Derita Novita dan Bara, Dua Orangutan yang Nyaris Kehilangan Nyawa saat Terjebak Karhutla

Koko Sulistyo • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 19:57 WIB
Pertolongan darurat kepada dua Orangutan yakni Novita 4 tahun, dan Bara 22 tahun, setelah berhasil diselamatkan dari dua lokasi kebakaran lahan, di Palangka Raya dan di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).(istimewa/BKSDA)
Pertolongan darurat kepada dua Orangutan yakni Novita 4 tahun, dan Bara 22 tahun, setelah berhasil diselamatkan dari dua lokasi kebakaran lahan, di Palangka Raya dan di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).(istimewa/BKSDA)

PALANGKA RAYA-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah tak hanya melahap vegetasi dan merusak habitat. Satwa liar langka dan dilindungi yang tak punya pilihan untuk menyelamatkan diri juga menjadi korban.

Seperti dialami dua Orangutan, yang diberi nama Novita dan Bara. Keduanya berhasil dievakuasi dari kawasan terdampak karhutla, dengan keadaan terluka bakar pada telapak tangan dan kaki.

Nasib Novita paling memilukan. Anak orangutan betina berusia sekitar 4 tahun itu mengalami luka bakar serius setelah diduga melintasi lahan yang terbakar untuk mencari tempat yang aman. Luka yang dideritanya begitu parah hingga beberapa jarinya terpaksa diamputasi.

Novita ditemukan bertahan di atas sebuah pohon sengon di Desa Katune, Kelurahan Banturung, Kecamatan Bukit Batu, Palangka Raya, pada 25 September 2026. Kawasan di sekitar pohon tempatnya bertahan telah terbakar selama tiga hingga empat hari.

Di tengah kepungan api, Novita berusaha bertahan hidup. Namun, upayanya menyelamatkan diri justru membuat telapak tangan dan kedua kakinya terbakar. Satwa yang semestinya masih berada dalam asuhan induknya itu, kini menjalani perawatan intensif di Pusat Rehabilitasi Orangutan Yayasan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) di Nyaru Menteng.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah Andi Muhammad Kadhafi mengatakan, Novita berhasil diselamatkan berkat laporan warga bernama Dodi yang melihat keberadaan anak orangutan tersebut di atas pohon sengon, dekat perkebunan kelapa sawit milik warga.

Evakuasi melibatkan BKSDA Kalteng, Yayasan BOS, TNI AD, dan warga. Setelah berhasil dikeluarkan dari kawasan bekas kebakaran, Novita langsung mendapatkan penanganan medis.

Baca Juga: Puluhan Orangutan Jalani Terapi Nebulizer karena Menderita ISPA

“Novita saat ini masih mendapatkan perawatan dan pemantauan intensif di Pusat Rehabilitasi Orangutan Yayasan BOS di Nyaru Menteng,” ujar Kadhafi, Kamis (8/10).

Menurutnya kondisi Novita masih membutuhkan perhatian serius. Tim terus memantau perkembangan luka pada tangan dan kakinya untuk menentukan tindakan medis berikutnya.

“Kami tentu berharap Novita dapat melewati masa kritis ini, pulih secara bertahap, dan mendapatkan kualitas perawatan yang terbaik. Namun, proses pemulihan membutuhkan waktu dan perkembangan, kondisinya perlu kami lihat dari hari ke hari,” papar Kadhafi.

Dokter Hewan BOSF Agus Fahroni juga menerangkan, kondisi Novita saat pertama kali diselamatkan cukup berat. Luka bakar diperkirakan mencapai 14,5 persen dari bagian tubuhnya. Luka pada tangan masuk kategori derajat dua dan tiga, sedangkan luka pada kedua kaki lebih parah, mencapai derajat empat.

Kerusakan jaringan pada kaki bahkan telah menembus kulit hingga otot dan tulang. Kondisi itu membuat sejumlah jari Novita tidak mungkin dipertahankan.

“Di kaki sudah sampai ke tulang. Jaringan kulit sampai jaringan otot mati, sehingga beberapa jari tidak bisa diselamatkan dan harus diamputasi,” terang Agus.

Dengan kehilangan beberapa jari menjadi tantangan tersendiri bagi Novita. Sebagai Orangutan liar, kemampuan menggenggam, memanjat pohon, dan mencari makanan merupakan bagian penting untuk bertahan hidup di habitat alaminya.

Meski demikian, tim medis masih melihat peluang bagi Novita untuk kembali menjalani kehidupan di alam liar. Proses pemulihan akan dilakukan bertahap sebelum kemampuan fisiknya dievaluasi.

Ketua Pengurus Yayasan BOS Jamartin Sihite juga mengungkapkan, pihaknya telah menyelamatkan dua orangutan selama periode karhutla. Namun, kondisi Novita menjadi salah satu yang paling bera,t karena ditemukan di kawasan terdampak kebakaran dengan luka bakar serius.

“Telapak tangan dan telapak kakinya mengalami luka bakar yang diperkirakan terjadi saat Novita melewati area yang terbakar ketika berusaha menuju pohon,” ungkapnya.

Baca Juga: Karhutla Jalan Lintas Kotawaringin Lama Ancam Ratusan Orangutan

Pemulihannya pun diperkirakan membutuhkan waktu dua hingga tiga bulan, bergantung pada perkembangan kondisi medisnya. Setelah luka sembuh, tim akan menilai kemampuan Novita untuk bergerak, memanjat, dan bertahan di lingkungan alami.

“Kami masih berharap Novita dapat kembali ke hutan sebagai Orangutan liar. Setelah kondisi Novita membaik dan luka bakarnya tertangani, kami akan melanjutkan prosesnya ke tahap rehabilitasi,” tegas Jamartin.

Menurut dia, kehilangan beberapa jari tidak otomatis menghapus peluang orangutan untuk kembali ke habitatnya. BOSF memiliki pengalaman melepasliarkan orangutan dewasa yang kehilangan beberapa jari, tetapi tetap mampu bertahan hidup di hutan.

Terpisah, penderitaan akibat Karhutla juga dialami dialami Bara, Orangutan jantan dewasa berusia sekitar 22 tahun dengan berat badan 56 kilogram. Ia ditemukan di lokasi dengan koordinat -2.662517, 111.609619, kawasan Kilometer 8 Mendawai Seberang, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), saat kebakaran lahan mengancam habitatnya.

Penyelamatannya dilakukan oleh tim gabungan, dari Wildlife Rescue Unit (WRU) Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Pangkalan Bun, BKSDA Kalteng, bersama Orangutan Foundation UK (OF-UK), Jumat (9/10).

Proses evakuasi berlangsung intensif. Setelah ditembak dengan peluru bius, Bara jatuh tepat ke jaring yang telah disiapkan tim penyelamat. Petugas kemudian mengamankan satwa langka tersebut untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis.

Kepala Seksi KSDA Wilayah II Pangkalan Bun Handi Nasoka mengungkapkan, saat ditemukan, Bara mengalami luka pada telapak tangan dan kaki, dan dibawa ke Kantor SKW II Pangkalan Bun untuk mendapatkan perawatan darurat.

Tim medis melakukan penanganan terhadap luka-lukanya sekaligus memantau kondisi fisiknya, setelah terdampak kebakaran dan kabut asap.

Handi mengatakan, Bara masih berada dalam pengawasan petugas. Rencananya, orangutan jantan tersebut akan dipindahkan ke Suaka Margasatwa Lamandau untuk penanganan dan tindak lanjut konservasi.“Rencana siang ini (red: kemarin) akan kami translokasi ke Suaka Margasatwa Lamandau,” ujarnya.

Penyelamatan  dua Orangutan bernama Novita dan Bara itu,  memperlihatkan dampak karhutla tidak hanya pada hangusnya pepohonan dan hilangnya tutupan hutan. Di balik kawasan yang terbakar, ada satwa liar dilindingi yang berjuang menyelamatkan diri, dan harus mengalami luka parah, serta kehilangan kemampuan fisik yang penting untuk bertahan hidup.

Bagi Novita, perjuangan itu bahkan harus dibayar dengan kehilangan beberapa jari saat usianya masih sekitar empat tahun. Sementara Bara harus menjalani perawatan intensif setelah ditemukan terluka di tengah ancaman api.

Keduanya kini bergantung pada penanganan manusia untuk melewati masa pemulihan, sebelum peluang kembali ke habitat alaminya dapat ditentukan.(daq/tyo/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
terdampak karhutla Orangutan bksda evakuasi satwa liar