Koordinator Lapangan Satgas Penanggulangan Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan angka tersebut merupakan data kejadian yang dapat ditangani Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) maupun Satgas Penanggulangan Karhutla Kotim. Namun, data tersebut masih berpotensi berbeda dengan kondisi riil di lapangan.
“Data tersebut berdasarkan kejadian karhutla yang dapat ditangani oleh BPBD maupun Satgas Penanggulangan Karhutla Kotim,” kata Rihel, Kamis (8/10).
Menurutnya, sejumlah lokasi yang tidak tertangani maupun mendapat bantuan pemadaman melalui helikopter water bombing belum seluruhnya masuk dalam data tersebut. Karena itu, kondisi riil karhutla di lapangan berpotensi lebih luas dibandingkan angka yang tercatat.
Status tanggap darurat karhutla sendiri telah ditetapkan sejak 30 Juli 2026. Memasuki awal Oktober, kondisi karhutla masih belum menunjukkan penurunan signifikan karena kebakaran masih terjadi di sejumlah wilayah dan kabut asap cukup tebal.
Rihel menyebut peningkatan kejadian karhutla mulai signifikan sejak memasuki musim kemarau pada akhir Juli. Kondisi tersebut sejalan dengan meningkatnya jumlah titik panas (hotspot) yang terpantau di wilayah Kotim.
Pada Januari tercatat 121 titik hotspot, Februari dua titik, Maret 39 titik, April 22 titik, Mei sembilan titik, dan Juni 34 titik. Jumlah tersebut meningkat menjadi 290 titik pada Juli, kemudian melonjak menjadi 14.529 titik pada Agustus dan 23.686 titik pada September. Sementara hingga 6 Oktober tercatat 2.377 titik.
Kebakaran masih terjadi di sejumlah wilayah, antara lain sebagian kawasan perkotaan, Kecamatan Seranau, Pulau Hanaut, Mentaya Hilir Utara, dan Teluk Sampit. Sebagian lokasi berada jauh dari akses jalan sehingga menyulitkan petugas melakukan pemadaman.
“Di Kecamatan Seranau, misalnya, petugas harus berjalan kaki sekitar 4-7 kilometer untuk mencapai lokasi kebakaran. Armada pemadam tidak dapat menjangkau titik api secara langsung, sementara sumber air di sekitar lokasi juga relatif sulit diperoleh,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan tenaga dan waktu lebih besar. Kesulitan semakin bertambah karena sebagian lahan yang terbakar merupakan lahan gambut yang membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar agar api benar-benar padam dan tidak kembali menyala.
“Kami harus berjalan kaki cukup jauh, bahkan 4-7 kilometer. Sumber air juga sulit sehingga harus menggunakan embung portabel, sedangkan peralatan pemadaman harus dipikul sambil berjalan,” tambah Rihel.
Ia menjelaskan, berdasarkan pengalaman di lapangan, pemadaman lahan gambut membutuhkan sekitar 390 liter air untuk setiap satu meter kubik lahan yang terbakar. Kondisi kekeringan turut memengaruhi efektivitas pemadaman di lapangan.
Di sisi lain, dukungan helikopter water bombing belum dapat dimaksimalkan. Helikopter masih disiagakan di Bandara Haji Asan Sampit, tetapi kabut asap menyebabkan jarak pandang belum memenuhi persyaratan keselamatan penerbangan.
Menurut Rihel, helikopter membutuhkan jarak pandang sekitar 4.500-5.000 meter. Sementara jarak pandang di lapangan saat ini rata-rata masih berada di bawah 1.000 meter.
“Kalau visibility di bawah itu, mereka tidak mau terbang karena risikonya besar. Sungai atau sumber air juga sulit terlihat jika jarak pandang tidak mendukung,” jelasnya.
Meski demikian, setiap pagi sekitar pukul 08.00 WIB dilakukan rapat untuk menentukan kemungkinan pengerahan helikopter. Helikopter akan diterbangkan apabila kondisi jarak pandang dinilai memenuhi persyaratan keselamatan.
Untuk kejadian harian, jumlah titik kebakaran masih berkisar 18-20 titik dan pada kondisi tertentu dapat mencapai 30 titik per hari. Namun, tidak seluruhnya merupakan kebakaran baru. Sebagian merupakan titik lama yang kembali merembet, sebagian masih dalam proses pendinginan, dan sebagian lainnya masih menyala.
“Sebagian memang lokasi lama yang kemudian merembet, ada yang sedang pendinginan tetapi masih terdeteksi, dan sebagian lainnya memang masih menyala,” ucapnya.
Rihel menambahkan, sebagian besar luasan kebakaran harian relatif kecil, rata-rata kurang dari satu hektare. Namun, terdapat sejumlah lokasi yang luas kebakarannya belum dapat dipastikan, termasuk di Kecamatan Seranau karena kondisi medan dan kabut asap menyulitkan pemetaan menggunakan drone.
Ancaman karhutla diperkirakan masih berlangsung hingga musim hujan datang secara bertahap. Berdasarkan prakiraan BMKG, wilayah utara Kotim mulai memasuki musim hujan pada dasarian kedua Oktober atau sekitar 11 Oktober, tetapi intensitas hujan diperkirakan masih rendah atau di bawah normal.
Sementara wilayah tengah diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada dasarian ketiga Oktober dan wilayah selatan pada dasarian pertama November. Kondisi tersebut membuat potensi karhutla masih tetap tinggi sebelum hujan turun secara merata di seluruh wilayah Kotim. (ktr-2)
Editor : Slamet Harmoko