Banaspati ternyata "hidup" di berbagai negara belahan Bumi, dengan nama berbeda-beda dengan diiringi tafsir mistik beragam. Namun sebagai fenomena umum, ia dapat dijelaskan secara ilmu pengetahuan ilmiah (Sains).
Mitologi Banaspati lahir dari persilangan mitologi Hindu-Buddha dengan animisme Jawa. Banaspati diidentikkan sebagai sosok Kirtimukha atau Mahakala dari India kuno, monster api yang muncul dari amarah Siwa untuk menelan Rahu. Seturut catatan Sumadi dalam “Various Decorative of Kala as An Ornamental Art Works” (2011), simbol tersebut kemudian diadopsi Majapahit dalam bentuk Kala, wajah raksasa berapi yang dipahat di ambang pintu candi sebagai "penjaga".
Ketika kerajaan Hindu-Buddha meredup dan masyarakat bergeser ke kehidupan agraris, Banaspati masuk ke tradisi lisan. Ia berwujud bola api kecil yang tumbuh dari rasa takut manusia, atau sebagai sosok humanoid berlidah api yang berjalan terbalik. Keduanya menakutkan sekaligus parasitik terhadap emosi.
Dalam kosmologi Jawa, Banaspati dianggap senjata gaib. Banyak yang meyakini, dukun teluh mengikat kontrak dengan hal gaib, lalu mengutus bola api untuk mencabut nyawa targetnya. Sentuhan di atap rumah dianggap pertanda malapetaka, bahkan dorongan gaibnya bisa memaksa manusia melakukan bunuh diri.
Kisah banaspati diperkuat dalam Serat Musarar karya Syekh Subakir, yang menyebutnya sebagai rintangan besar dalam dakwah Islam. Untuk mengatasinya, ia memasang batu hitam yang sudah dirajah, kemudian mengusir kekuatan itu ke hutan lebat dan puncak gunung berapi.
“Awal-mula yang diceritakan, di saat kekosongan tanah Jawa, masih berupa hutan berbahaya, isinya hanya hantu, peri, dan jin, serta segala makhluk halus, seperti dewaraksasa dan banaspati, ilu-ilu serta jerambangan,” tulis ulama asal Persia itu dalam pupuhnya, dikutip oleh kajian Siti Rumilah dan kolega dalam “Islamisasi Tanah Jawa Abad ke-13 M dalam Kitab Musarar Karya Syaikh Subakir” (2019).
Di Thailand, bola api yang melayang pada malam hari justru dipandang sebagai mukjizat religius. Setiap Oktober, ribuan orang berkumpul di tepi Sungai Mekong untuk menyaksikan Bung Fai Paya Anak atau Bola Api Naga.
“Ibu dan ayah saya melihat mereka, serta ibu dan ayah mereka. Dan aku sudah melihat naga juga. Itu seperti ular besar berwarna perak yang berenang menyusuri sungai. Saya melihatnya ketika saya berumur 13 tahun,” ujar Pang Butamee, warga lokal yang tinggal di tepi sungai, kepada Time.
Tepat saat bulan purnama penutup masa Prapaskah Buddha, cahaya merah jambu muncul dari dasar sungai, melesat tegak lurus ke langit tanpa suara atau jejak. Bagi masyarakat setempat, itu adalah persembahan naga suci kepada Sang Buddha.
Baca Juga: Mengenal Super Food Kacang Sacha Inchi untuk Menjaga Kesehatan Tubuh
Sementara di Eropa, fenomena bola api rawa tercatat sejak abad ke-14. Ia hadir dalam literatur Latin dengan nama ignis fatuus'api bodoh' atau 'api palsu'. Di Britania Raya dan Irlandia, ia muncul di rawa gambut berkabut, dibayangkan sebagai peri nakal atau iblis kecil. Nama lokalnya beragam, dari Jack-o’-lantern, friar’s lantern, hingga Hinkypunk.
Cahaya dari api itu kadang menyerupai lentera minyak yang muncul di jalur sepi, menyesatkan pengembara ke tengah rawa hingga lenyap begitu saja. Arsip folklor Irlandia pada 1930-an merekam kesaksian tetua desa tentang cahaya ini.
“Ayahku pernah bercerita kepadaku bahwa ketika ia berusia sekitar empat belas tahun, ia sedang menyeberangi tempat pembakaran kapur di Harristown, dan ia melihat sebuah bola api kecil berwarna merah menggelinding di depannya. Ia berlari mengejarnya, tetapi tidak bisa menangkapnya, karena setiap kali ia berlari, bola itu menggelinding semakin cepat, dan ketika ia berhenti, bola itu juga berhenti.”
Sementara itu, di Jepang, bola api kecil dikenal sebagai api rubah (kitsunebi). Ia sering muncul di pematang sawah. Cahayanya melayang rendah, reaktif, dan segera padam begitu didekati.
Sebagaimana ditulis oleh Michael Dylan Foster, dalam buku The Book of Yokai, Expanded Second Edition: Mysterious Creatures of Japanese Folklore (2015: 228), masyarakat setempat meyakini api rubah dapat mengambil alih tubuh seseorang untuk menyampaikan pesan dari dunia lain atau kadang hanya untuk menyiksa orang tersebut.
Awal Pemahaman secara Sains
Sejarah rasionalisasi bola api rawa dimulai pada akhir abad ke-18, ketika ilmuwan dan penemu baterai asal Italia, Alessandro Volta, sedang mempelajari udara yang mudah terbakar (flammable air) di rawa-rawa dekat Danau Maggiore, Italia. Ia berhasil mengisolasi dan mengidentifikasi metana (CH₄) sebagai gas utama yang keluar dari lumpur rawa.
Volta pun mengajukan hipotesis bahwa "cahaya hantu" di rawa bukanlah roh atau sihir, melainkan hasil interaksi metana rawa dengan listrik alam, seperti petir. Ia mendemonstrasikan bahwa metana bisa dibakar dengan percikan listrik. Hipotesis tersebut didukung oleh ilmuwan lain, seperti Joseph Priestley dan Pierre Bertholon.Pandangannya menantang tafsir mistis dan folklor yang mendominasi saat itu. Ia membuka jalan bagi pemahaman sains baru.
Sejak itu, para ilmuwan dapat memisahkan fenomena tersebut dari anomali lain, seperti nyala plasma listrik di ujung benda tajam saat badai (St. Elmo’s fire), petir bola, atau cahaya (bioluminesensi) serangga. Lalu, lahirlah konsensus yang dikenal sebagai Teori Gas Rawa (marsh gas theory).
Penelitian mutakhir yang terbit di Science Advances (2025) memberikan jawaban saintifik fenomena bola api terbang itu.
Dalam eksperimennya, mereka menemukan bahwa gelembung metana yang naik ke permukaan air atau sedimen rawa dapat saling bertabrakan, bergesekan, lalu memisahkan muatan listrik di permukaan cairan. Ketika dua gelembung dengan polaritas berlawanan bertemu, celah nanometer di antaranya memicu lucutan listrik spontan yang dikenal microlightning.
Kilatan mikro tersebut, meski hanya berlangsung sepersekian nanodetik, cukup kuat untuk melewati ambang energi aktivasi metana. Hasilnya oksidasi spontan terjadi di suhu lingkungan, menghasilkan karbon dioksida dan foton bercahaya biru. Temuan tersebut cukup revolusioner karena membuktikan bahwa bola api bisa lahir tanpa senyawa gas fosfin (PH3), tanpa badai petir, tanpa vulkanisme.
Dengan demikian, mitologi yang dulu menakutkan perlahan patah oleh sains. Bola api rawa bukan hal gaib, melainkan pertunjukan kimia alam yang memantik imajinasi manusia selama berabad-abad.
Psikologi Visual dan Ilusi Gelap
Otak manusia kerap menjadi penyebab lahirnya mitologi. Ilusi Pareidolia pada manusia membuat benda mati sering ditafsirkan sebagai wajah, tubuh, atau sosok gaib. Misalnya pola awan di langit yang sepintas mirip dengan hewan tertentu atau batu raksasa dengan kemiripan sosok yang kita kenal.
Hal itu didukung Fusiform Face Area (FFA), wilayah agresif di dalam otak untuk mengenali pola wajah dengan cepat, misalnya membaca ekspresi seseorang. Studi menunjukkan, saat seseorang melihat pola acak yang mirip wajah, meski tampak hanya dua titik terang sebagai “mata” dan garis sebagai “mulut”), FFA aktif dalam waktu sangat singkat (~165 milidetik), hampir sama cepatnya seperti saat melihat wajah sungguhan.
Karenanya, ketika melihat pijar gas yang berfluktuasi, otak manusia langsung "menangkap"-nya sebagai mata menyala, lidah api, atau gaun berkibar.Ilusi gerak bola api juga lahir dari efek autokinetik. Dalam kegelapan total tanpa latar belakang kontras, mata manusia kehilangan orientasi spasial. Hal itu membuat cahaya statis tampak bergerak, mengejar, atau menghindar.
Titik pijar yang sebenarnya diam seolah menari, melesat, bahkan mendekat dengan kecepatan mengerikan. Otak yang kehilangan patokan ruang menjahit ilusi itu menjadi gerakan nyata, memperkuat keyakinan bahwa cahaya tersebut hidup dan berbahaya.
Bola api yang sebenarnya diam dianggap berburu nyawa. Dan ketika manusia berlari mendekat, gelombang udara dari tubuhnya justru mendorong gas metana menjauh, sehingga tampak seolah cahaya itu melarikan diri.
Persepsi itu diperkuat oleh memori kultural yang sejak kecil menanamkan figur hantu, sihir, naga, pocong, atau arwah penasaran, sehingga cahaya dingin metana berubah menjadi ketakutan. Saat cahaya samar itu muncul di tengah kegelapan, misalnya saat kita tersesat di jalan sepi, otak yang kelelahan dan penuh kecemasan makin mudah terjebak.
Dari situ pula fenomena cahaya alam atau bola api melayang menjelma menjadi mitos gaib menakutkan dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.(tir/net)
Editor : Agus Jaka Purnama