SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Rabu (14/10/2026). Kondisinya dirasakan semakin pekat saat siang hari. Berdasarkan pengamatan BMKG Kotim, jarak pandang di Sampit hanya 100 meter pada pukul 10.00 hingga 11.00 WIB.
“Pokoknya enggak tahan lagi kalau beraktivitas di luar ruangan. Makin siang makin pekat,” ungkap Nanang, warga Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.
Menurut Nanang, pola kabut asap dalam beberapa hari terakhir cenderung serupa. Asap bertahan hampir sepanjang hari, sementara pada malam hari kondisinya terlihat menipis. Namun, belakangan warna asap tampak semakin menguning dan membuat suasana siang terasa seperti senja.
“Beberapa hari terakhir polanya seperti itu, namun tampaknya makin parah. Sudah menguning, siang seperti senja,” tambahnya.
Data BMKG Kotim mencatat, pada pukul 10.00 WIB jarak pandang di Sampit berada pada angka 100 meter. Saat itu, suhu udara tercatat 28,3 derajat Celsius, kelembapan 62 persen, dengan angin bertiup dari timur pada kecepatan 8 kilometer per jam.
Satu jam kemudian, jarak pandang masih bertahan di angka 100 meter. Suhu meningkat menjadi 30,1 derajat Celsius, sedangkan kelembapan turun menjadi 57 persen. Angin bertiup dari arah timur dengan kecepatan 6 kilometer per jam.
Rendahnya jarak pandang menjadi perhatian karena dapat mengganggu aktivitas masyarakat, terutama pengguna jalan dan transportasi. Pengendara perlu lebih berhati-hati ketika melintas di tengah kabut asap, khususnya jika pandangan ke depan terbatas.
Kabut asap ini terjadi di tengah rangkaian kebakaran hutan dan lahan di Kotim. Namun, tingkat kepekatan asap yang dirasakan warga belum dapat dikaitkan langsung dengan titik kebakaran tertentu tanpa data pendukung mengenai sebaran asap dan kondisi atmosfer.
Dengan jarak pandang yang hanya 100 meter selama dua jam pengamatan, kondisi udara di Sampit masih memerlukan perhatian. Warga yang beraktivitas di luar ruangan diimbau mengurangi paparan asap sebisa mungkin dan menggunakan pelindung pernapasan yang sesuai. (oes)
Editor : Slamet Harmoko