Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Mengapa Menikah dan Pindah Rumah Dilarang Saat 1 Suro? Begini Penjelasannya dari Sisi Budaya dan Islam

Farid Mahliyannor • Selasa, 16 Juni 2026 | 12:39 WIB
ilustrasi malam 1 suro
ilustrasi malam 1 suro

 

Radarsampit.jawapos.com - Tahun Baru Islam (1 Muharram) secara penanggalan qomariyah bertepatan dengan malam 1 Suro dalam kalender Jawa.

Karena akulturasi budaya yang kuat, masyarakat Muslim di Indonesia, khususnya di tanah Jawa, kerap mengaitkan peringatan ini dengan tradisi prihatin, mawas diri, dan beberapa pantangan adat yang diwariskan turun-temurun.

Secara umum, berikut adalah pantangan atau hal-hal yang dihindari oleh sebagian masyarakat saat menyambut Tahun Baru Islam dan Malam 1 Suro:

Baca Juga: Maling Viral karena Surat Permintaan Maaf Akhirnya Temui Korban, Bawa Anak dan Lunasi Uang Curian

1. Dilarang Mengadakan Hajatan Besar (Pernikahan/Khitanan)

Salah satu pantangan yang paling kuat diyakini adalah tidak menggelar pesta besar seperti pernikahan atau sunatan di bulan Muharram (Suro).

Baca Juga: Bikin Merinding! Biawak Bersembunyi di Kamar Rumah Warga Jalan S Parman Sampit

2. Dilarang Berfoya-foya atau Pesta Pora

Menyambut tahun baru dengan hura-hura, musik keras, atau perilaku konsumtif sangat dihindari. Sebaliknya, umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak amalan ibadah, seperti menghadiri pengajian, membaca doa akhir dan awal tahun, serta melakukan refleksi diri (muhasabah) atas perbuatan di tahun lalu.

Baca Juga: Maling Tinggalkan Surat Permintaan Maaf, Ngaku Mencuri Demi Bayar Sekolah Anak

3. Dilarang Bepergian Jauh Tanpa Urusan Mendesak

Mitos setempat menyebutkan bahwa malam pergantian tahun baru ini rawan akan kesialan atau marabahaya di perjalanan. Secara bijak, larangan ini bermakna agar masyarakat lebih memilih berdiam diri di rumah bersama keluarga, berdzikir, atau menghadiri majelis taklim terdekat alih-alih keluyuran di jalan raya.

 

4. Dilarang Berbicara Kasar, Mengumpat, atau Berbuat Zhalim

Dalam ajaran Islam, Muharram adalah salah satu dari empat Asyhurul Hurum (bulan-bulan yang dimuliakan). Pada bulan-bulan ini, segala bentuk perbuatan dosa dan maksiat, termasuk berbuat zhalim, bertengkar, dan berkata kasar, dosanya akan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Tradisi Jawa mendukung hal ini lewat anjuran Tapa Bisu (menahan lidah dari ucapan buruk).

Baca Juga: Diduga Tak Terima Diputus Cinta, Pemuda Tembak Kepala Mahasiswi dengan Senapan Angin

5. Dilarang Membangun atau Pindah Rumah

Dalam tradisi keraton dan masyarakat Jawa, bulan Suro dihindari untuk membuka lahan baru, membangun fondasi rumah, atau pindah hunian karena dipercaya bisa membawa energi kurang baik bagi penghuninya. Dari sisi praktis, hal ini dilakukan agar fokus masyarakat tidak terpecah ke urusan materialistis keduniawian pada momen yang sakral ini.

Baca Juga: Diduga Tak Terima Diputus Cinta, Pemuda Tembak Kepala Mahasiswi dengan Senapan Angin

6. Menghindari Sikap Angkuh dan Sombong

Tahun baru adalah momentum untuk menyadari kerendahan hati di hadapan Sang Pencipta. Bersikap sombong atau merasa paling benar sangat dilarang karena bertolak belakang dengan esensi hijrah (berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan tawadhu).

Baca Juga: Awal Musim Kemarau, Kebakaran Lahan Muncul di Lingkar Kota Utara

Amalan yang Justru Dianjurkan dalam Islam:

Alih-alih hanya fokus pada larangan mistis, umat Islam diajarkan untuk mengisi bulan Muharram dengan berbagai amalan positif, di antaranya:

Editor : Farid Mahliyannor
#1 muharram #1 suro #budaya #tahun baru islam #tradisi