Jalan Bengkirai Jadi Jalur Alternatif Setelah Tjilik Riwut Ditutup, Pengendara Malah Dihujani Debu

Rado. • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 19:06 WIB
ALTERNATIF: Kondisi jalur alternatif yang bisa dilalui warga saat uji coba penutupan Jalan Tjilik Riwut menuju bandara H. Asan Sampit. (Abdy/Radar Sampit)
ALTERNATIF: Kondisi jalur alternatif yang bisa dilalui warga saat uji coba penutupan Jalan Tjilik Riwut menuju bandara H. Asan Sampit. (Abdy/Radar Sampit)

 
SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Pengalihan arus lalu lintas di Jalan Tjilik Riwut untuk pengembangan Bandara Haji Asan Sampit menyisakan persoalan bagi pengendara. Jalan Bengkirai yang menjadi salah satu jalur alternatif justru dikeluhkan karena masih berupa agregat, berdebu, dan dinilai membahayakan pengendara roda dua.

Bagi pengendara yang setiap hari melintas, Jalan Bengkirai sebenarnya menjadi pilihan paling masuk akal. Jaraknya lebih dekat dibandingkan harus memutar melalui Jalan Jaksa Agung Soeprapto. Namun, kondisi jalan yang belum beraspal membuat perjalanan tak nyaman.

“Jalan Bengkirai itu ternyata masih agregat dan rawan membahayakan kami sebagai pengguna jalan,” kata Dewi, pengendara yang setiap hari pulang pergi Sampit-Kota Besi.

Dewi mengatakan, banyak pengendara sepeda motor memilih jalur tersebut karena lebih dekat, menghemat bahan bakar, dan memangkas waktu perjalanan. Karena itu, dia berharap pemerintah tidak sekadar menyiapkan jalur alternatif, tetapi juga memastikan kondisinya layak dilalui.

“Kami berharap paling tidak sudah diaspal dan nyaman dilalui. Banyak pengendara, khususnya roda dua, memilih Jalan Bengkirai karena lebih hemat minyak dan jarak tempuhnya lebih dekat,” ujarnya.

Keluhan lebih keras disampaikan Dodi. Dia mengaku sudah dua kali melintasi Jalan Bengkirai dan merasakan langsung debu yang beterbangan di sepanjang perjalanan.

Bahkan, saat berkendara beriringan dengan sepeda motor lain, debu menempel hingga memenuhi pakaiannya. “Ya, seperti jalan di sawitan, berdebu sekali,” katanya.

Menurut Dodi, pengaspalan perlu menjadi perhatian agar jalur yang digunakan masyarakat tersebut tidak terus menimbulkan ketidaknyamanan.
“Harapan kami bisa diaspal juga. Paling tidak tidak berdebu kalau seperti saat ini,” tegasnya.

Keluhan pengendara ini muncul saat Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menguji coba penutupan dan pengalihan arus di Jalan Tjilik Riwut pada 8-11 Oktober 2026.

Uji coba berlangsung pukul 08.30 hingga 11.00 WIB setiap hari sebagai bagian dari persiapan pengembangan Bandara Haji Asan Sampit.

Kepala Dinas Perhubungan Kotim Raihansyah mengatakan, penutupan jalan berkaitan dengan pengembangan area landasan pacu. Pekerjaan pembangunan pagar di sisi runway akan dilanjutkan dengan pemotongan atau cutting Jalan Tjilik Riwut dan pembangunan pondasi.

“Kami atas nama Pemkab memohon maaf atas ketidaknyamanan kepada masyarakat akibat penutupan jalan di sekitar runway Bandara Haji Asan Sampit,” kata Raihansyah, Kamis (8/10).

Pemerintah juga menyiapkan Jalan Jaksa Agung Soeprapto sebagai jalur alternatif. Namun, hasil pemantauan menunjukkan masih ada sekitar 800 meter ruas jalan yang membutuhkan pengaspalan, terutama di bagian ujung tikungan.

Raihansyah mengatakan evaluasi pengalihan arus dilakukan setiap hari untuk melihat kekurangan rambu dan rekayasa lalu lintas. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi bahan pertimbangan sebelum penutupan total Jalan Tjilik Riwut dilakukan.

“Setelah hari ini sampai dengan rencana kami sampai Minggu nanti, setiap hari akan kami adakan evaluasi. Kekurangan yang ditemukan akan menjadi bahan keputusan untuk melakukan penutupan total,” ujarnya.

Dia menegaskan, penutupan Jalan Tjilik Riwut merupakan bagian dari rencana pengembangan Bandara Haji Asan Sampit. Pada 2026, pemerintah mendapat alokasi anggaran APBN untuk pembangunan pagar bandara.

Namun, bagi pengguna jalan, kelancaran proyek bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Kelayakan jalur alternatif juga menjadi kebutuhan mendesak, terutama bagi pengendara roda dua yang setiap hari harus melintasi jalan berdebu tersebut. (ang)

Editor : Slamet Harmoko
Penutupan jalan Tjilik Riwut Jalan Bengkirai debu Jalan Tjilik Riwut