SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Musim kemarau tahun 2026 diperkirakan berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibandingkan beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut membuat masyarakat diminta lebih waspada terhadap berbagai gangguan kesehatan akibat paparan suhu panas yang berkepanjangan, mulai dari dehidrasi hingga heatstroke.
Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sekitar 72 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Kondisi ini dipengaruhi fenomena El Niño yang menyebabkan curah hujan berkurang dan suhu udara meningkat. Musim kemarau diperkirakan berlangsung bertahap sejak Juli hingga September 2026, dengan puncak kekeringan diprediksi terjadi pada Agustus.
Paparan suhu panas dalam waktu lama dapat meningkatkan suhu tubuh. Secara alami tubuh akan mengeluarkan keringat untuk mendinginkan diri.
Namun, jika paparan panas melebihi batas kemampuan tubuh, kondisi tersebut dapat memicu heatstroke, yang ditandai dengan sakit kepala, kulit memerah, jantung berdebar, hingga penurunan kesadaran.
Selain itu, cuaca panas juga meningkatkan risiko dehidrasi, kulit terbakar akibat sinar matahari, pusing, kelelahan berlebihan, dan mual.
Tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, suhu udara yang tinggi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang. Paparan panas berlebih dapat memicu rasa mudah marah, cemas, gelisah, sulit berkonsentrasi, hingga meningkatkan tingkat stres.
Untuk mengurangi risiko tersebut, masyarakat diimbau menerapkan sejumlah langkah sederhana selama musim kemarau, antara lain:
-
Minum air putih secara cukup dan tidak menunggu hingga merasa haus.
-
Menghindari paparan sinar matahari langsung dengan menggunakan topi, payung, atau pelindung kepala serta memakai masker saat berada di lingkungan berdebu.
-
Menggunakan tabir surya (sunscreen) minimal SPF 30 pada bagian kulit yang tidak tertutup pakaian.
-
Melakukan aktivitas fisik atau olahraga di dalam ruangan atau pada waktu yang tidak terlalu panas guna mengurangi risiko heatstroke dan dehidrasi.
-
Tidak meninggalkan siapa pun, terutama anak-anak maupun lansia, di dalam kendaraan yang sedang terparkir meskipun kaca kendaraan terbuka.
-
Memperbanyak konsumsi buah dan sayuran yang kaya kandungan air, seperti semangka, jeruk, dan mentimun, untuk membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh.
Masyarakat juga disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan saat suhu udara sedang tinggi, terutama pada siang hari. Jika mengalami gejala akibat paparan panas seperti pusing berat, lemas, mual, kulit memerah, atau gangguan kesadaran, segera lakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat agar mendapat penanganan sedini mungkin.
Dengan menerapkan pola hidup sehat dan menjaga kecukupan cairan tubuh, risiko gangguan kesehatan selama musim kemarau dapat diminimalkan sehingga aktivitas sehari-hari tetap berjalan dengan aman dan produktif. (apr/sla)
Editor : Slamet Harmoko