Halte Blok B

Admin • Dipublikasikan Senin, 6 Juli 2026 | 08:00 WIB
Phy adalah bagian dari Semesta. Lirih dan mengalir di ujung Jawa. Seduh dan hirup campuran rempah serta gula batu saat senja, merangkai sebaris kalimat. Selamat menikmati!
Phy adalah bagian dari Semesta. Lirih dan mengalir di ujung Jawa. Seduh dan hirup campuran rempah serta gula batu saat senja, merangkai sebaris kalimat. Selamat menikmati!

Oleh: Phy

Sepertinya ini adalah hujan terderas selama seminggu terakhir. Air bak ditumpahkan begitu saja dari langit. Aku melongok sedikit ke atas di antara gempuran tempias hujan, memastikan langit benar-benar sudah bocor tanpa saringan.

Beberapa kendaraan masih sibuk berlalu lalang diiringi klakson yang tak henti dibunyikan. Rasanya mereka berebut untuk segera sampai rumah, mengganti baju yang basah, menghangatkan badan dengan secangkir teh, dan menghabiskan sore sembari memetik gitar atau membaca novel terjemahan klasik dari penulis populer.

Baca Juga: Manusia dan Alam dalam Cerpen “Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon"

Sebenarnya aku juga ingin seperti itu. Bergegas pulang dan segera mendengkur di kasur. Seharian sungguh penat. Tugas kantor dan beberapa rapat yang isinya menguras isi kepala, membuat otakku tidak bisa lagi ditoleransi dengan hanya sekedar secangkir atau dua cangkir kopi. Tubuhku benar-benar butuh istirahat.

Namun sayang, lima belas menit saat hendak merapikan meja kerja, pesan itu sungguh mengganggu. Pesan yang sebenarnya sudah belasan tahun kutunggu kehadirannya. Pesan dengan isyarat tertentu, memunculkan kode-kode hanya aku dan kamu yang tahu.

Hujan. Jam lima. Halte blok B. Rindu.

Pesan yang sungguh singkat, padat, dan jelas. Bukan untaian kata mutiara atau puisi. Hanya terdiri paling banyak tiga kata di setiap kalimatnya.

Tapi itu sungguh pesan yang membuat perutku tiba-tiba merasa kenyang dan jantungku mendadak berdebar seperti orang kebanyakan minum obat sakit kepala. Hampir overdosis.

 

Seorang gadis berlari menuju halte tempatku berdiri. Dengan membawa tas kecil di punggungnya, ia nampak terburu-buru merangsek mencari perlindungan dari derasnya hujan. Terpaksa aku menggeser sedikit kakiku, memberinya ruang untuk ikut berteduh.

Gadis umur belasan tahun yang masih terlihat ceria. Bagaimana tidak, ia dengan asyiknya menggoyangkan kaki, mengangguk-angguk kecil, yang mungkin saja mengikuti irama lagu di telinganya yang disumpal dengan benda putih kecil dimana kita menyebutnya dengan earphone. Sungguh pemandangan yang kontras denganku.

Sejak sepuluh menit lalu, hatiku tak henti berdegup kencang tak normal, pikiranku memprediksi banyak hal, dan mataku sibuk menelisik orang yang hilir mudik di sekitar sini.

Kuamati dengan jeli semua orang yang datang dan pergi di halte ini. Mulai dari ibu-ibu yang sibuk memainkan gawainya yang kemudian sudah naik taksi, entah tujuan mana. 

Seorang bapak yang sudah berdiri di halte sebelum aku datang dan memutuskan naik ojek pangkalan saat hujan masih deras. Mungkin ada hal mendesak yang menunggunya.

Hanya ada penjual kacang rebus yang setia bersamaku sejak halte ini masih dalam kondisi kering sampai air hampir naik karena got mampet di bawah.

Ia tetap santai dengan siaran radio yang menyiarkan lagu-lagu kenangan era ‘80an. Aku yang pernah tahu lagu-lagu itu dan sedikit hapal, ternyata juga menikmati sajian siaran radio ditemani aroma kacang rebus yang sangat menggoda. Harum semerbak.

Tapi aku tidak ada niat untuk sekedar membeli kacang untuk menghalau gundah. Aku masih bertahan dengan kepanikan dan menikmati rasa deg-degan.

Rasa seperti ini sebenarnya sudah sejak lama kurindukan. Menunggu dan berdebar. Ah, jika dilihat dari ukuran perhitungan kalender, usiaku sudah tidak pantas untuk merasakan sensasi seperti ini.

Tiga puluh tujuh dikurangi dua puluh dua. Ya, aku sudah  mengubur sensasi tak enak makan dan susah tidur selama lima belas tahun.

Tahun pertama di lima belas tahun itu adalah tahun neraka, jika aku boleh menyebutnya. Bagaimana tidak? Aku yang setiap hari dihujani rindu sejak usia tujuh belas, harus rela menebas hati sejak kamu memutuskan untuk berpindah ke lain hati.

Kuakui jika perjalanan lima tahun kita tidak selalu mulus. Seringkali bertengkar mulai dari hanya telat menjemput sampai perihal cemburu buta.

Tapi bukankah itu bumbu dalam perjalanan sebuah hubungan? Toh, dua atau tiga hari kemudian kita kembali saling sapa, tertawa, dan entah bagaimana caranya bisa memaafkan begitu mudahnya.

Ya, di tahun kelima, di ujung perdebatan yang tak ada hentinya, aku telah melakukan kesalahan telak. Aku menghianati kepercayaan lima tahun kita. Aku melakukan kesalahan besar dan entah bagaimana kamu begitu sulit memaafkan, tidak seperti pertengkaran-pertengkaran kita sebelumnya.

Karena aku sudah terbukti berkhianat dan melanggar kesepakatan kita, seharusnya aku bisa berbesar hati menerima semua keputusan.

Tapi hati kecilku sebenarnya berusaha untuk bisa dimaafkan dan setengah memaksamu untuk terus bertahan. Aku bahkan sempat menuduhmu dengan dugaan-dugaan yang tak bermutu, yang sebenarnya itu adalah bentuk pembelaan atas kesalahan terbesarku. 

Apa daya, pelanggaran adalah pelanggaran yang tidak bisa ditolerir meskipun aku sudah telanjur yakin bahwa cintamu seluas langit untuk kembali dirajut bersamaku. Aku terlalu percaya diri saat itu.

Sakit itu semakin menganga setelah tahu begitu mudahnya kamu berlalu dan membuka lembaran baru. Kamu bersikukuh untuk tak lagi menoleh ke belakang, padaku. Kamu terus melaju dengan membawa sebagian besar hatiku. Kamu melesat tanpa sedikit pun merasa bahwa separuh hidupku ikut terhanyut.

Gerobak nasi goreng melintas di depanku. Itu pertanda senja sudah mulai tenggelam berganti langit malam. Nasi goreng memang identik dengan malam dan kehangatan. Entah mengapa, sepiring nasi goreng bisa membawa berbagai bentuk obrolan.

Pantas saja, ia bisa disajikan di tongkrongan hingga restoran mewah. Belum lagi ditambah dengan segelas teh hangat dan kerupuk udang. Jakunku naik turun disertai dengan produksi air liur yang tiba-tiba menyerbu lidah.

Langit yang semula seperti atap bocor sudah berubah menjadi gerimis. Beberapa orang yang tadi berteduh bersamaku sudah hendak bersiap diri untuk melanjutkan perjalanan. Tinggal aku dan penjual kacang rebus yang masih bertahan di halte.

Sudah tiga puluh menit berdiri gelisah, pikiranku sudah mulai mencerna kembali arti logika. Aku sudah mulai kehilangan kepercayaan diri seperti saat usiaku dua puluh dua.

Kurogoh saku dan mengaktifkan gawai yang sejak tadi kuabaikan. Kubuka pesan singkat dari nomor asing yang sore tadi sudah berhasil mengacaukan pikiran dan hatiku.

Hujan. Jam lima. Halte blok B. Rindu.

Kubaca sekali lagi pesan itu. Pelan-pelan aku merangkai pikiran bahwa pesan itu salah kirim. Aku saja yang terlalu terbawa suasana. Bisa jadi pesan itu memang dikirim serentak ke banyak nomor.

Hujan. Jam lima. Halte blok B. Rindu.

Ini memang musim penghujan. Pantas saja jika banyak orang yang terobsesi mengaitkan dirinya dengan cuaca.

Jam lima adalah waktu senggang yang dirasa pas untuk melepas penat. Bisa jadi si pengirim pesan memang ingin pembacanya meluangkan waktu untuk beristirahat.

Halte ini memang terkenal lebih sepi dibanding dengan yang lain. Untuk mengesankan keintiman, halte ini pas untuk dua orang membuat janji. Pengirim pesan ingin menyampaikan bahwa untuk sebuah keakraban butuh tempat yang sesuai.

Rindu. Ini kata umum yang bisa siapa saja mengucapkannya. Aku saja yang terlalu berlebihan menanggapinya.

Apakah clue kita sudah sereceh itu untuk disebarkan dan diketahui oleh banyak orang? Bahkan hanya untuk memporakporandakan perasaanku sore ini? Entahlah. Saatnya aku berbenah dan kembali pulang menginjak tanah.

Sore hari, 16:59, Rindang sawit, 22 September 2022

 

 

Editor : Slamet Harmoko
Cerpen Phy cerpen phy