SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Nasi kuning menjadi salah satu makanan khas Kalimantan. Berbeda dari nasi kuning Jawa, nasi kuning khas Kalimantan ini beraroma pandan dan disiram dengan bumbu masak habang yang manis dan gurih. Lauk pauknya pun beragam, mulai dari iwak haruan (ikan gabus), telur bebek, ayam, daging sapi, hingga hati ayam.
Bumbu merah yang sering disebut bumbu habang terbuat dari tumisan cabai merah kering, dicampur dengan bumbu rempah beraroma khas seperti kayu manis dan cengkeh, rasanya yang cenderung manis dan gurih membuat nasi kuning Banjar ini lebih nikmat.
Salah satu nasi kuning di Kota Sampit yang cukup diminati konsumen adalah Nasi Kuning Tangkulis. Warung nasi kuning yang terletak di Jl. Tangkulis Sampit ini buka sejak tahun 2001. Nasi kuning dengan rasa yang dominan manis gurih selalu habis dibeli para pecintanya. Sajiannya juga dilengkapi dengan mie kuning dan acar timun.
Noorjenah, pemilik warung, menyedikan sampai 200 porsi nasi kuning setiap harinya. Bahkan sering kali banyak pelanggan yang gigit jari karena tidak kebagian.
Noorjenah dibantu oleh anak dan menantunya mulai memasak nasi kuning sejak pukul 03.00 dan warung nasi kuningnya buka mulai pukul 05.00 pagi hingga pukul 10.00 pagi, bahkan apabila hari jumat atau minggu warungnya bisa tutup pukul 07.00 pagi.
“Awalnya kami tinggal di Kuala Pembuang setelah suami meninggal, saya dan anak-anak pindah ke Sampit dan membuka warung nasi kuning ini,” ujar Noorjenah.
Warung yang sudah buka sejak 25 tahun ini memiliki banyak pelanggan, dari anak-anak hingga orang tua. Eko, misalnya. Hampir setiap minggu selalu membeli nasi kuning untuk bekal anaknya ke sekolah.
“Nasi kuningnya tidak terlalu karau, lauknya banyak dan bumbu habangnya enak sesuai dengan selera anak,” ujarnya.
Pelanggan setianya bukan hanya dari Sampit. Kebanyakan warga Tionghoa membeli nasi kuningnya sebagai oleh-oleh keluarga di Jakarta dan Surabaya.
Setiap hari Jumat banyak pelanggan tetap yang membeli nasi kuningnya untuk dibagikan sebagai Jumat berkah. Selain menjual nasi kuning, warung ini juga menyediakan lontong dan buras.
Naiknya harga bahan makanan dan juga rempah-rempah tidak lantas membuat Noorjenah mengurangi porsi bumbu masak habangnya, karena akan mengurangi rasa dari nasi kuningnya. Selain bahan makanan dan rempah yang mahal saat ini juga terkendala dengan gas elpiji yang kadang sulit dicari.
Noorjenah berharap usaha warung nasi kuningnya ini tetap bertahan dan bisa lebih berkembang lagi, bisa menambah menu baru di warungnya dan bisa menyediakan tempat yang lebih nyaman bagi pelanggannya. (rm-110/yit)
Editor : Heru Prayitno