SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Asam lambung jangan dianggap sepele. Kondisi ini terjadi ketika cairan asam yang secara normal diproduksi lambung untuk membantu mencerna makanan naik kembali ke kerongkongan.
Asam lambung sendiri merupakan cairan pencernaan yang diproduksi secara alami oleh lambung. Namun, istilah asam lambung juga sering digunakan untuk menyebut kondisi ketika cairan tersebut naik kembali ke kerongkongan atau esofagus. Dalam dunia medis, kondisi tersebut dikenal sebagai Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).
Asam lambung naik dapat terjadi ketika otot lower esophageal sphincter (LES), yakni katup yang berada di antara kerongkongan dan lambung, melemah atau terbuka pada waktu yang tidak semestinya. Akibatnya, asam lambung dapat naik ke kerongkongan dan menyebabkan iritasi, sensasi terbakar hingga luka.
Keluhan asam lambung disebut banyak dialami usia produktif, terutama 20 hingga 50 tahun, serta kelompok usia lanjut di atas 60 tahun. Kini, keluhan serupa juga semakin sering ditemukan pada kelompok usia muda, termasuk Gen Z.
Bisa Memicu Komplikasi
Secara umum, asam lambung tidak menyebabkan kematian secara langsung. Namun, kondisi yang dibiarkan tanpa penanganan dapat memicu komplikasi serius.
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi antara lain:
-
Pneumonia aspirasi, yakni infeksi dan peradangan pada paru-paru akibat masuknya benda asing seperti makanan, minuman, muntahan atau air liur ke saluran pernapasan.
-
Esofagitis dan perdarahan, berupa peradangan pada dinding kerongkongan akibat iritasi asam lambung yang terjadi terus-menerus. Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri dan kesulitan menelan.
-
Barrett's esophagus dan kanker kerongkongan, yaitu perubahan sel abnormal pada kerongkongan yang dapat meningkatkan risiko berkembang menjadi kanker kerongkongan.
-
Tukak kerongkongan, yakni peradangan parah yang dapat berkembang menjadi luka terbuka. Luka tersebut dapat mengalami perdarahan dan memicu anemia.
-
Striktur esofagus, yaitu terbentuknya jaringan parut akibat iritasi kronis yang menyebabkan kerongkongan menyempit. Akibatnya, makanan dapat lebih sulit masuk dan penderita mudah tersedak.
-
Kerusakan gigi, karena asam lambung yang naik hingga ke mulut dapat mengikis dan merusak lapisan email gigi.
Kenali Gejala Asam Lambung Naik
Gejala utama asam lambung naik adalah sensasi panas atau terbakar di dada yang sering memburuk setelah makan atau ketika berbaring.
Berikut sejumlah gejala yang umum dirasakan:
-
Heartburn atau sensasi panas dan terbakar di dada, terutama setelah makan atau saat berbaring.
-
Mulut terasa asam atau pahit.
-
Sering bersendawa atau mengalami mual.
-
Batuk kering yang berlangsung terus-menerus.
-
Tenggorokan terasa mengganjal.
Gejala tersebut dapat berbeda pada setiap orang. Karena itu, keluhan yang berulang dan mengganggu sebaiknya tidak diabaikan.
Kenali Faktor Pemicu
Sejumlah kondisi dan kebiasaan dapat memicu atau memperburuk asam lambung naik. Di antaranya:
-
Melemahnya otot LES, yaitu katup otot yang seharusnya menutup saluran antara kerongkongan dan lambung.
-
Pola makan yang buruk, seperti makan berlebihan dalam satu waktu, makan terlalu cepat atau memiliki jadwal makan tidak teratur.
-
Langsung berbaring setelah makan. Sebaiknya beri jeda sekitar 2–3 jam setelah makan sebelum berbaring.
-
Mengonsumsi makanan dan minuman tertentu, seperti makanan berlemak, pedas, asam, cokelat, kopi dan minuman bersoda.
-
Kebiasaan merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol.
-
Kelebihan berat badan atau obesitas, serta kehamilan yang dapat memberikan tekanan lebih besar pada area perut.
-
Stres dan kecemasan berlebihan yang dapat memperburuk keluhan pada sebagian orang.
-
Efek samping obat tertentu, termasuk penggunaan rutin obat pereda nyeri golongan NSAID.
Asam Lambung Berbeda dengan Maag
Hal lain yang perlu dipahami, asam lambung naik berbeda dengan maag.
Maag merupakan istilah yang umum digunakan untuk menggambarkan keluhan pada lambung, termasuk peradangan atau luka pada dinding lambung.
Sementara asam lambung naik merupakan kondisi ketika isi lambung mengalir kembali ke kerongkongan akibat gangguan pada katup bawah kerongkongan.
Karena memiliki penyebab dan mekanisme yang berbeda, keluhan yang dianggap sebagai “maag” belum tentu merupakan asam lambung atau GERD. Pemeriksaan diperlukan apabila gejala berlangsung berulang, semakin berat atau mengganggu aktivitas. (rth)
Editor : Slamet Harmoko