Puluhan Orangutan Jalani Terapi Nebulizer karena Menderita ISPA

Dodi Abdul Qadir • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 10:33 WIB
Orangutan yang mengalami ISPA menjalani terapi nebulizer untuk membantu mengatasi gangguan pernapasan. (ist)
Orangutan yang mengalami ISPA menjalani terapi nebulizer untuk membantu mengatasi gangguan pernapasan. (ist)

  

PALANGKA RAYA, radarsampit.jawapos.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah tidak hanya mengancam manusia, tetapi juga satwa liar. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah mencatat sedikitnya 48 satwa liar telah dievakuasi karena terdampak karhutla. Sebanyak 25 di antaranya merupakan orangutan.

Kepala BKSDA Kalimantan Tengah Andi Muhammad Kadhafi mengatakan, selain orangutan, satwa yang dievakuasi antara lain trenggiling dan kukang. Satwa-satwa tersebut terdampak karhutla, baik akibat kebakaran secara langsung maupun paparan asap.

"Kalau dampak karhutla, total satwa liar yang di-rescue ada 48, yakni 25 orangutan dan lainnya trenggiling, kukang. Dari 25 orangutan itu terdampak karhutla, baik kebakarannya maupun asapnya," kata Kadhafi, Kamis (8/10/2026).

Menurut Kadhafi, sebagian satwa berupaya menyelamatkan diri dari kawasan yang terdampak kebakaran. Temuan satwa terdampak antara lain berada di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, dan Seruyan.

BKSDA Kalteng bersama sejumlah pihak terus melakukan pemantauan dan pencarian terhadap satwa liar yang kemungkinan masih terdampak karhutla. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan satwa liar yang terdampak kebakaran maupun asap.

"Kami terus bersinergi dengan para pihak, mencoba mencari satwa liar terdampak. Kami harapkan laporan masyarakat," ujarnya.

Selain satwa liar yang terdampak langsung, asap karhutla juga memengaruhi orangutan di kawasan konservasi. Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) mencatat 47 orangutan mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat paparan asap.

Ketua Pengurus Yayasan BOS Jamartin Sihite mengatakan, orangutan yang mengalami ISPA masih mendapatkan penanganan. Sejumlah di antaranya telah diberikan terapi menggunakan nebulizer untuk membantu mengatasi gangguan pernapasan.

"Di kandang, tempat kami yang sudah terkena ISPA ada 47 orangutan. Beberapa di antaranya sudah diberikan nebulizer, sehingga kondisi asap tidak terlalu berpengaruh. Kami berharap kondisi ini tidak berlangsung lama," kata Jamartin.

Menurut Jamartin, kawasan konservasi saat ini relatif aman dari ancaman api. Namun, asap masih menjadi persoalan karena terbawa hingga ke area kandang orangutan.

"Kondisi sekarang menantang. Aman dari api, tetapi tidak aman dari asap," ujarnya.

Untuk mengurangi dampak paparan asap, pengelola memasang sistem penyemprot air atau sprinkler di atas kandang. Penyemprotan tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi kabut asap di sekitar kandang.

Orangutan yang mengalami gangguan pernapasan juga mendapatkan penanganan sesuai kondisinya. Jamartin memastikan tidak ada orangutan yang berada dalam kondisi kritis akibat ISPA.

"Dari 47 itu, diberikan nebulizer dan tidak ada yang sekarat," tegasnya.

Dokter Hewan BOSF Agus Fahroni mengatakan, gangguan pernapasan akibat paparan asap pada orangutan memiliki gejala yang tidak jauh berbeda dengan manusia, seperti batuk dan tenggorokan terasa gatal.

"Gejalanya seperti batuk dan tenggorokan gatal. Hampir sama dengan manusia," kata Agus.

Penanganan dilakukan melalui pemberian obat herbal dan vitamin serta memastikan asupan air minum orangutan tetap tercukupi. Meski kondisi puluhan orangutan tersebut belum menimbulkan dampak berat, paparan asap dalam waktu lama tetap berisiko terhadap kesehatan satwa.

Agus menjelaskan, paparan asap secara terus-menerus dapat mengganggu sistem pernapasan dan berpotensi berkembang menjadi gangguan pernapasan kronis jika tidak ditangani dengan baik.

"Dampak jangka panjang bisa mengalami kasus pernapasan kronis dengan masa lama. Kondisi berat bisa saja menuju kematian jika tidak ditangani," jelasnya.

Menurut Agus, asap yang terus-menerus terhirup juga dapat menyebabkan kerusakan paru-paru. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sistem pernapasan merupakan bagian vital bagi kelangsungan hidup orangutan.

"Karena menghirup asap, pencemaran udara bisa menyebabkan kerusakan paru-paru dan jika itu terjadi bisa menyebabkan kematian," tandasnya. (daq/yit)

 

Editor : Heru Prayitno
Orangutan kalteng karhutla