Warga Kelompok Rentan Harus Berjuang Bernapas di Tengah Kabut Asap

Dodi Abdul Qadir • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:46 WIB
Eka, seorang ibu hamil di Palangka Raya, yang terpaksa ke rumah oksigen lantaran sesak nafas dan batuk-batuk setelah terpapar kabut asap.(istimewa)
Eka, seorang ibu hamil di Palangka Raya, yang terpaksa ke rumah oksigen lantaran sesak nafas dan batuk-batuk setelah terpapar kabut asap.(istimewa)

PALANGKA RAYA,radarsampit.jawapos.com- Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menyelimuti Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Kondisi udara sangat berbahaya membuat masyarakat kian terdesak. Ancaman gangguan pernapasan menghantui warga, terutama bayi, anak-anak, ibu hamil, dan lanjut usia.

Dalam situasi kabut asap tebal, kualitas udara di Palangka Raya masuk kategori membahayakan, yakni 1.418,3 µg/m3. Angka itu melampaui ambang batas aman kesehatan (sebagai perbandingan, batas aman harian PM2.5 menurut WHO hanyalah 15 µg/m³).

Situasi ini memicu kekhawatiran. Di tengah paparan asap yang berkepanjangan, warga mempertanyakan langkah penanganan yang lebih serius untuk melindungi keselamatan mereka.

Salah seorang warga Palangka Raya, Eka Kumala Sari, mengaku cemas menghadapi kondisi tersebut. Terlebih, dia sedang hamil besar dan harus berjuang menjaga kesehatan dirinya sekaligus janin yang dikandungnya.

“Sekarang Kalimantan dilanda kabut asap berbulan-bulan, sudah banyak yang kena ISPA. Bayi-bayi, ibu hamil, lansia, bahkan orang rentan sekalipun sekarang tidak bisa berbuat banyak untuk menghadapi situasi ini,” ujarnya.

Eka mengungkapkan, kondisi udara yang semakin buruk membuatnya merasa terdesak. Menurut dia, masyarakat membutuhkan penanganan nyata agar tidak terus-menerus terpapar asap yang mengancam kesehatan.

Baca Juga: Kabut Asap Mengancam Pernapasan, PSC 119 dan Rumah Oksigen di Kotim Siaga 24 Jam

“Udara sudah sangat berbahaya, dihirup sesak. Tidak dihirup meninggal. Lalu harus bagaimana? Apa tunggu banyak korban baru tanggap darurat nasional? Kami mulai lelah, tapi kami akan buktikan bahwa kami tidak akan menyerah. Jika tidak ada yang menolong kami, Tuhan akan bantu kami,” ungkapnya.

Eka mengaku belum lama ini terpaksa mendatangi rumah oksigen karena mengalami sesak napas dan kesulitan bernapas.

 “Aku dan janinku bertahan mati-matian di tengah kabut asap ini. Batuk, pilek, sakit kepala, sesak napas berulang membuat ingin berteriak dan menyerah. Aku kuat, janinku kuat, kami bisa. Tuhan beserta kami,” paparnya.

Disisi lain, upaya penanganan karhutla terus dilakukan jajaran Polda Kalimantan Tengah. Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan mengintensifkan patroli darat untuk mengecek langsung penanganan kebakaran di sejumlah titik rawan.

Salah satu lokasi yang menjadi sasaran pengecekan adalah kawasan Jalan Mahir Mahar, jalur Trans Palangka Raya–Banjarmasin.

Kabidhumas Polda Kalteng Kombes Pol Budi Rachmat mengatakan, di lokasi tersebut, Kapolda memeriksa optimalisasi sumur bor dan penggunaan cairan X-Fire, sekaligus mengecek titik panas atau hotspot yang dinilai berpotensi masih menyimpan bara api.

“Patroli darat harus terus diintensifkan, jangan hanya mengandalkan pantauan udara. Setiap ada hotspot, personel wajib cepat datang ke TKP, lakukan pemadaman dan pasang police line untuk kepentingan Gakkum,” pungkasnya.

Budi menambahkan, Kapolda juga berdialog dengan personel di lapangan untuk memberikan motivasi agar penanganan karhutla dilakukan secara maksimal. (daq/gus)

 

Editor : Agus Jaka Purnama
gangguan pernapasan oksigen ibu hamil kabut asap warga