radarsampit.jawapos.com- Iduladha atau lebaran kurban setiap 10 Dzulhijjah di Indonesia biasanya dimeriahkan dengan fenomena pedagang hewan kurban di pinggir jalan. Selain itu warga nampak sibuk mempersiapkan masakan menu daging kurban, dengan berburu bumbu masakan.
Situasi itu berbeda dengan yang terjadi di Amerika Serikat (AS). Dikutip dari NU Online, bahwa Muslim di Amerika juga turut memeriahkan dan merayakan Iduladha. Namun, perayaan biasanya mengacu pada tradisi subkultur masing-masing etnis atau organisasi.
Iduladha di Amerika bukanlah hari libur nasional. Kegiatan operasional kantor buka seperti biasa di hari tersebut. Namun, di beberapa daerah seperti New York, sekolah tutup pada hari Iduladha.
Jadi jika hari lebaran Iduladha jatuh pada hari biasa atau weekdays, biasanya jamaah datang ke masjid untuk Salat dan kemudian membubarkan diri untuk kembali ke aktivitas masing-masing.
Namun ada beberapa masjid tetap mengadakan jamuan untuk jemaah yang datang selepas salat. Muslim Amerika sering juga menyiasati perayaan Iduladha yang jatuh pada hari kerja dengan mengagendakan kegiatan di akhir pekan.
Misalnya ketika lebaran Iduladha jatuh pas hari kerja karena ada hari tasyrik, jadi perayaannya bisa ditunda, dipaskan di weekend, sehingga nanti di hari Sabtunya diadakan acara, bisa di masjid dan di markas atau Islamic center komunitas Muslim yang bersangkutan. Kemudian untuk open house atau acara mengundang publik, bisa dihadiri councillor (dewan kota).
Namun suasana berbeda ketika Iduladha jatuh pada hari libur. Biasa, perayaan akan berlanjut tepat selepas Salat Iduladha, dengan mengadakan festival dan temu warga Muslim dengan skala dan jangkauan yang lebih luas.
Baca Juga: H-1 Iduladha 2026, Bumbu Masakan Diserbu Pembeli
Sementara itu untuk berkurban, biasanya tradisi berkurban dengan penyembelihan hewan kurban tetap dihidupkan. Namun dengan donasi kurban ke masjid atau ke organisasi Muslim, baik transfer dalam bentuk online atau datang secara person, yang nantinya penyalurannya diperuntukkan bisa untuk keluarga Muslim setempat yang membutuhkan atau biasanya dikirim ke negara-negara Muslim yang membutuhkan dan sedang mengalami krisis.
Terdapat perbedaan tradisi penyembelihan hewan kurban di Amerika dan Indonesia. Jika di Indonesia lazim dilakukan di halaman masjid, sedangkan di Amerika ada beberapa pilihan yang biasa diambil. Pemerintah setempat mengarahkan Muslim untuk melakukan penyembelihan di rumah-rumah penyembelihan resmi dan dilakukan tidak secara mencolok. Seperti datang ke tukang jagal hewan yang punya lisensi dari pemerintah.
Begitu juga tradisi penyembelihan hewan kurban di negara eropa, seperti halnya Swiss. Di negara yang bukan mayoritas muslim itu, penyembelihan hewan kurban secara terbuka dilarang. Hewan yang disembelih pun harus dibius terlebih dahulu.
Sementara itu, ketika merayakan Iduladha dengan komunitas Muslim Indonesia di Swiss, juga disediakan hidangan ala nusantara. Namun tidak ada ketupat maupun opor ayam. Biasanya ditemukan menu seperti pecel sayur, tahu campur, sate padang yang disediakan dengan stand khusus.
Sementar untuk anak-anak, biasanya disediakan nugget, kentang dan chicken wing. Adapun untuk menu penutupnya, biasanya disediakan es cendol dengan kudapan dadar gulung, ketan serundeng, hingga tahu isi.
Lebih ketat lagi di Jerman, Muslim di Jerman harus menyiasati ibadah kurban dengan menyembelih hewan di luar negeri (seperti ke Polandia atau negara mayoritas Muslim). Selain itu biasanya membeli daging di toko halal milik komunitas Turki, atau menyalurkan dana kurban melalui lembaga amal ke tanah air, akibat aturan ketat penyembelihan hewan domestik, yang tidak boleh menggunakan cara tradisional. (nu/int)
.
Editor : Agus Jaka Purnama