
Salah satu pendiri Anthropic yang juga mantan jurnalis yakni Jack Clark, membawa latar belakang tidak lazim ke perusahaan pengembang kecerdasan buatan (AI).
Ia menempuh studi sastra Inggris dan penulisan, bukan ilmu komputer. Di masa kini, ketika AI mengubah kebutuhan tenaga kerja. Clark menilai pendidikan humaniora justru dapat semakin relevan.
Menurut Clark, pendidikan sastra memberinya bekal untuk memahami sejarah dan cerita yang dibangun manusia tentang masa depan.
"Saya lulusan sastra, dan Anda mungkin tidak akan menempatkan latar belakang itu pada salah satu pendiri perusahaan AI terdepan. Namun, yang ternyata berguna adalah saya belajar banyak tentang sejarah dan tentang berbagai cerita yang kita ceritakan kepada diri sendiri mengenai masa depan,” paparnya dilansir dari Fortune, Senin (21/9/2026).
Clark juga mengatakan pemahaman itu ternyata"sangat relevan bagi AI dengan cara yang menurut saya tidak diperkirakan orang. Dalam ekonomi yang semakin dipengaruhi AI, ia menilai kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat menjadi lebih penting daripada sekadar menguasai pekerjaan teknis rutin.
Dari pengalamannya itu, Clark pun mendorong anak muda mempelajari bidang yang menggabungkan berbagai disiplin. "Hal yang benar-benar penting adalah mengetahui pertanyaan yang tepat untuk diajukan dan memiliki intuisi tentang hal-hal yang akan menarik jika Anda mempertemukan berbagai wawasan dari banyak disiplin ilmu,” paparnya.
Baca Juga: Persahabatan, Sastra, dan Solidaritas yang Melampaui Negara
Ia juga memperingatkan agar mahasiswa tidak berfokus pada "pemrograman rutin."
Sementara itu, Data National Center for Science and Engineering Statistics menunjukkan tenaga kerja STEM Amerika Serikat tumbuh 26 persen dari 2013 hingga 2023, menjadi sekitar 36 juta orang, sementara pekerjaan non-STEM tumbuh 9 persen.
Akan tetapi, kemajuan AI mulai mengubah sebagian asumsi lama. Riset peneliti Anthropic Maxim Massenkoff dan Peter McCrory memperkirakan AI secara teoretis dapat mengambil alih 94 persen tugas di bidang komputer dan matematika, dengan pekerjaan pemrograman termasuk yang paling terekspos. Boris Cherny, pencipta Claude Code, bahkan mengatakan "coding pada dasarnya sudah terpecahkan" dan "kita akan mulai melihat gelar 'software engineer' menghilang."
Di pasar kerja, Clark mengatakan, "Saya melihat potensi pelemahan dalam pekerjaan lulusan baru di beberapa industri.Saya belum melihat hal lain di luar itu, terkait pemutusan kerja akibat AI,” ungkapnya.
Namun, ia memperkirakan teknologi ini akan mengubah bisnis, cara bisnis dijalankan, keamanan nasional, hingga hubungan antarmanusia.
Tekanan itu terasa bagi lulusan baru. Federal Reserve Bank of New York mencatat tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi baru mencapai 5,7 persen pada kuartal pertama 2026, sementara tingkat underemployment mencapai 41,5 persen. Sebagian anak muda merespons pasar kerja yang sulit dengan masuk ke pendidikan vokasi atau memilih beberapa pekerjaan paruh waktu.
Di sisi lain, pandangan Clark mendapat dukungan dari kalangan teknologi dan akademik. Kepala ilmuwan Microsoft Jaime Teevan mengatakan, "Keterampilan metakognitif akan sangat penting, fleksibilitas, kemampuan beradaptasi, bereksperimen, berpikir kritis, dan mampu mempertanyakan sesuatu."
Michael Oakes dari Case Western Reserve University juga menilai, Ketika AI menurunkan hambatan untuk eksekusi teknis, premi pasar kerja bergeser menuju lapisan manusia berupa penalaran kritis yang ketat.
Contohnya mulai terlihat di industri AI. Laboratorium AI Alphabet, DeepMind, telah merekrut sejumlah filsuf untuk menangani persoalan etika AI, sementara Anthropic juga mempekerjakan beberapa filsuf. Bagi Clark, perubahan itu menunjukkan nilai pendidikan yang dulu dianggap jauh dari teknologi sedang bergeser.(mel/can/jpc)
Editor : Agus Jaka Purnama