Kabut Asap Bukan Cuma Bikin Sesak, IDI Kotim Ingatkan Ancaman ke Jantung hingga Mental

M. Akbar • Dipublikasikan Minggu, 18 Oktober 2026 | 14:00 WIB
Ketua IDI Kotim, dr. Muhamad Taufiqurrahman, Sp.P, mengimbau warga memantau kualitas udara dan membatasi aktivitas di luar saat polusi meningkat.  (Istimewa)
Ketua IDI Kotim, dr. Muhamad Taufiqurrahman, Sp.P, mengimbau warga memantau kualitas udara dan membatasi aktivitas di luar saat polusi meningkat. (Istimewa)

 

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kabut asap biasanya membuat orang buru-buru mencari masker, menutup pintu dan jendela, lalu berharap hujan segera turun. Masalahnya, urusan asap karhutla ternyata tidak berhenti pada mata perih dan tenggorokan gatal.

Menurut Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kotawaringin Timur (Kotim), paparan asap juga dapat berdampak pada paru-paru, jantung, kehamilan, bahkan kondisi mental masyarakat.

Ketua IDI Kotim, dr. Muhamad Taufiqurrahman, Sp.P, menjelaskan asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, dan berbagai polutan yang dapat masuk ke saluran pernapasan serta memengaruhi kesehatan tubuh.

“Dampak kabut asap tidak hanya berupa gangguan pernapasan. Paparan polutan juga dapat memengaruhi kesehatan jantung dan memperburuk kondisi orang yang sudah memiliki penyakit tertentu,” katanya, Minggu (18/10).

Keluhan yang paling gampang dirasakan tentu saja yang berhubungan dengan pernapasan. Mata bisa teriritasi, tenggorokan terasa tidak nyaman, batuk muncul, bahkan sesak napas. Paparan asap juga dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan memperburuk penyakit seperti asma serta gangguan paru lainnya.

Masalahnya ada pada PM2.5. Partikel berukuran sangat kecil ini dapat menembus jauh ke dalam paru-paru. Polusi udara juga berpotensi memengaruhi sistem kardiovaskular, terutama bagi orang yang sebelumnya sudah memiliki penyakit jantung atau kondisi kesehatan tertentu.

Jadi, kalau selama ini kabut asap dianggap sebatas perkara “hari ini napas agak berat”, urusannya ternyata tidak sesederhana itu.

Kelompok tertentu memiliki risiko lebih besar ketika kualitas udara memburuk. Anak-anak termasuk di antaranya karena sistem pernapasan dan kekebalan tubuh mereka masih berkembang.

Paparan asap dapat menyebabkan iritasi mata dan saluran pernapasan, memicu serangan asma, hingga memperburuk penyakit paru yang sudah diderita.

Ibu hamil juga perlu mendapat perhatian. Menurut Taufiqurrahman, paparan polusi udara dikaitkan dengan peningkatan risiko berat badan lahir rendah dan kelahiran prematur. Karbon monoksida dalam kadar berbahaya juga dapat mengurangi pasokan oksigen bagi janin.

“Anak-anak dan ibu hamil termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk. Karena itu, paparan asap perlu dikurangi, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu,” terangnya.

Bukan cuma paru-paru yang bisa protes. Hidung dan tenggorokan juga dapat ikut terganggu. Hidung tersumbat, bersin berulang, dan keluarnya cairan hidung yang jernih bisa muncul akibat paparan asap. Kondisi tersebut juga dapat memperburuk rinitis alergi maupun nonalergi.

Asap Bisa Bikin Pikiran Ikut Pengap

Ada satu dampak lain yang mungkin tidak langsung terlihat: kesehatan mental.

Kabut asap yang berlangsung lama membuat aktivitas di luar rumah terbatas. Kekhawatiran terhadap kesehatan keluarga bertambah, rutinitas sehari-hari terganggu, dan pada akhirnya kondisi tersebut dapat memicu stres, kecemasan, kelelahan, hingga kepanikan.

“Ketika kabut asap berlangsung lama, dampaknya juga bisa dirasakan pada kondisi psikologis masyarakat. Kekhawatiran terhadap kesehatan keluarga dan terganggunya aktivitas sehari-hari dapat menimbulkan stres serta kecemasan,” ujarnya.

Karena itu, masyarakat dianjurkan tetap menjaga rutinitas, mencukupi waktu istirahat, dan tidak memendam kekhawatiran sendirian. Berbagi cerita dengan keluarga atau orang yang dipercaya juga bisa dilakukan. Dukungan emosional dari lingkungan sekitar menjadi penting ketika kondisi kabut asap berlangsung berkepanjangan.

Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat diimbau memantau kondisi udara dan membatasi aktivitas di luar ruangan.

Jika memang harus keluar rumah, penggunaan masker respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang dengan baik dapat membantu mengurangi paparan partikel halus.

Di dalam rumah pun bukan berarti otomatis bebas asap. Taufiqurrahman menyarankan pintu dan jendela ditutup ketika asap sedang pekat. Sumber polusi tambahan di dalam rumah juga perlu dihindari. Jika tersedia, penyaring udara dengan filter HEPA dapat digunakan.

“Warga juga perlu menjaga kualitas udara di dalam rumah dengan menutup pintu dan jendela saat asap pekat, menghindari sumber polusi tambahan di dalam ruangan, serta menggunakan penyaring udara dengan filter HEPA jika tersedia,” ungkapnya.

Orang tua yang memiliki anak dengan penyakit kronis juga perlu memastikan obat rutin tetap tersedia dan digunakan sesuai petunjuk tenaga kesehatan.

Dan satu hal yang jangan ditunda: jika muncul sesak napas berat atau gejala kesehatan semakin memburuk, masyarakat diminta segera mencari pertolongan medis.

Sebab, menghadapi kabut asap bukan cuma perkara menunggu hujan. Pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat perlu sama-sama mengurangi paparan dan melindungi mereka yang paling rentan.

Sementara bagi masyarakat, setidaknya ada satu hal yang bisa dilakukan sekarang: jangan menganggap enteng udara yang sedang dihirup hanya karena asapnya sudah terasa biasa. (ktr-2)

Editor : Slamet Harmoko
IDI Kotim paparan asap kotim kabut asap karhutla