DAD Kotim Kritik Kunjungan Menhut: Jangan Hanya Numpang Tidur di Sampit

Rado. • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:28 WIB
Pengamanan tempat menginap Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni di Sampit, Kabupaten Kotim.  (Akbar/Radar Sampit)
Pengamanan tempat menginap Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni di Sampit, Kabupaten Kotim. (Akbar/Radar Sampit)

 

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Ketua Harian Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Gahara, menyesalkan tertundanya kunjungan Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni ke kawasan karhutla di Kotawaringin Timur.

Ia bahkan menyindir kunjungan tersebut terkesan hanya numpang tidur, tanpa membawa solusi yang sangat dibutuhkan daerah.

Gahara menilai, kehadiran seorang menteri di tengah kondisi darurat semestinya membawa solusi konkret, bukan sekadar singgah lalu pergi. Apalagi, Kotim masih menghadapi keterbatasan dalam penanganan karhutla yang mengharuskan petugas bekerja siang dan malam.

“DAD sangat menyesalkan sikap Menhut. Di tengah kondisi karhutla seperti sekarang, datang ke Sampit hanya numpang tidur, lalu pergi lagi. Padahal, kami berharap kedatangannya membawa kabar baik dan bala bantuan untuk Kotim,” tegas Gahara.

Ia menilai, sikap tersebut menjadi gambaran minimnya perhatian pemerintah pusat terhadap Kotim, bahkan Kalimantan Tengah (Kalteng). Menurutnya, daerah yang sedang menghadapi persoalan serius seharusnya mendapat perhatian dan dukungan nyata dari kementerian terkait.

“Jakarta melihat kita ini seperti remah-remah. Makanya saya selalu katakan, kita orang Dayak ini eksistensinya diakui, tetapi tidak dengan hak-hak yang harus dipenuhi negara. Kita bisa lihat saat kebakaran sekarang ini. Salah satunya, kita bisa nilai sendiri,” ujarnya.

Gahara menegaskan, persoalan karhutla di Kotim cukup kompleks dan seharusnya dipahami Menhut. Ia mencontohkan kebakaran di wilayah Kandan dan Camba. Sebagian lokasi kebakaran tidak jauh dari sumber air, tetapi fasilitas untuk mendukung pemadaman masih kurang.

Kondisi itu, menurutnya, menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan tenaga petugas. Pemerintah juga perlu memastikan ketersediaan sarana dan prasarana agar sumber air yang ada bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk memadamkan api.

“Persoalan kita ini kompleks. Di Kandan dan Camba, sebagian objek kebakaran tidak jauh dari sumber air, tetapi fasilitas kita kurang. Hal-hal seperti ini seharusnya dilihat dan dipahami oleh menteri, sehingga ada solusi nyata,” katanya.

Ia mengungkapkan, kemampuan daerah saat ini sudah sangat terbatas. Petugas tetap bekerja siang dan malam, tetapi upaya tersebut membutuhkan dukungan tambahan dari pemerintah pusat.

“Kalau boleh saya katakan, kita ini sebenarnya sudah tidak mampu. Cuma karena dipaksa-paksa saja, akhirnya tetap bekerja siang malam. Kalau kita hanya menunggu hujan datang, sama saja kita pasrah,” tegasnya.

Bagi Gahara, kunjungan Menhut semestinya menjadi kesempatan untuk melihat langsung kondisi lapangan sekaligus memastikan bantuan yang diperlukan segera diberikan. Ia menyayangkan jika kehadiran pejabat pusat tidak menghasilkan tindak lanjut yang dapat dirasakan daerah.

DAD Kotim pun mendesak agar pemerintah pusat tidak sekadar hadir secara simbolis ketika daerah menghadapi bencana. Gahara menegaskan, Kotim tidak membutuhkan kunjungan yang hanya berakhir dengan kepulangan menteri, tetapi membutuhkan perhatian, bantuan, dan tindakan nyata untuk mengatasi karhutla. (ang)

Editor : Slamet Harmoko
Numpang Tidur karhutla kotim Menhut DAD Kotim raja juli antoni