Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Riset Menunjukkan, Banyak Pekerja Terlihat Sibuk, Namun Hasilnya Tak Sebanding

Agus Jaka Purnama • Kamis, 4 Juni 2026 | 18:43 WIB
Gambaran aktivitas orang berangkat kerja di kota besar, yang nampak sibuk .(ilustrasi AI)
Gambaran aktivitas orang berangkat kerja di kota besar, yang nampak sibuk .(ilustrasi AI)

Banyak orang merasa hidupnya mengalami kemajuan, dengan menjalani jadwal aktivitas yang padat. Dari pagi sampai malam sibuk dengan pekerjaan. Agenda padat, banyak notifikasi maupun interaksi yang masuk, bahkan pikiran terasa penuh.

Namun, sibuk dan banyak pergerakan tidak selalu sama dengan bertumbuh. Bisa jadi hal itu hanya wujud aktivitas tanpa arah.

Penelitian dari Harvard Business Review menunjukkan , banyak orang yang merasa telah bekerja dengan produktif saat sibuk, namun hasil nyatanya tidak sebanding dengan waktu dan tenaga yang dikorbankan.

Tak jarang sebagian besar energi habis untuk reaktif, perpindahan fokus dengan cepat, serta melakukan pekerjaan kecil yang terlihat penting. 

Mari kita dicermati, banyak perubahan justru lahir saat pikiran punya ruang yang tenang. Bukan kosong, tapi jernih. Dari sana biasanya lahir keputusan yang lebih tepat, dan energi lebih terarah.

Perbedaan Sibuk dengan Maju

Sibuk sering hanya karena banyak bergerak. Sedangkan Maju, berarti ada hal yang benar-benar berubah. Dua hal ini mirip di permukaan, tapi hasilnya beda.

Misalnya;  Seharian sibuk membalas pesan, ikut rapat, pindah-pindaj tugas kecil, tapi pekerjaan utama tidak selesai. Hari terasa padat, namun tujuan utama tetap tertunda.

Menyadari kondisi itu, bisa dengan membiasakan bertanya di akhir hari, apa yang benar-benar bergerak hari ini.Apa yang memberikan dampak. Bukan apa yang dikerjakan banyak.

Sisakan Ruang Berpikir

Pikiran yang penuh jarang bisa melihat arah. Lantaran sibuk memadamkan hal kecil, tapi gagal membaca hal besar.

Seperti orang terus bekerja tanpa jeda, tapi tidak pernah mengevaluasi, apakah caranya masih efektif atau hanya mengulang pola lama.

Solusinya bisa dengan meluangkan 10 menit diam tanpa layar, tanpa gangguan. Walaupun jeda itu kecil, namun dibaliknya bisa muncul keputusan yang menyelamatkan banyak waktu.

Hati-hati Merasa Bangga Terlihat Sibuk

Sebaiknya waspada kalau kita merasa bernilai saat terlihat sibuk. Sering orang menganggap kalau santai sebentar berarti malas. Bisa jadi itu asumsi yang sering menipu.

Misalnya, merasa bangga tidur sedikit demi terlihat produktif, padahal kualitas dalam mengambil keputusan bisa menurun, emosi mudah meledak, dan kesalahan kecil makin sering.

Kadang, justru jeda yang terukur membuat langkah berikutnya lebih efektif dan tidak menguras tenaga.

Kurangi Terlalu Reaktif

Energi bisa habis bukan untuk hal penting. Bisa akibat merespons hal yang datang terus-menerus. Pesan-pesam, notifikasi, permintaan kecil, semua disikapi seperti hal mendesak.

Misalnya; Setiap lima menit memoerhatikan ponsel saat menyelesaikan pekerjaan. Fokus pecah berkali-kali. Pekerjaan yang harusnya selesai dua puluh menit, bisa molor jadi dua jam.

Mengurangi sikap reaktif bukan berarti acuh.Sikap itu cara menjaga energi agar tidak bocor ke hal-hal yang ramai, namun tidak penting.

Perhatikan yang Sedikit Namun Berdampak

Tidak semua hal harus ditangani. Banyak kemajuan lahir saat orang berani memilih dua hal penting, lalu mengerjakannya dengan konsisten dan sungguh-sungguh.

Misalnya, daripada mengerjakan lima project kecil,lebih baik selesaikan satu prioritas utama sampai tuntas dan terukur hasilnya.

Memang, fokus sering terasa sempit di awal, tapi justru itu yang membuat energi tidak habis menyebar ke banyak arah tanpa hasil.

Sikap Tenang Bisa Mengurangi Risiko

Banyak kesalahan besar lahir saat keputusan dibuat terburu buru, saat pikiran padat. Sibuk berlebihan bisa membuat  kecerobohan tanpa sadar.

Misalnya;  Melaksanakan pekerjaan dengan lebih cepat karena dikejar waktu. Belakangan sering disadari, ternyata ada detail penting yang terlewatkan.

Pikiran yang tenang bukan lambat. Melainkan memberi ruang untuk memeriksa ulang sebelum melangkah.Hal itu sering menghemat kerugian besar.

Pentingnya Konsistensi, Daripada Ledakan Energi

Produktivitas nyata jarang lahir dari semangat yang meledak sesekali. Ia tumbuh dari ritme stabil yang bisa dijalankan, bahkan ketika sedang biasa-biasa saja.

Misalnya; Belajar tiga puluh menit setiap hari lebih baik, daripada sekali belajar lima jam namun sekali seminggu, sehingga kehilangan ritme.

Dengan menjaga  pola tenang ini, hidup tidak mudah dikendalikan urgensi palsu. Arah lebih terjaga, dan kemajuan lebih memungkinkan bertahan.

Kesimpulannya, banyak orang merasa lelah bukan karena terlalu banyak tanggungjawab, tapi karena energi habis untuk kesibukan yang tidak mengubah apa-apa.

Sering kali, hidup maju bukan saat tangan paling sibuk bekerja, tapi saat pikiran cukup tenang untuk tahu mana yang layak diperjuangkan.

"Yang ramai belum tentu bernilai, yang tenang belum tentu pasif. Perubahan tidak menunggu waktu luang sempurna. Ia dimulai saat orang berani mengurangi kebisingan, memilih yang penting, lalu menjaga ritme dengan sadar.(int/gus)

 

Editor : Agus Jaka Purnama
#sibuk #Harvard #bekerja #pekerja #energi