Pengendara Keluhkan Debu dan Waktu Tempuh Akibat Pengalihan Jalan Tjilik Riwut

M. Akbar • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 08:38 WIB
Jalan Jaksa Agung Soeprapto masih dalam kondisi agregat yang dikeluhkan pengendara yang melintas jalur alternatif tersebut.  (Akbar/Radar Sampit)
Jalan Jaksa Agung Soeprapto masih dalam kondisi agregat yang dikeluhkan pengendara yang melintas jalur alternatif tersebut. (Akbar/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com  - Pengalihan arus lalu lintas di Jalan Tjilik Riwut, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), membuat perjalanan pengguna jalan menjadi lebih lama. Selain harus menempuh jalur memutar, kondisi jalan alternatif yang masih berupa agregat juga menimbulkan debu, terutama saat lalu lintas padat.

Salah seorang pengendara yang melintas, Dayat, menyambut baik pengalihan arus tersebut karena berkaitan dengan kepentingan daerah. Namun, ia berharap pemerintah memperhatikan kondisi jalur alternatif agar tetap nyaman dan aman dilalui masyarakat.

“Saya menyambut baik. Kalau untuk kepentingan daerah, ya kita mendukung. Namun, tentu ada dampaknya terhadap perjalanan karena jalur alternatif yang dilalui memutar sehingga waktu tempuh menjadi lebih lama,” kata Dayat, Sabtu (10/10).

Ia mengaku telah mencoba kedua jalur alternatif yang disediakan, yakni melalui Jalan Jaksa Agung Soeprapto dan akses menuju Desa Bengkirai. Menurutnya, jalur Jalan Jaksa Agung Soeprapto sebagian besar sudah beraspal, tetapi masih terdapat beberapa ratus meter jalan yang berupa agregat.

Kondisi jalan tersebut menimbulkan debu yang cukup tebal, terutama ketika kendaraan melintas dalam jumlah banyak. Hal ini menjadi perhatian bagi pengendara sepeda motor yang harus melewati jalur tersebut setiap hari.

“Di bagian jalan yang masih agregat, debunya lumayan tebal, apalagi kalau lalu lintas padat. Mungkin ke depannya pemerintah perlu lebih sering menyiram jalan tersebut untuk mengurangi debu,” ujarnya.

Sementara itu, jalur alternatif melalui Desa Bengkirai dinilai lebih dekat dibandingkan melalui Jalan Jaksa Agung Soeprapto. Kondisi lalu lintas di jalur tersebut juga relatif lebih sepi. Namun, sebagian jalan masih berupa agregat sehingga membutuhkan perhatian lebih lanjut.

Disisi lain, warga Desa Bengkirai, Ohor, menyambut positif pemanfaatan jalan di wilayahnya sebagai jalur alternatif. Ia berharap kebijakan tersebut dapat mendorong peningkatan infrastruktur, terutama pengaspalan jalan dan pemasangan penerangan jalan umum (PJU).

Menurut Ohor, sebelum digunakan sebagai jalur alternatif, kondisi jalan di wilayahnya rusak dan bergelombang. Setelah dialihkan menjadi jalur lalu lintas, pemerintah mulai melakukan perbaikan dengan menambahkan material agregat.

“Kami berharap rambu-rambu petunjuk arah ditambah agar pengguna jalan yang belum mengenal wilayah ini tidak tersesat,” ujarnya.

Diketahui, Pemerintah Kabupaten Kotim melakukan uji coba penutupan Jalan Tjilik Riwut di ujung landasan pacu Bandara Haji Asan Sampit mulai Kamis (8/10) hingga Minggu (11/10). Kebijakan ini berkaitan dengan pembangunan pagar Runway End Safety Area (RESA) di kawasan bandara.

Selama masa uji coba, pengalihan arus lalu lintas diberlakukan setiap hari pukul 08.00 hingga 11.00 WIB. Dinas Perhubungan Kotim juga menempatkan petugas di sejumlah titik untuk membantu mengarahkan pengguna jalan sebelum pemerintah daerah menentukan pelaksanaan penutupan secara permanen.  (ktr-2)

Editor : Slamet Harmoko
jalan berdebu jalan alternatif Jalan Tjilik Riwut