Likes

Tujuannya bukan untuk menghapus media sosial sepenuhnya, melainkan mengubah hubunganmu dengan aplikasi tersebut:

1. Sadar Sebelum Membuka Aplikasi: Tanyakan pada diri sendiri: "Aku membuka aplikasi ini karena ingin hiburan atau karena sedang merasa kesepian dan butuh pengakuan?"

2. Pisahkan Fakta dan Interpretasi: Ingat bahwa "Postingan saya mendapat 10 likes" (Fakta) tidak sama dengan "Semua orang membenci saya" (Interpretasi).

3. Batasi Cek Notifikasi Otomatis: Latih diri untuk tidak langsung membuka ponsel setiap kali ada waktu luang.

4. Cari Penghargaan di Dunia Nyata: Alihkan energi ke aktivitas yang memberi kepuasan nyata tanpa angka, seperti berolahraga, berjalan kaki, atau mengobrol langsung.

5. Ingat Cara Kerja Algoritma: Jumlah likes dipengaruhi jam tayang, tren, dan algoritma sistem—bukan parameter untuk mengukur nilai kemanusiaanmu.(ir/set/jpc)

Editor : Agus Jaka Purnama
like psikologis media sosial postingan depresi