Radarsampit.jawapos.com - Istilah “orang have” belakangan ini kerap muncul dalam percakapan anak muda dan media sosial. Berasal dari kata bahasa Inggris have yang berarti “memiliki”, istilah ini biasanya digunakan secara santai untuk menyebut seseorang yang dianggap mapan, berkecukupan, atau memiliki kemampuan finansial lebih.
Menariknya, “orang have” tidak selalu digambarkan lewat mobil mewah, pakaian bermerek, atau kebiasaan flexing. Justru, dalam budaya media sosial, istilah tersebut sering dikaitkan dengan gaya hidup sederhana, ketenangan, hingga kemampuan mengelola keuangan.
Lantas, seperti apa karakter yang sering diasosiasikan dengan “orang have”?
1. Tak Selalu Gemar Flexing
Salah satu gambaran yang paling sering muncul adalah seseorang yang tidak merasa perlu memamerkan kekayaannya.
Barang mahal, perjalanan mewah, atau pencapaian finansial tidak selalu diumbar di media sosial. Mereka cenderung menggunakan apa yang dibutuhkan tanpa menjadikan kepemilikan sebagai alat untuk mendapatkan pengakuan.
Namun, tidak berarti setiap orang kaya pasti anti-flexing. Gaya seseorang dalam menampilkan kehidupan sangat dipengaruhi karakter dan lingkungan sosialnya.
2. Elegan dan Mengutamakan Kualitas
“Orang have” juga kerap digambarkan memiliki gaya berpakaian yang sederhana tetapi terlihat rapi. Mereka tidak selalu mengenakan pakaian dengan logo besar atau merek yang mencolok.
Potongan pakaian yang sesuai, bahan berkualitas, serta penampilan yang terawat justru dianggap lebih penting daripada sekadar menunjukkan merek.
Hal serupa terlihat dari kebiasaan merawat diri. Rambut tertata, kulit terawat, pakaian bersih, dan penampilan yang rapi sering diasosiasikan dengan seseorang yang memiliki perhatian terhadap dirinya sendiri.
3. Santai dan Tidak Mudah Panik
Dalam gambaran populer di media sosial, orang yang mapan sering diasosiasikan dengan pembawaan yang tenang. Mereka tidak terlihat tergesa-gesa dan cenderung menghadapi situasi dengan lebih terkendali.
Ketenangan tersebut bukan ukuran kekayaan seseorang. Namun, kemampuan mengelola tekanan dan mengambil keputusan tanpa terburu-buru memang dapat menjadi bagian dari karakter seseorang.
Begitu pula dengan pengendalian emosi. Orang yang mampu menjaga respons ketika menghadapi masalah biasanya dianggap lebih matang secara emosional.
4. Cara Bicara Tidak Perlu Mendominasi
Karakter lain yang sering dilekatkan dengan “orang have” adalah cara berkomunikasi yang tidak berlebihan.
Mereka tidak selalu berusaha mendominasi percakapan, membicarakan pencapaian pribadi, atau membandingkan diri dengan orang lain.
Sebaliknya, kemampuan mendengarkan dan menghargai lawan bicara menjadi bagian dari kesan yang muncul.
Wawasan yang luas juga kerap dianggap sebagai salah satu “aura” orang yang mapan. Percakapan tidak melulu berkisar pada barang yang dimiliki, tetapi bisa berkembang ke pekerjaan, bisnis, pendidikan, perjalanan, budaya, hingga berbagai isu sosial.
5. Keuangan Lebih Terencana
Jika berbicara mengenai kemapanan secara nyata, salah satu aspek yang lebih relevan justru berada di balik layar: pengelolaan keuangan.
Kemampuan menjaga arus kas, mengatur pengeluaran, menyiapkan dana darurat, merencanakan kebutuhan jangka panjang, hingga mengelola investasi dapat menjadi indikator kondisi finansial yang lebih bermakna dibandingkan penampilan.
Orang yang memiliki kemampuan finansial baik juga tidak selalu terlihat kaya. Sebaliknya, seseorang yang gemar membeli barang mahal belum tentu memiliki kondisi keuangan yang sehat.
“Orang Have” dan Bahasa Anak Muda
Popularitas istilah “orang have” menunjukkan bagaimana bahasa terus berubah mengikuti budaya digital. Istilah tersebut terasa lebih ringan dan akrab dibandingkan menyebut seseorang sebagai “orang kaya” atau “orang berada”.
Di media sosial, pencampuran bahasa Indonesia dengan istilah asing juga semakin lazim. Kata have kemudian digunakan bukan dalam struktur bahasa Inggris yang baku, melainkan sebagai bagian dari bahasa gaul untuk menciptakan makna baru.
Pada akhirnya, “orang have” lebih tepat dipahami sebagai istilah populer untuk menggambarkan kesan kemapanan, bukan ukuran pasti kekayaan seseorang.
Sebab, kekayaan tidak selalu terlihat dari pakaian, wajah, cara berjalan, atau seberapa sering seseorang mentraktir teman. Kondisi finansial yang sehat justru lebih banyak ditentukan oleh kemampuan mengelola sumber daya dan membuat keputusan keuangan secara matang. (rth/sla)
Editor : Slamet Harmoko